Tekno / Tekno
Selasa, 14 Juli 2026 | 11:24 WIB
Ilustrasi Keamanan Data. (Freepik)
Baca 10 detik
  • Teknologi autonomous AI kini berevolusi dari sekadar chatbot menjadi agen mandiri yang mampu mengelola operasional bisnis secara otomatis.
  • Indonesia menjadi pasar potensial AI dengan investasi sektor swasta mencapai 91 juta dolar AS hingga pertengahan 2025.
  • Perusahaan kini memprioritaskan tata kelola, transparansi, dan privasi data seiring meningkatnya penggunaan AI dalam ekosistem kerja mandiri.

Menurutnya, organisasi membutuhkan AI yang benar-benar memahami konteks operasional perusahaan, bukan sekadar chatbot atau mesin generatif yang bersifat umum.

Ilustrasi Chatbot. [Shutterstock]

Dari Chatbot Menuju Agen AI yang Bekerja Mandiri

Perubahan terbesar justru terjadi pada cara AI digunakan di lingkungan perusahaan.

Generasi terbaru autonomous AI memungkinkan organisasi membangun AI agents yang mampu menangani berbagai fungsi operasional secara mandiri, mulai dari layanan TI (IT service management), observability, keamanan siber, pengelolaan endpoint, hingga operasional cloud dalam satu ekosistem yang saling terintegrasi.

Agen AI tersebut juga dapat dikembangkan menggunakan bahasa alami, dikolaborasikan dalam skema multi-agent, hingga diintegrasikan dengan berbagai model AI pihak ketiga sesuai kebutuhan bisnis.

Dalam praktiknya, AI mampu mengambil alih pekerjaan yang selama ini memakan banyak waktu, seperti investigasi insiden keamanan siber, analisis akar penyebab gangguan sistem, pengelolaan knowledge base, hingga layanan service desk tingkat pertama.

Kemampuan memahami konteks lintas sistem juga membuat AI dapat menghubungkan data dari berbagai platform untuk mempercepat analisis risiko dan pengambilan keputusan operasional.

Tata Kelola AI Jadi Faktor Pembeda

Di balik pesatnya inovasi autonomous AI, perhatian industri kini semakin tertuju pada aspek tata kelola (AI governance).

Baca Juga: Jelang Galaxy Unpacked, Samsung Beberkan Masa Depan AI yang Lebih Personal dan Aman

Perusahaan tidak lagi hanya mencari AI yang pintar, tetapi juga menginginkan sistem yang transparan, memiliki jejak audit yang jelas, mampu dipantau setiap saat, serta menjaga kedaulatan data perusahaan.

Vice President ManageEngine, Umasankar Narayanasamy, mengatakan tingkat kepercayaan akan menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan implementasi AI di perusahaan.

Ilustrasi kecerdasan buatan (Artifial Intelligence/AI].

"Prinsip privacy-first yang telah menjadi pedoman strategi ManageEngine selama lebih dari dua dekade kini menjadi semakin relevan di era agen AI. Komitmen kami terhadap privasi dan kedaulatan data memberi pelanggan keyakinan untuk mengadopsi agen AI secara bertanggung jawab dan aman," kata Umasankar Narayanasamy.

Sebagai implementasi pendekatan tersebut, ManageEngine mengembangkan Zia Agents, sebuah kerangka kerja autonomous AI yang memungkinkan perusahaan membangun agen AI siap pakai maupun agen yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing organisasi.

Platform tersebut dirancang agar setiap agen AI dapat bekerja secara mandiri sekaligus tetap berada dalam batas kebijakan (guardrails) yang telah ditentukan perusahaan. Selain itu, data pelanggan tidak digunakan untuk melatih model AI, sementara administrator tetap memperoleh visibilitas penuh terhadap seluruh aktivitas AI melalui sistem audit yang komprehensif.

Load More