Meski begitu, katai cokelat masih bisa menjalankan fusi deuterium, yaitu bentuk hidrogen berat yang lebih mudah melebur. Energi dari reaksi ini membuatnya bersinar untuk sementara waktu.
Namun, jumlah deuterium sangat terbatas, sehingga setelah habis, katai cokelat kehilangan sumber energinya, berhenti bersinar, dan mulai mendingin serta meredup.
Ketika katai cokelat sudah tidak memancarkan panas dan cahaya, ia mulai menyerupai planet gas raksasa, mirip dengan Jupiter. Artinya, dalam siklus kehidupannya, katai cokelat bisa berubah menjadi planet!
Mengapa Katai Cokelat Sulit Ditemukan?
Hingga saat ini, para astronom baru menemukan sekitar 3.000 katai cokelat di seluruh alam semesta. Ini karena setelah kehilangan energinya, katai cokelat tidak lagi memancarkan cahaya, sehingga sangat sulit dideteksi menggunakan teleskop konvensional.
Namun, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa jumlah katai cokelat di alam semesta bisa setara dengan jumlah bintang biasa. Bahkan, beberapa teori menyebutkan bahwa katai cokelat mungkin memiliki peran dalam misteri materi gelap, salah satu teka-teki terbesar dalam dunia astronomi.
Jadi, apakah bintang bisa berubah menjadi planet? Jawabannya adalah ya, tapi hanya untuk katai cokelat.
Katai cokelat adalah objek unik di alam semesta yang berada di antara kategori bintang dan planet. Ia awalnya bersinar seperti bintang, tetapi akhirnya kehilangan energinya dan berubah menjadi objek mirip planet.
Fenomena ini membuktikan betapa dinamisnya alam semesta, di mana bahkan bintang yang gagal pun bisa menemukan "takdir" baru sebagai planet!
Baca Juga: Mengapa Bintang Berkelap-kelip Namun Planet Tidak?
Kontributor : Pasha Aiga Wilkins
Berita Terkait
-
Mengapa Bintang Berkelap-kelip Namun Planet Tidak?
-
Bertabur Planet, 5 Fenomena Langit Bisa Dilihat Mata Telanjang Sepanjang Januari 2025
-
NASA Temukan Planet Lebih Besar dari Bumi dengan Gas yang Diduga Hanya Diproduksi oleh Kehidupan
-
Apakah Ada Planet yang Lebih Layak Dihuni Daripada Bumi?
-
Ilmuwan Temukan Bukti 'Garis Pantai Samudra' di Mars, Indikasi Kehidupan di Planet Merah
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
Terkini
-
Daftar Harga OPPO Find X9 Ultra dan Find X9s, HP Flagship Kamera Hasselblad Terbaru
-
6 Tablet Terlaris dan Paling Dicari di Indonesia 2026: Harga Mulai 1 Jutaan, Performa Jempolan
-
Asus ROG Zephyrus G14 Resmi Masuk Indonesia, Laptop Gaming Tipis dengan RTX 5070 dan AI Canggih
-
Smart Lock Ezviz Terbaru Resmi Meluncur, Bisa Buka Pintu Pakai Wajah dan Telapak Tangan
-
Harga iPhone Terbaru Akhir Mei 2026 Naik: Seri Pro Makin Mahal, iPhone 16e Malah Turun
-
8 Rekomendasi HP 5G Murah Harga Rp3 Jutaan dengan Kamera Bagus, Lancar Main Game
-
Siapa Orang Indonesia yang Diduga Palsukan Riset di Denmark? Begini Klarifikasinya
-
Rincian Fitur Oppo Enco Air 5s, TWS Ringan dengan ANC Tahan Lama
-
Viral Orang Indonesia Diduga Palsukan Riset di Konferensi Internasional, Tuai Hujatan
-
Usung Baterai Jumbo dan Layar 3.000 Nits, Honor Watch 6 Plus Tahan 35 Hari