wawancara / wawancara
Arsito Hidayatullah
Togu Simorangkir. [Akun Instagram togusimorangkir]

Suara.com - Ia sebetulnya bisa saja memilih hidup mapan, tinggal di Jakarta, berkarir sebagai direktur sebuah NGO asing dengan gaji besar berbentuk dolar. Kesempatan itu terbuka lebar terutama karena dirinya peraih gelar Master of Science bidang Primate Conservation dari Oxford Brookes University, Inggris.

Tetapi lelaki yang masih berdarah biru karena merupakan cicit pahlawan nasional Raja Sisingamangaraja XII memilih menjadi pegiat sosial. Sebagian besar orang Batak niscaya bakal mengangap dia nyeleneh. Betapa tidak? Karena dalam kultur Batak ada istilah 3H yang dianggap sebagai ukuran pencapaian yakni hamoraon (memiliki banyak harta), hasangapon (sangat dihormati), dan hagabeon (kesuburan, memiliki banyak keturunan).

“Aku tetap memegang hamoraon, hagabeon, dan hasangapon tapi dengan terminologi yang berbeda. Hamoraon bagi aku adalah banyak teman. Hasangapon ya hidup kita berdampak buat orang lain. Hagabeon-nya kita jadi inspirasi buat banyak orang,” katanya bersemangat sambil tak lupa menenggak tuak.

Apa yang mendasari keputusannya tersebut?  ”Menurut saya, kita harus punya kata cukup...saya mencukupkan diri 7 tahun menjadi direktur Yayasan Orangutan Indonesia... itu cukup. Dan saya pulang,” ucap ayah Nous, Bumi, dan Langit.

Baca Juga: dr Dirga Sakti Rambe: Ada atau Tak Ada Vaksin Covid-19, Tetaplah 3M

Pertama yang ia lakukan saat kembali ke kampung adalah menginisiasi gerakan literasi. Ia prihatin melihat anak-anak di kitaran Danau Toba terutama yang tinggal di daerah terpencil banyak yang harus putus sekolah. Padahal pendidikan bagi orang Batak itu maha penting.

Ia lalu mendirikan Yayasan Alusi Tao Toba guna mengubah keadaan dengan memberi pendidikan kepada masyarakat, khususnya kanak-kanak.

Kini, ia telah menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan Yayasan Alusi Tao Toba kepada generasi yang lebih muda. Tapi ia tetap berkarya-bergerak. Lewat Togu Simorangkir Initiatives ia saat ini mengurusi orang-orang dengan gangguan jiwa yang terlantar di jalan-jalan serta para tunawisma.

Sebuah rumah yang ia kontrak 3 tahun bersebutan Rumah Langit ia sediakan untuk tempat tinggal siapa pun yang datang.

Banyak mimpi yang hendak ia wujudkan. Sebagian rencana itu ia ungkapkan dalam wawancara via zoom yang berlangsung selama satu jam lebih. Pria yang suka bicara blak-blakan ini juga mencurahkan rasa gemas pada sebagian aparatur sipil negara (ASN) yang menurutnya belum tersentuh nilai-nilai revolusi mental yang telah dicanangkan Presiden Jokowi sejak 2014.

Baca Juga: Wawancara Najelaa Shihab: Krisis Pendidikan Kita Diperparah Pandemi

“Ketika Pak Jokowi bilang revolusi mental, ya apa... yang ada di daerah itu revolusi mentel [istilah orang Medan yang artinya belagu. Red].”

Berikut petikan lengkap wawancara Rin Hindryati, kontributor Suara.com dengan Togu Simorangkir yang sebelum memulai percakapan meminta izin untuk bisa berbincang sambil minum tuak:

Apa kabar?

Baik-baik Kak. Kakak sehat?

Sehat, Amin. Kok itu kaosnya [bertuliskan] Boslebay.

Bos lebay ini brandingku Kak.

Apa itu maknanya?

[Ini singkatan] Beras organik, sapi, lele, bebek, ayam.

