- Kantar Indonesia melaporkan pada 20 Agustus 2026 di Jakarta bahwa delapan dari sepuluh konsumen Indonesia telah menggunakan kecerdasan buatan generatif.
- Perubahan perilaku konsumen akibat teknologi kecerdasan buatan mendorong perusahaan seperti Telkomsel untuk menyederhanakan portofolio layanan mereka.
- Kantar menyatakan bahwa perusahaan harus memperkuat diferensiasi brand agar dapat ditemukan dan direkomendasikan secara optimal dalam ekosistem kecerdasan buatan.
Suara.com - Cara konsumen menemukan dan memilih sebuah produk mulai berubah seiring semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Kini AI ikut menjadi pintu masuk untuk mencari informasi dan mempertimbangkan sebuah brand. Perubahan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Onward by Kantar: Shape Indonesia's Future, Together yang digelar Kantar Indonesia di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Kantar mencatat delapan dari 10 konsumen Indonesia telah mencoba generative AI, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat penggunaan Gen-AI tertinggi secara global.
Perkembangan ini ikut mengubah perjalanan konsumen, termasuk cara mereka menemukan, membandingkan, hingga berinteraksi dengan brand.
AI Search kini juga mulai menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut. Artinya, perusahaan tidak cukup hanya memastikan produknya mudah ditemukan melalui mesin pencari konvensional, tetapi juga perlu memahami bagaimana brand mereka dipersepsikan dalam ekosistem pencarian berbasis AI.
Perubahan teknologi ini berjalan beriringan dengan perubahan perilaku konsumen. VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, mengatakan perusahaan harus terus membaca perubahan tersebut dan tidak terpaku pada strategi yang sebelumnya berhasil.
“Banyak perubahan behavior customer,” ucapnya.
Menurut Fahmi, teknologi digital membuat konsumen semakin mudah memperoleh informasi sekaligus membandingkan berbagai pilihan. Kondisi itu membuat segmentasi lama tidak selalu relevan untuk digunakan dalam menentukan kebutuhan pelanggan.
Telkomsel, misalnya, pernah mengambil keputusan untuk menutup brand Loop dan Kartu As, meski keduanya memiliki basis pelanggan yang besar. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menyederhanakan portofolio ketika pola perilaku konsumen mulai berubah.
Baca Juga: Dari Data hingga Terapi, Novo Nordisk Manfaatkan AI untuk Percepat Penemuan Obat
Alih-alih mempertahankan banyak brand, sejumlah manfaat dari kedua layanan tersebut kemudian diarahkan ke brand dengan ekuitas yang lebih kuat.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah perangkat yang digunakan konsumen, tetapi juga memengaruhi cara perusahaan membangun hubungan dengan pelanggan.
Dari Preferensi ke Kepercayaan
Menurut Fahmi, perubahan juga terjadi dalam cara perusahaan berkomunikasi dengan konsumennya.
Ketika berada di fungsi brand communication, fokus utamanya adalah membangun preferensi. Namun, ketika masuk ke ranah corporate communication, tantangannya berkembang menjadi membangun kepercayaan.
“Ketika saya di brandcom, objektifnya adalah preference customer. Tapi ketika saya di corcom, bagaimana customer itu menjadi trust,” ujarnya.
Berita Terkait
-
25 Prompt AI Edit Foto Hari Kemerdekaan RI ke-81, Hasil Natural Cocok untuk Medsos
-
Laptop Gaming Bukan Cuma Buat Mabar: ASUS Bongkar Rahasia AI Lokal Biar Kerja 2x Lebih Cepat!
-
AI Masuk Kelas, Bali Uji Cara Baru Atasi Masalah Numerasi Siswa
-
AI dan Semikonduktor Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi 2027, Targetnya 6%
-
Ancaman Siber Berbasis AI Makin Canggih, Industri Keuangan Diminta Perkuat Ketahanan Digital
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Setelah 13 Hari Ditutup, Wisata Bromo Kembali Dibuka untuk Pengunjung
-
Emiten WSKT Selesaikan Bangunan Gedung Siti Baroroh Baried FIB UGM Rampung yang Bernilai Rp131 M
-
Mendagri 5 Hari Hadir di NTT: Pemerintah Pusat Enggak Akan Tinggal Diam, Kita 'Keroyok' Semua!
-
AI Ubah Cara Konsumen Cari Brand, Bisnis Dituntut Makin Adaptif
-
Mobil Patroli Terbakar di Markas Polsek Tambaksari: Satu Terduga Pelaku Diciduk
-
Bikin Rezeki 'Bocor'! Ini 7 Kesalahan Penataan Kompor Dapur Menurut Feng Shui yang Perlu Dihindari
-
Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
-
Ini Jadwal Baru Pembuangan Sampah di Kota Makassar, Wajib Diketahui Warga!
-
Filosofi SpongeBob Jadi Ubur-Ubur dan Ilusi Kabur dari Burnout
-
RAM dan Storage Makin Mahal, Xiaomi Tetap Bawa Fitur Flagship ke HP Entry-Level