Tekno / Sains
Jum'at, 18 Juli 2025 | 20:07 WIB
Ilustrasi: Masyarakat di Pulau Sapuka, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan meraih pencapaian yang luar biasa. Mereka berhasil memproduksi garam secara mandiri [SuaraSulsel.id/Dokumentasi Yayasan Romang Celebes Indonesia]

- Produksi Garam Berkualitas

Air laut dialirkan ke lahan penggaraman seperti biasa, namun dengan proses yang lebih terkontrol.

- Budidaya Rumput Laut

Di area yang sama, dibudidayakan rumput laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi, memanfaatkan air laut yang kaya nutrisi.

- Desalinasi Air Bersih

Sebagian air laut dialihkan ke unit desalinasi. Dengan energi dari panel surya, proses ini mengubah air asin menjadi air bersih yang layak minum.

Hasilnya? Dari satu sumber (air laut dan matahari), petani kini bisa memanen empat produk sekaligus: garam, rumput laut, air bersih, dan listrik.

Dampak Langsung: Dari Riset Menjadi Rupiah

Inovasi ini bukan lagi sekadar prototipe di laboratorium. Dampaknya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat.

Baca Juga: Sri Mulyani Mulai Sasar Makanan Ringan Bernatrium, Siap-siap Kena Cukai!

Menurut Wahyudi Agustiono, yang juga merupakan pakar dari SEVIMA, ketersediaan air bersih menjadi perubahan paling signifikan.

"Jika beroperasi 8 jam, teknologi ini bisa menghasilkan air bersih dengan harga jual sekitar 500 ribu rupiah, dan itu sudah kami jual dengan harga di bawah air kemasan. Belum lagi pendapatan dari garam, rumput laut, dan listrik," jelas Wahyudi.

Ini adalah bukti konkret bagaimana sebuah riset teknologi dapat menciptakan ekosistem ekonomi baru di tingkat lokal, memberikan sumber pendapatan berlapis bagi petani yang sebelumnya hanya bergantung pada satu komoditas.

Kolaborasi Global dan Peran Mahasiswa Inovator

Kehebatan proyek "Harvesting Hope" tidak berhenti di Madura.

Dengan prinsip "Locally rooted, globally impacted", proyek ini berhasil menarik perhatian dan kolaborasi dari universitas kelas dunia seperti Newcastle University dan MIT University Melbourne.

Kemitraan riset Indonesia-Australia melalui program KONEKSI ini menjadi jembatan transfer ilmu dan teknologi.

Menariknya, inovasi tidak hanya datang dari para dosen. Mahasiswa yang terlibat langsung di lapangan justru menjadi sumber ide-ide brilian.

"Salah satu contohnya adalah ketika para mahasiswa menemukan solusi teknis berupa pintu air otomatis untuk mengatasi masalah pada budidaya rumput laut, sebuah ide yang lahir dari investigasi langsung di lapangan, bukan dari dosen," ungkap Wahyudi, menunjukkan bahwa ekosistem riset yang sehat mampu memberdayakan setiap elemen di dalamnya.

Prof. Fauzan, setelah kunjungannya ke lokasi proyek, memberikan apresiasi tinggi. "Yang pertama, dalam proses riset itu melibatkan mahasiswa. Artinya, mahasiswa tidak hanya belajar di kampus, tetapi dihadapkan pada tantangan yang sangat bermanfaat... Kedua, dari sisi petani. Mereka mulai memahami dan memiliki pengalaman dalam memproduksi garam dengan lebih baik," tuturnya.

Proyek "Harvesting Hope" adalah cetak biru masa depan. Ia menunjukkan bahwa dengan sentuhan teknologi yang tepat, kolaborasi yang kuat, dan visi yang jelas, masalah-masalah paling mendasar di masyarakat seperti ketidakpastian panen dan kelangkaan air bersih dapat diatasi secara cerdas dan berkelanjutan.

Kisah dari Madura ini adalah inspirasi. Menurut Anda, sektor mana lagi di Indonesia yang sangat membutuhkan sentuhan inovasi teknologi dari kampus seperti ini?

Mari diskusikan di kolom komentar!

Load More