Usaha baru?

Gak. Saya kan petani.

Oh baik. Seperti sudah saya sampaikan, kita mau ‘ngobrol’ tentang kegiatan Bang Togu selama ini. Sudah bisa kita mulaikah?

Bisa kak, bisa. Aku sambil minum tuak [minuman beralkohol dari pohon nira. Red] ya.

Aku juga sambil ngopi deh...

Hahaha. Iya kak, gimana?

Bagaimana pandemi di [Pematang] Siantar? Situasinya seperti apa?

Situasi di Siantar ya, ada yang positif. Tapi akhir-akhir ini memang pemerintahnya sudah tidak inform lagi. Biasanya itu ada informasi lah, update-update terkini. Tapi saat ini gak ada lagi Kak.

Saya mau menanyakan soal aktivitas sosial terkini Bang Togu terkait bantuan kepada mereka yang terdampak pandemi COVID-19. Bisa diceritakan bagaimana seorang Togu Simorangkir melakukan hal itu?

Jadi sebenarnya, asal-muasalnya itu ketika saya diingatkan media sosial Facebook persis satu tahun  menerima Anugerah Kick Andy Heroes 2019 [Pada Maret 2019 ia dianugerahi Kick Andy Heroes untuk dedikasinya pada pendidikan anak-anak di Pulau Samosir lewat yayasan Alusi Tao Toba yang ia dirikan pada 2009.Red].

Lalu tercetuslah untuk membuat Togu Simorangkir Inisiative. Karena saya berpikir kalau gerakan kebaikan yang saya lakukan selama ini, hanya di Alusi Tao Toba untuk literasi, maka itu akan mati-mati di literasi.  

Saya ingin hidup berdampak lebih luas lagi. Jadi saya meluncurkan Tugu Simorangkir Inisiative. Waktu itu pertama kali kita bikin gerakan namanya Ratu Gadis [singkatan dari] Rakyat Bantu Tenaga Medis COVID-19.

Jadi kita memberi bantuan APD dan juga beberapa vitamin. Semualah, untuk kebutuhan tenaga medis di puskesmas,  rumah sakit. Sampai saat ini, aktivitas kita sudah tersebar di 17 kabupaten, kota di Sumatera Utara dan dua propinsi di luar Sumatera Utara. Dan itu semua berkat dukungan dari orang-orang baik.

Nah [seiring] berjalannya waktu,  pada tanggal 15 Mei 2020, kita meluncurkan gerakan kedua di bawah Togu Simorangkir Inisiative yaitu Beka Manise, yang merupakan kepanjangan dari Berikan Kami Makanan Hari Ini Secukupnya.

Jadi pada prinsipnya kita membuka sebuah steling, siapa aja bisa memberi ke situ, siapa saja bisa ambil di situ. Itu [lokasinya] dekat Pasar Dwikora Parluasan, di [Kecamatan] Siantar Utara. Ya, luar biasa. Hari ini sudah hari ke-193, kalau tidak salah. Karena memang di Hari Minggu kita off waktu itu.  Tapi dalam prosesnya, setelah kemarin Pilkada serentak....

Sebelum pilkada serentak, memang kita stop yang stelingnya. Kita lebih kepada mobile: jadi on the road kita mengunjungi orang-orang dengan gangguan jiwa di jalanan, homeless, pemulung. Kita berbagi nasi. Semua nasi itu adalah sumbangan dari orang-orang baik. Begitu Kak.

Sejauh ini tantangan apa yang paling berat dihadapi? Apakah sisi penggalangan dana? Karena kan semua juga sedang susah. Lalu bagaimana sistem kerjanya sehingga donasi itu tepat sasaran kepada mereka yang membutuhkan?

Sebenarnya tantangannya Kak, bukan di dana kalau menurut saya. Karena saat ini pun kas kita sangat banyak, Kak, sekitar 40an juta. Tapi lebih kepada kemampuan kita untuk men-deliver itu kepada orang-orang yang tepat. Jadi kendala kita adalah manusianya, SDM-nya, relawannya.

