Suara.com - Kelompok peretas yang menggunakan Ransomware LockBit menyerang sistem IT PT Bank Syariah Indonesia (BSI). Mereka kemudian meminta uang tebusan agar ancaman itu tak direalisasikan dengan tenggat waktu sejak 15 Mei 2023 sampai 16 Mei 2023.
Namun, pihak BSI tidak memenuhi negosiasi tersebut hingga data nasabah mereka disebarluaskan ke Dark Web. LockBit sendiri mengaku sudah memiliki 15 juta data dari BSI milik nasabah dan karyawan.
Ransomware LockBit mungkin terdengar asing bagi kebanyakan orang. Namun, nama ini sudah sangat dikenal dalam dunia peretasan data. Korban-korbannya bahkan datang dari berbagai perusahaan ternama.
LockBit sendiri merupakan nama kelompok peretas, sementara ransomware adalah media atau perangkat yang memfasilitasi aksi mereka.
Mengenal Ransomware LockBit dan Bahayanya
Ransomware LockBit merupakan perangkat lunak yang dipakai untuk menyerang dengan target umum sebuah perusahaan atau organisasi. Aksi ini biasanya ditandai oleh ancaman, seperti gangguan operasi yang mendadak terhenti, pemerasan, serta pencurian data dan publikasi ilegal apabila korban tidak menuruti kemauan peretas.
Sebelumnya, LockBit dikenal dengan nama Ransomware ABCD. Perangkat ini kemudian telah berkembang menjadi ancaman yang bisa dibilang unik dalam dunia peretasan.
LockBit juga disebut-sebut sebagai virus kripto, karena menciptakan permintaan tebusan sebagai imbalan. Serangan menggunakan alat ini berawal dari September 2019.
Saat itu, namanya masih ABCD yang mengacu pada ekstensi file yang dipakai untuk enkripsi data milik korban. Target terbesar tersebar di wilayah Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Ukraina, China, India, hingga Indonesia.
Baca Juga: Kelompok Ransomware LockBit Sebar 1,5 TB Data Karyawan dan Nasabah BSI
Sistem kerja alat ini adalah target yang merasa terhalang oleh gangguan yang dikirimkan peretas, bersedia untuk menukarnya dengan uang agar bisa dibebaskan.
Perusahaan yang seringkali menjadi korban LockBit yakni lembaga kesehatan hingga lembaga keuangan, tak terkecuali bank. Sementara dana tebusan yang disetor korban, akan dibagi untuk para peretas dan tim pengembang LockBit sekitar tiga per empat dari total keseluruhan.
Frekuensi serangan ransomware sendiri terus meningkat setiap tahunnya. Grup mereka ini bahkan memecahkan rekor sebagai yang paling aktif sepanjang tahun 2023 dengan lebih dari 300 korban. Diantaranya, perusahaan CRM, Atento, yang kehilangan dana sebesar US$ 42,1 juta dan tempat milik Elon Musk, SpaceX yang turut merugi karena Ransomware Lockbit. Dengan kata lain, perangkat tersebut sangat berbahaya bagi finansial sebuah perusahaan.
Versi yang sebelum menyerang BSI, yaitu LockBit 2.0, diperkenalkan pada Juni 2021 lalu dengan mengirimkan serangan ke perusahaan-perusahaan di Inggris, Taiwan, dan Chili. Perangkat ini kemudian di-upgrade dan mulai dipublikasikan setahun setelahnya.
Program terbarunya yakni bug bounty yang bisa memberikan insentif kepada peneliti saat membagikan laporan bug. Tak hanya itu, versi 3.0 juga meliputi pembayaran melalui Zcash serta menciptakan taktik pemerasan baru seperti, eksekusi tanpa kata sandi atau password.
Kontributor : Xandra Junia Indriasti
Tag
Berita Terkait
-
Kelompok Ransomware LockBit Sebar 1,5 TB Data Karyawan dan Nasabah BSI
-
8 Tugas dan Wewenang BSSN, Ikut Tanggung Jawab Aksi Ransomware LockBit Curi Data BSI?
-
Lockbit Retas Data BSI, Bagaimana Nasib Nasabah?
-
LockBit Akui Jadi Dalang Serangan Ransomware Bank Syariah Indonesia (BSI)
-
BSSN Minta BSI Terbuka kepada Nasabah soal Peretasan, Bisa Disanksi
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
Terkini
-
Makin Canggih tapi Jangan Terlalu Percaya, 92 Ribu Serangan Menyamar sebagai Layanan AI
-
Sidang Febrie Adriansyah: Ahli UGM Sebut Trading in Influence Belum Bisa Jadi Pasal Dakwaan
-
Saksi Lihat Kepulan Asap Saat Pesawat Sukhoi Keluar Jalur, Nyaris ke Jalan Raya
-
4 Mesin Cuci Hemat Listrik Terbaik: Watt Kecil, Fitur Canggih
-
Ulasan Novel False Beat, Kisah Manajer Amatir dan Vokalis Band Berwajah Dua
-
Bukan Adegan Film! Aksi Spiderman Lompat dan Hantam Jake Lang Pelaku Pembakar Al Quran
-
Gaji PPPK Guru Bakal Dibayar Pusat, Bagaimana Nasib Nakes?
-
Bongkar Aktor Intelektual Karhutla, DPR Desak Audit Korporasi Pelaku Pembakaran Hutan
-
RAPBN 2027: Defisit Anggaran Turun, Tapi Pemerintah Tarik Utang Baru Rp 876 Triliun
-
Asap di Udara Kita, Uangnya di Bank Mereka: Hipokrasi Kebakaran Kalimantan