Tekno / Sains
Kamis, 04 November 2021 | 08:16 WIB
Ilustrasi hujan meteor (Shutterstock).

3. Hujan meteor Taurid Utara

Hujan meteor Taurid Utara. [In the Sky]

Hujan meteor Taurid Utara telah aktif sejak 20 Oktober dan terus berlangsung hingga 10 Desember.
Namun, hujan meteor ini akan mencapai puncaknya pada 12 November.

Selama periode tersebut, pengamat memiliki peluang melihat meteor Taurid Utara di konstelasi Taurus.

Pada puncaknya, pengamat mulai dapat melihat hujan meteor sekitar pukul 18:28 WIB, ketika titik pancarannnya naik di atas ufuk timur dan akan tetap aktif hingga fajar menyingsing sekitar pukul 05:03 WIB.

Pancuran tersebut kemungkinan akan menghasilkan tampilan terbaiknya pada sekitar pukul 00:00 WIB, saat titik pancarannya paling tinggi di langit.

Diperkirakan pengamat bisa mengamati sekitar lima meteor per jam.

Namun, intensitas pancaran ini berlaku jika langit lokasi pengamatan sangat gelap dan bebas dari polusi cahaya.

4. Hujan meteor Leonid

Hujan meteor Leonid akan aktif mulai 6-30 November 2021. Namun, hujan meteor ini akan menghasilkan tingkat puncak meteor pada 17 November mendatang.

Baca Juga: Minggu Ini Puncak Hujan Meteor Orionid, tapi Bisa Mengecewakan

Sesuai namanya, pengamat bisa melihat pancaran meteor Leonid dari konstelasi Leo.

Hujan meteor Leonid. [In the Sky]

Pengamat dapat mulai mengamati hujan meteor pada sekitar pukul 00:24 WIB, ketika titik pancarannya naik di atas ufuk timur.

Kemudian akan tetap aktif hingga fajar menyingsing sekitar pukul 05:04 WIB.

Titik pancaran memuncak setelah fajar, sekitar pukul 06:00 WIB, sehingga hujan meteor kemungkinan akan menghasilkan tampilan terbaiknya sesaat sebelum fajar, ketika titik pancarannya paling tinggi.

Diprediksi pengamat dapat melihat sekitar 12-15 meteor per jam jika melakukan pengamatan di lokasi yang sangat gelap dan bebas polusi cahaya.

5. Gerhana Bulan Parsial

Gerhana Bulan parsial akan terjadi pada 19 November 2021 dan Indonesia akan menjadi salah satu wilayah yang dapat mengamati fenomena tersebut.

Saat gerhana Bulan parsial terjadi, hanya sebagian wajah Bulan yang tertutupi bayangan Bumi, sehingga tidak akan muncul warna kemerahan. Sebaliknya, Bulan akan tampak seperti tergigit.

Meski begitu, diprediksi gerhana Bulan parsial ini akan menutupi sekitar 97 persen dari permukaan Bulan.

Gerhana Bulan parsial akan dapat diamati mulai sekitar pukul 13:03 WIB (15.02 WIT/14.02 WITA). Sayangnya, hari masih siang di Indonesia sehingga pengamat tidak dapat mengamatinya.

Namun, puncak Gerhana Bulan parsial akan terjadi pada 16.02 WIB (18.02 WIT/17.02 WITA).

Gerhana Bulan Parsial. [Shutterstock]

Pada saat ini, pengamat yang tinggal di Indonesia bagian timur dapat mulai melihat Gerhana Bulan parsial.

Gerhana Bulan parsial akan berakhir sekitar pukul 17.47 WIB (19.47 WIT/18.47 WITA), di mana pengamat yang tinggal di Indonesia bagian tengah bisa melihat Bulan rendah di langit timur.

Gerhana akan benar-benar berakhir sekitar pukul 18.03 WIB (21.03 WIT/19.03 WITA).

Secara keseluruhan, gerhana Bulan parsial akan terjadi selama 6 jam 2 menit.

Selain di Indonesia, gerhana Bulan parsial ini juga dapat diamati di Oseania, Amerika, Asia Timur, dan Eropa Utara.

Load More