Jadi [mencari] orang yang benar-benar mau bergerak secara tulus dan ikhlas dan militan. Itu yang kita sulit dapatkan.

Dan, ya relawan berganti... Ya Puji Tuhan saat ini ada memang relawan-relawan tetap yang memang setia berkomitmen. Salah satunya ada namanya Ali Hartono. Dia memiliki sebuah usaha, kedai kopi Soetomo. Dia hampir setiap hari berkeliling, membagikan nasi donasi yang kita terima.

Jadi kalau dibilang kendala dana, tidak. Karena saya rasa banyak orang-orang baik di luar sana yang juga ingin terlibat dalam gerakan Beka Manise. Tapi justru kita yang kadang-kadang membatasi. Seperti hari ini: ada satu orang yang berulang tahun, Inang Desri Sumbayak. Ulang tahunnya kemarin. Dia ingin berbagi 26 bungkus nasi. Terus saya, ’bilang boleh gak 13 aja.’ Karena apa? Karena sore nanti pun ada yang berulang tahun dari sini, ingin juga berbagi 15 bungkus nasi.

Kita [menghadapi] keterbatasan SDM-nya. Kalau donasinya mengalir terus. Karena apa? Karena kita update terus informasinya di media sosial. Memang kita bergerak, jadi bukan sekedar terima donasi terus tidak bergerak. Kita bergerak. Malah kendalanya ya manusianya, relawannya. Kadang-kadang susah mencari orang-orang yang konsisten melakukan gerakan di jalan yang sunyi ini.

Kalo di tingkat nasional kan kita mengenal platform kitabisa.com, misalnya, sebagai tempat untuk menggalang donasi dan menyalurkan ke pihak yang membutuhkan. Apakah Togu Simorangkir Initiative ini juga memiliki platform seperti itu untuk fundraising?

Tidak Kak. Enggak. Jadi semuanya masuk ke rekening Togu Simorangkir Initiative. Misalnya kita bikin seperti ini: dengan berdonasi Rp. 120.000, kamu sudah berbagi 15 bungkus nasi kepada orang-orang yang membutuhkan.

Jadi kita membeli nasi dengan harga Rp. 8.000 tapi memang sangat layak makan. Porsinya besar, karena orang-orang di jalan ini butuh porsi yang banyak. Lauknya juga itu ayam, ikan, dan sayur. Kita juga kasih air minum.

Jadi banyak apa ya menurut saya... kalau saya posting sekarang pun [mengatakan] saya butuh 30 nasi bungkus, misalnya, saat ini, itu pasti akan ada orang-orang yang ingin membantu. Karena apa? Karena semuanya riil. Kita laporkan semuanya secara secara riil.

Jadi menurut saya dengan memposting ’masuk ke rekening Togu Simorangkir Initiative’ pun, kita sendiri sudah kewalahan sebenarnya mendistribusikan itu.

Makanya saat ini kita tidak terlalu jorjoran untuk menggalang dana. Karena memang begini, Kak... jadi sebelumnya, sebelum Pilkada itu kita punya namanya Beka Manise on the road. Itu adalah kegiatan setiap Sabtu, kita jalan, kita isi mobil dengan belanjaan seharga Rp. 2.000.000, ada sayur-sayuran, sembako. Dan kita datangi ke sebuah desa, kita buka. Jadi orang-orang [tentu dengan]  protokol kesehatan, mereka bisa antri untuk mengambil barang-barang yang di mobil secukupnya.

Sebelum Pilkada [kegiatan itu] kita stop, karena kita tidak ingin ada conflict of interest dari beberapa orang ya kita off-kan. Jadi, biasanya sih sebulan itu kita bisa 10 jutaan Kak, dana operasionalnya. Di luar donasi yah. Di luar donasi orang.

