Tekno / Internet
Senin, 24 Agustus 2026 | 15:28 WIB
Ilustrasi serangan siber. [Pixabay]
Baca 10 detik
  • AwanPintar.id melaporkan Indonesia menghadapi 257.976.333 serangan siber sepanjang semester I 2026 yang melonjak 93,33 persen.
  • Transformasi digital serta penggunaan cloud dan AI memperluas titik rentan serangan yang kini memanfaatkan otomatisasi.
  • Pelaku secara masif memburu hak administrator dan informasi sensitif melalui berbagai metode eksploitasi kerentanan sistem.

Kategori Generic Protocol Command Decode masih menjadi ancaman terbesar kedua dengan porsi 27,22 persen, meski turun 41,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

ilustrasi hacker. [Ist]

Namun, penurunan satu jenis serangan tidak berarti kondisi keamanan siber membaik. Justru, data tersebut menunjukkan pelaku dapat mengubah metode dan mengalihkan fokus ke serangan yang lebih spesifik serta berpotensi memberikan dampak lebih besar.

Serangan dari wilayah regional juga perlu diperhatikan. Sementara itu, Banyuwangi dan Tangerang tercatat sebagai sumber serangan baru dengan porsi masing-masing 4,53 persen dan 3,46 persen.

Laporan tersebut juga mencatat CVE melonjak 71 persen pada Maret 2026, menunjukkan bagaimana satu kerentanan dapat menjadi sasaran serangan secara masif ketika celah tersebut ditemukan dan dieksploitasi.

Jumlah Open Source Vulnerabilities (OSV) yang dirilis sepanjang semester I 2026 juga mencapai 34.804.

Keamanan Digital Tak Bisa Lagi Menunggu Diserang

Dengan pola serangan yang semakin otomatis, pertahanan siber tidak cukup hanya mengandalkan sistem keamanan setelah insiden terjadi.

Lonjakan 257 juta serangan dalam enam bulan menjadi sinyal bahwa pertumbuhan layanan digital juga membawa konsekuensi baru. Semakin banyak sistem terhubung ke internet, semakin luas pula ruang yang dapat diburu penyerang.

Baca Juga: AI Makin Canggih, Penipuan Digital dan Deepfake Rugikan Indonesia Rp9,1 Triliun

Load More