- Indonesia menghadapi krisis biokultural akibat hilangnya bahasa lokal dan ritual adat.
- Punahnya pengetahuan tradisional memicu eksploitasi alam yang dianggap wajar oleh manusia.
- Regenerasi pengetahuan adat ke generasi muda terhambat akibat pembatasan wilayah konservasi.
Suara.com - Indonesia kini tengah menghadapi sebuah ancaman serius yang tersembunyi di balik krisis lingkungan, yakni punahnya pengetahuan tradisional penjaga alam.
Fenomena ini dikenal sebagai krisis biokultural, di mana hilangnya bahasa lokal dan ritual adat ikut memusnahkan cara manusia merawat bumi.
Working Group ICCAs Indonesia (WGII) secara tegas mengingatkan bahwa krisis biokultural ini berisiko menghapus peradaban berharga milik Masyarakat Adat.
Jika relasi antara manusia, budaya, dan alam ini terputus, maka ekosistem fisik Indonesia yang kaya juga akan berada di ambang kehancuran.
Ancaman yang Lebih Besar dari Hilangnya Hutan
Koordinator Eksekutif WGII, Cindy Julianty, menegaskan bahwa ancaman krisis biokultural jauh lebih besar daripada sekadar hilangnya spesies fauna atau kawasan hutan.
"Biokultural ini lebih rentan hilang daripada biodiversitas. Karena, yang terancam hilang bukan hanya spesies atau hutan, melainkan seluruh relasi yang membuat spesies, hutan, manusia, bahasa, ritual, dan pengetahuan tersebut saling terhubung," kata Cindy.
Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia memiliki kekayaan alam fisik yang luar biasa, mulai dari savana, pesisir, hingga hutan belantara.
Namun, status Indonesia sebagai negara megabiokultural juga menunjukkan adanya hubungan mendalam yang tak kasat mata antara budaya manusia dan kelestarian alam.
"Konsep megabiodiversitas umumnya mengacu pada sesuatu yang tangible, yang bisa dihitung secara fisik. Kenyataannya, aspek fisik tidak mungkin berdiri sendiri tanpa relasi," ujarnya.
"Ada keterkaitan antara alam dan budaya, antara alam dan manusia. Ketika bicara soal biokultural, berarti kita bicara tentang relasi, bahasa, praktik, spiritualitas, dan lanskap yang lebih besar," lanjutnya.
Bahaya Pandangan Materialistik Terhadap Alam
Ketika ikatan spiritual dan budaya dengan lingkungan mulai memudar, cara pandang manusia terhadap ekosistem di sekitarnya juga akan bergeser drastis.
Alam tidak lagi dihormati sebagai ruang hidup bersama, melainkan hanya dianggap sebagai komoditas komersial.
"Ketika manusia kehilangan rasa keterhubungan dengan alam, alam hanya akan dipandang sebagai objek. Ketika alam hanya dilihat sebagai supply untuk kebutuhan manusia, maka eksploitasi dan destruksi menjadi sesuatu yang dianggap wajar," katanya.
Berita Terkait
-
Kisah Bli Nyoman Merawat Alam di Desa Sejahtera Astra, Les Buleleng Bali
-
Lebih dari Satu Dekade Menjaga Hutan, Masyarakat Adat Long Isun Menanti Kepastian Hak
-
Kisah Desa Les Buleleng: Merawat Tradisi Nyegara Gunung dan Konservasi Alam Bersama Astra
-
Hunian Dekat Alam, Cara Baru Menikmati Hidup di Tengah Padatnya Kota
-
Apa Arti Kemajuan Jika Alam Tak Lagi Bisa Bertahan?
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Pengamat Soroti Manuver Politik di Balik Kasus Eks Jampidsus
-
Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
-
Simalungun Diguncang Gempa M 6,4: Getaran Terasa hingga Kabanjahe
-
Update Gempa NTT: 47 Nyawa Melayang, Ratusan Ton Bantuan Presiden Prabowo Mulai Dikirim
-
3 Wisatawan Asing Jadi Korban Gempa NTT, Tertimpa Reruntuhan Hotel
-
Gempat M 7,7 Tak Surutkan Pesona Labuan Bajo: Wisatawan Aman, Kapal Kembali Melaut
-
6000 Pelari Ramaikan Titan Run 2026, Jarak 17,8 Km Berbuah Rekor MURI
-
Tak Hanya Mobil Konvensional, BRI KKB Expo 2026 Juga Dukung Pembiayaan Kendaraan Listrik
-
Gempa NTT, Badan Geologi Minta Waspada Bahaya Susulan
-
Konsep Lakeside Living Makin Diminati, Ini Tips Memilih Hunian di Tepi Danau