Jadi, kita beli nasi, sayuran; kita juga beli susu untuk anak-anak. Tapi karena memang 3 bulan ini kita off, lantaran pilkada, jadi akhirnya numpuk deh donasinya. Jadi ada 40-an juta. Tapi nanti mulai Januari kita akan mulai lagi bergerak untuk mengunjungi desa-desa atau dusun-dusun atau kelurahan yang ada di Siantar, Simalungun.

Kalau menurut Bang Togu, kenapa sih kok susah mencari relawan yang dapat membantu mobilisasi bantuan. Dananya kan ada, tinggal didistribusikan. Itu kan pekerjaan yang tidak terlalu sulit. Kenapa sulit mencari SDM?

Ya, kadang-kadang mungkin [karena] keterbatasan waktu. Dan juga kita tidak ada istilah uang jalan. Kita keliling setiap hari itu Kak, kita isi minyak atau bahan bakar sendiri. Jadi kita tidak ada biaya operasional untuk berkeliling itu. Jadi semua donasi itu, benar-benar untuk si penerima manfaat. Jadi tidak ada biaya operasional. Dan itu yang saya bilang tadi, saya kesulitan mencari orang-orang yang dengan semangat TIM. Tim itu singkatan dari Tulus Ikhlas dan Militan.

Ha, banyak banget singkatannya yah?

Iya, saya raja singkatan Kak.

Haha, begitu ya.

Kata orang...

Togu Simorangkir Initiative ini kan merupakan lanjutan dari rentetan aktivitas sosial Anda sebelumnya yang lebih banyak bergiat di mana orang lebih banyak mengenalnya di dunia literasi. Bisa ceritakan pengalaman Anda?

Sebelumnya orang utan malah.

Iya. Nah Togu Simorangkir Inisiative itu lembaga atau apa ya Bang?

Ya sebenarnya itu hanya sebuah inisiasi atau apa ya, gerakan. Jadi begini, Kak. Saya punya banyak mimpi, punya banyak ide. Tapi saya bukan orang yang berada; Saya bukan orang yang berlebihan uang, tapi saya punya inisiatif untuk membuat sebuah gerakan. Kadang-kadang gerakannya itu spontan. Nah, bagaimana [ceritanya] saya dengan gerakan Togu Simorangkir ini.

Sebenarnya gini.. saya ingin share mimpi ini; saya teriakkan mimpi saya; saya ingin banyak orang tersesat di jalan yang benar mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Togu Simorangkir Initiataive.

Jadi sebenarnya ini belum menjadi  lembaga yang legal, karena kita belum berakte notaris. Tapi ya itu, trust aja. Saat ini masih trust, tapi mudah-mudahan suatu saat nanti bisa jadi lembaga yang formal.

Karena memang ya mulai dari 2013, mainnya kan di literasi yah. Bahkan sudah sejak 2003 ketika di Kalimantan pun sudah mulai gerakan literasi sampai kemarin 2019 memutuskan untuk memberikan tongkat estafet kepada teman-teman lokal di Samosir untuk Alusi Tao Toba. Dan apa ya... saya ingin bagaimana gerakan ini akan banyak... dengan tagline bridge of kindness atau jadi jembatan kebaikan. Kita bagaimana menghubungkan orang-orang baik di luar sana kepada orang-orang yang ingin membutuhkan. Jadi kita hanya jembatan saja sih sebenarnya. Tidak lebih dari itu. Jadi ya apa ya...Itulah.

Jiwa sosial itu sendiri muncul sejak kapan ya Bang? Karena saya tahu kalau Bang Togu ini berdarah biru karena masih kerabatnya [cucu] Sisingamangaraja.

Haha

Kalau bagi orang Batak apa yang Anda lakukan, misalnya ke jalan-jalan mengurusi orang-orang dengan gangguan jiwa atau bergerak tanpa pamrih menolong orang lain, sepertinya against the mainstream. Dari mana ya tumbuh jiwa sosial seperti itu dan sejak kapan tergerak untuk mendedikasikan diri ke kegiatan sosial?

