Tekno / Internet
Selasa, 05 April 2022 | 22:28 WIB
Finfluencer sedang naik daun dengan jumlah pengikut jutaan di media sosial. Tetapi apakah nasehat keuangan mereka bisa dipercaya atau malah menyesatkan? Foto: Ilustrasi uang kertas (unsplash.com/@alexandermils)

Aktivitas Musk di Twitter juga sangat berperan dalam menggenjot harga mata uang kripto merek Dogecoin, dan membuat Bitcoin naik turun secara drastis.

Selebritas media sosial yang baik dapat membangun audiensi melalui saran keuangan yang matang. Sayangnya, beberapa dari mereka melontarkan klaim keuangan yang sensasional, menjanjikan imbal hasil besar bahkan mengiklankan produk abal-abal.

Saran keuangan yang diregulasi

Komisi Investasi dan Surat Berharga Australia (ASIC) mengatakan bahwa komplain terkait saran keuangan yang tidak berlisensi, termasuk melalui media sosial, telah meningkat sejak Maret 2020 – awal dari pandemi COVID-19. Lembaga tersebut menyatakan kekhawatirannya terkait nasihat tak berlisensi tersebut karena para konsumen tidak memiliki perlindungan legal yang memadai.

Di berbagai negara, ada hukum yang mengatur pihak-pihak yang menjalankan bisnis nasihat keuangan. Penasihat keuangan wajib memiliki lisensi. Di Australia, mengaku sebagai penasihat keuangan tanpa lisensi dapat dihukum dengan denda hingga AU$ 133.200 (lebih dari Rp 1,4 milyar) dan pidana penjara sampai lima tahun.

Untuk memenuhi syarat lisensi, penasihat keuangan wajib menyelesaikan serangkaian kelas dan juga lolos ujian, termasuk yang berkaitan dengan etika.

Sementara, untuk menjadi seorang finfluencer, tidak ada satu pun prasyarat. Paling pol, kreator hanya dibatasi aturan umum yang melarang klaim yang tidak benar atau menyesatkan, panduan platform, atau rambu-rambu pemasaran yang mewajibkan adanya pengungkapan untuk kerja sama yang berbayar.

Layaknya teman di bar?

Meski demikian, pemerintah Australia telah mengindikasikan bahwa mereka tidak merasa perlu untuk meregulasi finfluencer dengan lebih ketat.

Baca Juga: Terungkap Cara Licik Indra Kenz Sembunyikan Aset di Luar Negeri, PPATK Bergerak Cepat

Tahun lalu, menteri yang membawahi bidang layanan keuangan dan ekonomi digital, Jane Hume mengatakan kemunculan finfluencer merupakan bagian tak terelakkan dalam suatu ekosistem keuangan.

Kata Hume, "seorang influencer TikTok yang membedah secara keuangan tentang perusahaan seperti Nokia, sebenarnya tidak jauh berbeda dari orang atau teman di suatu bar yang dengan bersemangat menceritakan tentang investasi saham yang baru saja ia lakukan – bedanya, para finfluencer punya suara yang lebih besar."

“Beberapa informasi di forum daring memang buruk,” katanya, “tapi beberapa yang lain itu baik, dan banyak yang akan membantu generasi muda untuk bisa mengakses investasi dan layanan finansial.”

Pernyataan di atas sebenarnya terlalu menyederhanakan persoalan, dan agak aneh keluar dari mulut seorang menteri yang membawahi urusan ekonomi digital.

Seseorang yang pamer di bar atau kafe, misalnya, tidak mendapat uang dari cerita-ceritanya. Sebaliknya, para finfluencer mendapat pemasukan dari nasihat yang mereka berikan.

Ini terlihat di Youtube. Jika finfluencer bisa menarik banyak penonton, mereka bisa mendapat uang dari iklan, afiliasi, konten berbayar, dan penjualan pernak-pernik dari merek tertentu. Mereka bisa mengambil keuntungan dengan mempromosikan saham yang mereka miliki, atau dibayar untuk mempromosikan produk keuangan tertentu.

Tiga tips untuk menilai finfluencer

Tentu saja tidak semua finfluencer melakukan hal-hal tidak etis. Nasihat mereka, seperti tips dari Queenie Tan tentang cara menabung yang baik, bisa jadi masuk akal. Mereka juga tidak mungkin jadi populer jika tidak ada permintaan dari masyarakat untuk informasi keuangan yang mudah diakses dan terjangkau.

Jadi, berikut tiga tips dari saya bagi kalian para pencinta konten #fintok untuk menilai kredibilitas dari para finfluencer dan nasihat keuangan yang mereka berikan.

Pertama, jangan langsung berasumsi bahwa orang dengan jumlah pengikut yang besar otomatis punya nasihat keuangan yang bagus. Popularitas tidak sama dengan kredibilitas.

Cek dulu latar belakang dan kualifikasi pendidikan mereka. Memang tidak butuh suatu gelar akademik untuk bisa kaya, tapi harusnya ada bukti lain yang membuat mereka layak diikuti.

Kedua, mari berpikir, kenapa para finfluencer membagikan rahasia-rahasia mereka kepada kita secara gratis? Filsuf Cina yang ternama, Lao-Tzu mengatakan: “Mereka yang tahu, tidak akan memberi tahu”. Entah pada abad ke-6 saat ia hidup maupun di era sekarang, ungkapan ini sangat tepat.

Jika seorang finfluencer benar-benar punya strategi canggih untuk mengalahkan pasar, mengapa mereka malah berbicara di media sosial dan membeberkannya ke banyak orang? Siapa pun yang gencar mempromosikan suatu saham, produk, atau strategi keuangan layak untuk dipertanyakan motifnya terlebih dahulu.

Ketiga, berhati-hatilah dengan siapa pun yang menawarkan skema-skema “cara cepat jadi kaya”. Ya, memang memungkinkan bagi seseorang untuk meraup untung besar dari suatu investasi. Namun, kisah fantastis semacam itu jarang terjadi.

Jika ada finfluencer yang mengajak kita untuk meniru rahasia sukses mereka, kemungkinan besar mereka tidak memberitahu secara lengkap berbagai hal di baliknya – kecuali mereka juga mengajak kita untuk turut jadi seorang finfluencer.

Load More