Suara.com - Rilis Call of Duty: Black Ops 7 memicu gelombang kritik yang jarang terjadi pada salah satu franchise game terbesar dunia ini. Meski mendapat skor pengguna terendah sepanjang sejarah seri Call of Duty, Activision justru mengunggah pesan optimistis di media sosial, memuji “respons besar dari para penggemar” dan mengucapkan selamat kepada tim Treyarch serta Raven Software atas peluncuran game tersebut.
Pernyataan itu membuat banyak pemain heran. Pasalnya mengutip 80 LV (18/11/2025), Black Ops 7 saat ini hanya memperoleh skor pengguna 1.7 di Metacritic, dan ulasan Mixed di Steam.
Keluhan yang muncul pun cukup beragam: optimisasi buruk, sistem microtransaction yang dianggap berlebihan, mode multiplayer yang dinilai kurang solid, hingga kontrol yang dinilai tidak nyaman.
Beberapa pemain menyindir unggahan Activision sebagai upaya menutupi masalah. “Kalau ini disebut respons bagus, saya tak bisa bayangkan seperti apa respons buruk versi mereka,” tulis salah satu pengguna, mengutip dari 80 LV (18/11/2025).
Di tengah kritik tersebut, laporan Rolling Stone (18/11/2025) menggambarkan Black Ops 7 sebagai game terbesar sekaligus paling berantakan dalam sejarah Call of Duty. Game ini dibangun oleh 10 studio, namun hasil akhirnya tetap terasa kewalahan oleh ambisi besar yang tidak sepenuhnya terwujud.
Situasi internal Microsoft dan Xbox—yang belakangan sering melakukan PHK dan pengetatan anggaran—dikabarkan ikut mempengaruhi moral para pengembang.
Black Ops 7 mencoba mengikuti kesuksesan pendahulunya, Black Ops 6, yang dipuji karena campaign cerita yang kreatif dan penuh kejutan. Namun kali ini, campaign justru dianggap sebagai titik terlemah.
Berlangsung sekitar lima jam dan mengambil latar tahun 2035, cerita game ini dinilai dangkal, dipenuhi misi-misi mirip looter shooter, serta terlalu mengandalkan elemen aneh seperti monster surreal dan zombie yang muncul lebih sering dari dugaan.
Kiernan Shipka berperan sebagai antagonis utama, sementara Milo Ventimiglia kembali hadir sebagai David Mason. Meski tampil meyakinkan, para aktor dinilai tidak terbantu oleh naskah yang tipis dan alur cerita yang hanya menjadi jembatan menuju rangkaian aksi penuh efek visual. Isu dunia yang disinggung—seperti dominasi perusahaan teknologi atau penyalahgunaan deepfake—hanya muncul sekilas tanpa pendalaman berarti.
Baca Juga: Jadwal Rilis dan Spesifikasi PC Call of Duty: Black Ops 7 Resmi Diumumkan
Sementara itu, mode Endgame—sebuah mode PvE 32 pemain yang terinspirasi game extraction—memiliki potensi, tetapi terlalu banyak meminjam aset dari campaign sehingga terasa repetitif. Bahkan pemain mencatat bahwa mode campaign dan mode ini sering memakai peta, musuh, dan sistem progresi yang sama.
Empat pemain co-op untuk campaign seharusnya menjadi keunggulan, tetapi kebanyakan pemain merasa tidak ada perbedaan berarti dibanding mode lain.
Mode Zombies, yang menjadi favorit lama komunitas, justru menjadi aspek yang menuai pujian. Map Ashes of the Damned dan pengalaman survival berbasis ronde di Vandorn Farm dinilai lebih solid, menawarkan sensasi klasik Zombies dengan berbagai elemen lama seperti GobbleGums, peti misterius, dan peningkatan senjata. Mode ini dianggap jauh lebih terarah dibandingkan campaign.
Multiplayer—inti utama setiap rilis Call of Duty—tetap menjadi daya tarik bagi sebagian pemain. Treyarch mempertahankan gameplay cepat yang menjadi ciri seri Black Ops, menghadirkan 16 peta untuk mode 6v6 dan mode 20v20 bernama Skirmish. Mode ini menawarkan pertarungan besar ala Warzone, di mana pemain bisa "turun kembali" setelah mati, namun sebagian pemain menganggapnya hanya sebagai pelengkap.
Sistem pergerakan baru seperti lompatan kedua setelah menyentuh dinding tidak banyak mempengaruhi pertempuran. Perubahan terbesar justru pada progresi yang kini terintegrasi ke semua mode, memungkinkan pemain naik level dan mengumpulkan perlengkapan apa pun mode yang mereka mainkan. Banyak pemain mengapresiasi sistem tersebut karena mengurangi repetisi.
Namun dibalik fitur yang masih solid, Rolling Stone (18/11/2025) menilai Black Ops 7 adalah contoh game yang ambisius tetapi tidak terkoordinasi. Tekanan produksi tahunan, tuntutan perusahaan, serta penggunaan elemen-elemen berbasis AI dalam progresi dan desain latar dinilai sebagai tanda franchise ini mulai kewalahan menyeimbangkan kualitas dan skala yang diinginkan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
42 Kode Redeem FF Free Fire Spesial Diskon 16 April 2026, Cek Bocoran MP40 Cobra Rilis Lagi
-
5 Smartwatch dengan Desain Kekinian, Tak Jadul, dan Fitur Lengkap Buat Gen Z Aktif
-
Honor Uji HP Baru dengan Baterai 11.000 mAh, Terbesar di Kelasnya
-
Tak Semahal Anggaran Pemkab Blora, Segini Harga CapCut dan Canva Pro 2026
-
Gunakan Chipset Unisoc T8300, Berapa Skor AnTuTu Redmi R70 5G?
-
Indonesia Penghasil Gas, Kenapa Masih Butuh Impor LPG? Ternyata Begini Penjabarannya
-
Redmi R70 dan R70m Debut dengan Baterai Jumbo, Andalkan Chipset Unisoc
-
2 Tablet Oppo Terbaru Segera Rilis, Fitur Mewah dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5
-
RedMagic 11s Pro Lolos Sertifikasi, Calon HP Gaming Gahar dengan Chipset Kencang
-
5 Tablet Murah di Bawah Rp2 Juta yang Anti Lag buat Multitasking Harian