Tekno / Internet
Senin, 24 Agustus 2026 | 15:28 WIB
Ilustrasi serangan siber. [Pixabay]
Baca 10 detik
  • AwanPintar.id melaporkan Indonesia menghadapi 257.976.333 serangan siber sepanjang semester I 2026 yang melonjak 93,33 persen.
  • Transformasi digital serta penggunaan cloud dan AI memperluas titik rentan serangan yang kini memanfaatkan otomatisasi.
  • Pelaku secara masif memburu hak administrator dan informasi sensitif melalui berbagai metode eksploitasi kerentanan sistem.

Suara.com - Ruang digital Indonesia menghadapi tekanan yang semakin besar. Sepanjang semester I 2026, tercatat 257.976.333 serangan siber menargetkan Indonesia.

Angka tersebut setara dengan rata-rata 16 serangan setiap detik dan melonjak 93,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Data tersebut berasal dari Laporan Ancaman Digital di Indonesia Semester I 2026 yang dirilis AwanPintar.id, platform intelijen ancaman siber nasional dari PT Prosperita Sistem Indonesia.

Lonjakan ini menunjukkan ancaman siber di Indonesia bukan lagi sekadar serangan acak. Pelaku semakin mengandalkan otomatisasi untuk memindai sistem, mencari celah keamanan, mencoba mengambil alih akun, hingga menyebarkan malware.

Founder AwanPintar.id Yudhi Kukuh mengatakan peningkatan serangan tidak terlepas dari semakin luasnya attack surface akibat percepatan transformasi digital di pemerintahan, layanan publik, dan dunia usaha.

Penggunaan cloud, AI, serta meningkatnya transaksi online turut memperluas titik yang berpotensi menjadi pintu masuk serangan.

Bukan Sekadar Mengintai, Hacker Memburu Akses Administrator

Perubahan paling mengkhawatirkan terlihat dari jenis serangan yang mencoba mendapatkan hak administrator.

Pelaku tidak lagi hanya mencari informasi mengenai sistem yang menjadi target. Mereka semakin berusaha mendapatkan akses dengan hak istimewa agar dapat mengendalikan sistem lebih jauh.

Baca Juga: AI Makin Canggih, Penipuan Digital dan Deepfake Rugikan Indonesia Rp9,1 Triliun

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengeksploitasi layanan yang terbuka di internet, memanfaatkan kredensial hasil phishing atau credential stuffing, hingga menggunakan bot otomatis yang terus mencoba masuk ke akun dengan hak akses tinggi.

Data Pribadi dan Informasi Sensitif Ikut Diburu

Ancaman tidak berhenti pada pengambilalihan sistem. Upaya mencuri informasi penting juga meningkat.

Pelaku memanfaatkan berbagai cara, termasuk eksploitasi kerentanan aplikasi, pencurian kredensial, infostealer, phishing, dan brute force.

Hal yang membuat ancaman semakin sulit dihadapi adalah penggunaan perangkat otomatis. Pelaku dapat mencoba kombinasi nama pengguna dan kata sandi dalam jumlah besar dalam waktu singkat, terutama ketika sistem masih menggunakan kata sandi yang lemah.

Serangan Berubah, Bukan Berarti Ancaman Menurun

Load More