Tekno / Sains
Selasa, 30 Juni 2026 | 13:08 WIB
Pemukiman warga yang terletak di kaki pegunungan di Indonesia. [Pexels]
Baca 10 detik
  • Indonesia menghadapi krisis biokultural akibat hilangnya bahasa lokal dan ritual adat.
  • Punahnya pengetahuan tradisional memicu eksploitasi alam yang dianggap wajar oleh manusia.
  • Regenerasi pengetahuan adat ke generasi muda terhambat akibat pembatasan wilayah konservasi.

Suara.com - Indonesia kini tengah menghadapi sebuah ancaman serius yang tersembunyi di balik krisis lingkungan, yakni punahnya pengetahuan tradisional penjaga alam.

Fenomena ini dikenal sebagai krisis biokultural, di mana hilangnya bahasa lokal dan ritual adat ikut memusnahkan cara manusia merawat bumi.

Working Group ICCAs Indonesia (WGII) secara tegas mengingatkan bahwa krisis biokultural ini berisiko menghapus peradaban berharga milik Masyarakat Adat.

Jika relasi antara manusia, budaya, dan alam ini terputus, maka ekosistem fisik Indonesia yang kaya juga akan berada di ambang kehancuran.

Ancaman yang Lebih Besar dari Hilangnya Hutan

Koordinator Eksekutif WGII, Cindy Julianty, menegaskan bahwa ancaman krisis biokultural jauh lebih besar daripada sekadar hilangnya spesies fauna atau kawasan hutan.

"Biokultural ini lebih rentan hilang daripada biodiversitas. Karena, yang terancam hilang bukan hanya spesies atau hutan, melainkan seluruh relasi yang membuat spesies, hutan, manusia, bahasa, ritual, dan pengetahuan tersebut saling terhubung," kata Cindy.

Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia memiliki kekayaan alam fisik yang luar biasa, mulai dari savana, pesisir, hingga hutan belantara.

Namun, status Indonesia sebagai negara megabiokultural juga menunjukkan adanya hubungan mendalam yang tak kasat mata antara budaya manusia dan kelestarian alam.

"Konsep megabiodiversitas umumnya mengacu pada sesuatu yang tangible, yang bisa dihitung secara fisik. Kenyataannya, aspek fisik tidak mungkin berdiri sendiri tanpa relasi," ujarnya.

"Ada keterkaitan antara alam dan budaya, antara alam dan manusia. Ketika bicara soal biokultural, berarti kita bicara tentang relasi, bahasa, praktik, spiritualitas, dan lanskap yang lebih besar," lanjutnya.

Bahaya Pandangan Materialistik Terhadap Alam

Ketika ikatan spiritual dan budaya dengan lingkungan mulai memudar, cara pandang manusia terhadap ekosistem di sekitarnya juga akan bergeser drastis.

Alam tidak lagi dihormati sebagai ruang hidup bersama, melainkan hanya dianggap sebagai komoditas komersial.

"Ketika manusia kehilangan rasa keterhubungan dengan alam, alam hanya akan dipandang sebagai objek. Ketika alam hanya dilihat sebagai supply untuk kebutuhan manusia, maka eksploitasi dan destruksi menjadi sesuatu yang dianggap wajar," katanya.

Load More