Kenapa PBB Ubah Peta Dunia? Apa yang Salah dengan Peta Lama?

Kamis, 17 September 2026 | 18:31 WIB
Ilustrasi Peta Dunia. [Pixabay]
BACA 10 DETIK
  • PBB menyetujui penggunaan proyeksi Equal Earth untuk keadilan luas benua.
  • Proyeksi Equal Earth menggantikan distorsi peta Mercator yang kurang akurat.
  • Sebanyak 164 negara mendukung proyeksi Equal Earth di Sidang PBB.

Suara.com - Majelis Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) meresolusikan perubahan peta dunia. Yakni yang disebut “Correct Map” sebagai langkah equal terhadap distorsi pada peta Mercator yang saat ini dipakai oleh banyak negara.

Distorsi peta dunia yang sebelumnya membuat Afrika tampak seukuran dengan Greenland, padahal Luas wilayah Afrika sesungguhnya lebih luas dari Greenland.

Resolusi dari PBB ini memproyeksikan “Equal Earth” untuk mempresentasikan daratan yang selama ini dibuat dalam garis lurus di Peta Mercator, hal ini bertujuan untuk menggambarkan ukuran dari benua pada ukuran yang sebenarnya.

Dikutip dari UN News, tercatat sebanyak 164 negara menyetujui dengan adanya perubahan besar ini, satu negara yang menentang, dan enam negara lainnya abstain.

Hanya Amerika Serikat yang menentang proyeksi “Equal Earth” dan menyebutnya proyek ideologis yang radikal.

Proyeksi Mercator

Peta Mercator hingga saat ini masih banyak digunakan di berbagai negara di dunia. Dibuat oleh kartografer Gerardus Mercator pada tahun 1569 untuk membantu navigasi pelayaran pada masa itu.

Proyeksi Mercator memiliki kelemahan berupa distorsi luas wilayah yang makin jauh dari garis khatulistiwa.

Akibatnya, jarak Norwegia ke Greenland tampak sangat jauh, dan Greenland terlihat lebih luas daripada Indonesia, seharusnya wilayah Indonesia jauh lebih besar.

Peta Mercator masih digunakan sampai saat ini, baik di dalam ruang kelas, di pelajaran sekolah, dan penggunaan peta datar lainnya masih mengunggulkan proyeksi yang diciptakan oleh Gerardus Mercator ini.

Teknologi saat ini seperti Google Maps juga masih mengandalkan proyeksi ini.

Ilustrasi Peta Dunia. [Pixabay]

Equal Earth

Para pendukung resolusi menilai distorsi pada proyeksi Mercator berdampak buruk pada pendidikan, pemahaman publik, geopolitik, hingga persepsi atas potensi Afrika dan di daerah lainnya.

Karena itu, pemetaan yang akurat penting demi mewujudkan keadilan dan representasi yang adil. Mewakili Kelompok Negara Afrika, utusan Togo menegaskan bahwa PBB secara bertahap terus memperbaiki ketimpangan historis tersebut.

Dikutip dari UN News, proyeksi “Equal Earth” sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyudutkan negara, budaya, atau wilayah mana pun.

Tujuannya murni untuk mengenalkan peta yang bisa menampilkan ukuran asli benua-benua secara lebih proporsional.

Memerangi Praktik Neo-Kolonialisme

Rusia menyatakan dukungan terhadap Proyeksi Equal Earth ini. Rusia konsisten untuk melawan warisan kolonialisme dan memerangi praktik Neo-Kolonialisme.

Oleh karena itu, negaranya mendukung upaya negara-negara Afrika untuk memulihkan keadilan historis dan memperkuat perannya sebagai salah satu pusat kekuatan yang berpengaruh di dunia.

Amerika menjadi satu-satunya negara yang menentang resolusi, menurutnya rancangan tersebut merupakan sesuatu yang berbahaya dan merupakan praktik ideologi radikal yang dapat mengancam.

Sementara itu, Ukraina mengemukakan keberatannya terkait penggambaran wilayahnya yang sedang diduduki oleh Rusia dalam proyeksi Equal Earth.

Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com