Tekno / Sains
Selasa, 14 April 2026 | 14:08 WIB
Ilustrasi potensi pertumbuhan awan Cb dan ilustrasi Cumulonimbus. (BMKG, YouTube/ Fact Explorer)
Baca 10 detik
  • BMKG memprediksi meluasnya awan Cumulonimbus di Indonesia pada 15-21 April 2026.

  • Awan Cumulonimbus berpotensi memicu hujan lebat, petir, dan angin kencang ekstrem.

  • Masyarakat diimbau waspada dan memantau peringatan dini cuaca resmi dari BMKG.

Apa Itu Awan Cumulonimbus?

Awan Cumulonimbus. [Spaceplace.NASA]

Cumulonimbus merupakan merupakan awan vertikal dengan bentuk padat menjulang tinggi.

Dalam kondisi tertentu, awan ini mampu menimbulkan hujan deras lokal, badai petir, puting beliung, bahkan hujan es.

Pembentukan awan Cumulonimbus dimulai saat Matahari memanaskan permukaan Bumi, yang menyebabkan udara hangat dan lembap naik secara vertikal dengan sangat cepat ke atmosfer.

Saat udara ini mendingin di ketinggian tertentu, uap air di dalamnya mengembun menjadi butiran air yang awalnya membentuk awan putih kecil, namun terus tumbuh menjulang tinggi karena dorongan energi panas yang sangat kuat dan berkelanjutan dari bawah.

Awan akan terus berkembang hingga puncaknya membeku menjadi kristal es dan terhenti oleh lapisan atmosfer yang stabil, sehingga bentuknya melebar menyerupai landasan besi yang datar di bagian atas.

Di dalam struktur raksasa, terjadi pergolakan arus udara yang sangat hebat serta gesekan antar partikel es.

Itu memicu terjadinya badai, petir, dan hujan deras, menjadikan awan ini sebagai salah satu fenomena cuaca yang paling kuat di Bumi.

Awan Cumulonimbus merupakan bahaya yang signifikan bagi penerbangan, terutama karena arus angin kuat, tetapi juga karena jarak pandang yang berkurang dan petir. 

Baca Juga: Update Gempa M 7,6: Nyaris Seribu Gempa Susulan Guncang Maluku Utara

Pergerakan serta potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus bisa dilihat via ilustrasi dari laman resmi BMKG di LINK INI. 

Load More