- Pengguna aktif Gemini di Asia Tenggara melonjak dua kali lipat berkat kemampuan AI memahami konteks bahasa lokal.
- Sebanyak 70 persen interaksi di kawasan tersebut menggunakan bahasa lokal, dengan Indonesia mencatat 84 persen penggunaan.
- Masyarakat Indonesia kini dominan menggunakan fitur multimodal dan AI untuk berkreasi serta menyelesaikan tugas secara otomatis.
Suara.com - Di kawasan multibahasa seperti Asia Tenggara, keberhasilan sebuah model AI kini ditentukan oleh kemampuannya memahami konteks budaya, dialek, hingga nuansa bahasa lokal yang kompleks.
Perkembangan tersebut mulai terlihat dari meningkatnya adopsi aplikasi Gemini di Asia Tenggara. Dalam laporan Gemini Report: Southeast Asia 2026, Google mengungkap jumlah pengguna aktif Gemini di kawasan tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dalam satu tahun terakhir, menjadikannya salah satu aplikasi Google dengan pertumbuhan tercepat di kawasan.
Lonjakan ini didorong oleh populasi digital native yang besar, hampir 40 persen penduduk Asia Tenggara berusia di bawah 25 tahun, serta peningkatan kemampuan Gemini dalam memahami berbagai bahasa lokal.
AI Semakin Fasih Berbahasa Asia Tenggara
Salah satu temuan penting dalam laporan tersebut adalah dominasi penggunaan bahasa lokal saat berinteraksi dengan AI.
Google mencatat hampir 70 persen prompt Gemini di Asia Tenggara ditulis menggunakan bahasa masing-masing negara. Vietnam menjadi yang tertinggi dengan 89 persen, disusul Thailand 87 persen, sementara Indonesia mencapai 84 persen.
Kemampuan linguistik ini juga tercermin dalam hasil evaluasi Southeast Asia Holistic Evaluation of Language Models (SEA-HELM), yang menempatkan Gemini sebagai model AI dengan performa terbaik secara keseluruhan untuk bahasa-bahasa Asia Tenggara.
Head of Partnerships, Strategy and Growth (AI Products) AI Singapore, Mark Pereira, mengatakan keberhasilan AI di kawasan ini bergantung pada kemampuannya memahami konteks lokal, bukan sekadar menerjemahkan bahasa.
"Adopsi AI terjadi ketika teknologi terasa alami, bukan sekadar hasil terjemahan. Di kawasan yang kaya akan keberagaman bahasa seperti Asia Tenggara, model AI harus mampu memahami konteks lokal secara mendalam agar dapat digunakan secara efektif, baik untuk belajar, menulis dengan nuansa yang tepat, maupun brainstorming bisnis yang kompleks," ujar Pereira.
Baca Juga: Autonomous AI Mulai Ambil Alih Operasional Perusahaan, Tata Kelola dan Keamanan Data Jadi Kunci
Menurutnya, pencapaian Gemini dalam evaluasi SEA-HELM menunjukkan bahwa identitas bahasa dan budaya Asia Tenggara kini mulai menjadi bagian penting dalam pengembangan AI global.
Indonesia Dorong Tren AI Multimodal
Indonesia menjadi salah satu pasar yang menunjukkan perubahan paling signifikan dalam cara masyarakat menggunakan AI.
Sebanyak 82 persen interaksi Gemini di Indonesia berasal dari perangkat seluler. Lebih menarik lagi, satu dari dua prompt kini sudah memanfaatkan input multimodal berupa suara maupun gambar, bukan lagi hanya teks.
Perubahan ini menunjukkan pergeseran dari chatbot berbasis teks menuju AI yang mampu memahami berbagai bentuk informasi secara bersamaan.
Google juga mencatat masyarakat Indonesia menjadi pengguna paling kreatif di kawasan dengan menghasilkan hampir 9 juta gambar setiap hari menggunakan model generatif Gemini.
Berita Terkait
-
Rahasia Sukses Transformasi AI di Perusahaan, Bukan Dimulai dari Teknologinya
-
Xiaomi Siapkan Kejutan di IFA 2026, Investasi AI Rp151 Triliun Perkuat Ekspansi ke Eropa
-
Indosat Tancap Gas Bangun AI Indonesia, Vikram Sinha Lanjut Pimpin Transformasi hingga 2031
-
Telkomsel Dorong UKM Go Global dengan AI, DCE Academy 2026 Cetak Wirausaha Digital Baru
-
AI for Life, Menandai Kemajuan Pendidikan dan Inovasi Indonesia di Era Kecerdasan Artifisial
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
4 Rekomendasi HP 5G Rp 3 Jutaan Juli 2026, Pilihan Terbaik Sebelum Makin Mahal
-
5 Kelebihan Samsung Galaxy A27 5G Dibanding Pendahulunya untuk Investasi Jangka Panjang
-
Apakah HP Harus Rutin Di-restart? Ketahui Waktu yang Tepat dan Manfaatnya
-
AI, LIVE Shopping, dan Social Commerce Ubah Industri Kopi Indonesia, Sakha Coffee Perluas Pasar
-
4 HP Android Rp3 Jutaan Terbaik Paling Banyak Diburu, Spek Dewa untuk Gaming dan Fotografi
-
Investor Indonesia Kini Bisa Akses Saham Nvidia, SpaceX hingga Tesla Lewat Blockchain
-
Xiaomi 17T Pro Bukan Sekadar Upgrade, AI Imaging dan Leica Jadi Arah Baru Smartphone Flagship
-
Autonomous AI Mulai Ambil Alih Operasional Perusahaan, Tata Kelola dan Keamanan Data Jadi Kunci
-
Tak Lagi Sekadar Dengar Musik, OPPO Enco Air5 Series Kini Dibekali AI Translate dan ANC Cerdas
-
Harga Smartphone Naik, Samsung Justru Bawa Galaxy A27 5G RAM 6GB/128GB yang Lebih Terjangkau