Sebenarnya kita dibentuk oleh lingkungan terkecil. Lingkungan terkecil itu adalah keluarga. Aku bisa seperti saat ini karena aku melihat [sosok] seperti ibu saya. Mamak itu bidan desa. Dia banyak menolong orang partus [bahasa Batak yang artinya melahirkan. Red), melahirkan tapi tidak berbayar karena memang orang-orang di desa tidak punya uang.

Bapak itu jiwa sosialnya sangat tinggi; jiwa pertemanannya sangat luar biasa.  Jadi, hidup dia itu untuk teman dan untuk gereja. Jadi dia punya uang, diberikan semuanya untuk bangun gereja. Kadang kita juga berpikir, kok semua ke orang lain, ke orang lain, ke orang lain.

Ternyata memang, ya aku melihat itu dari kedua orang tua.

Sampai SMA, aku itu bandelnya luar biasa, makanya dibuang sama mamak ke Jakarta. ‘Udah ke Jakarta kau.’ Karena memang dulu sangat bandel sekali ketika di Siantar, SMA.

Lalu, mulailah kuliah di Unas (Universitas Nasional, Jakarta) Fakultas Biologi, bertemu dengan teman-teman, maka terciptalah bentukan teman-teman di Unas, akhirnya mulailah di kegiatan-kegiatan Civil Society. Akhirnya sempat ngurusin orang utan 12 tahun, masuk hutan belantara, membangun literasi di pedalaman Kalimantan Tengah sampai akhirnya memutuskan pulang dan menemani mamak yang kesendirian.

Ya udah, dan akhirnya karena memang passionnya udah di gerakan sosial, ya akhirnya mendirikan Alusi Tao Toba. Saat di Alusi Tao Toba, saya sendiri pun tidak digaji. Jadi ya pada prinsipnya ada role model kita lah. Kalau saya sih orangtua saya.

Padahal kesempatan untuk hidup lebih berkecukupan kan terbuka. Apalagi Anda sempat bersekolah ke Oxford ambil program master degree. Tapi kok mau kembali lagi ke desa dan melakukan hal-hal yang barangkali gak semua orang mau melakukannya. Apakah ada peristiwa yang menjadi turning point sehingga memilih jalan ini?

Ya awalnya sih sebenarnya hanya... kita setiap orang harus punya kata cukup. Ketika saya dapat beasiswa dari Oxford Brookes University... karena mimpinya dulu waktu masih kuliah di Unas itu mau kuliah S2 di luar negeri. Itu mimpinya. Sampai akhirnya dari pekerjaan dulu mau ditawarin S2 di UI, beasiswa, saya menolak karena memang mimpinya di luar negeri.  Dan tujuan sebenarnya kenapa ingin [kuliah] di luar negeri adalah karena ingin lihat salju, Kak.

Ha... itu saja? Se-simple itu?

Iya, hanya karena pengen lihat salju. Makanya begitu di Oxford itu saya lihat salju dan ketika mau selesai saya ditawari S3 di Cambridge, saya gak mau. Mimpi saya S2, dan saya udah lihat salju. Enough.

Jadi saya memutuskan pulang ke Indonesia tepatnya ke Kalimantan dan pada saat itu juga saya ditawarin kerja di London. Oh no, saya harus pulang ke Indonesia, saya mau menerapkan ilmu yang saya dapatkan selama satu tahun di Oxford untuk bagaimana mengembangkan konservasi orang utan di Indonesia.

Jadi menurut saya memang kita harus punya kata cukup. Dan waktu itu, mencukupkan diri mengurusi orang utan. Waktu itu saya menjadi direktur Yayasan Orangutan Indonesia. Saya mencukupkan diri 7 tahun sebagai direktur dan saya men-deliver semua pekerjaan ke teman-teman yang lebih muda. Itu cukup. Dan saya pulang.

Dan saya yakinin, 3 tahun terakhir ini lebih banyak kampanye menyerukan orang pandai bahwa masa depan itu di desa.

Saya yakin bahwa di desa itulah masa depan. Bukan di kota besar. Masa depan itu ada di desa. Juga ada potensi yang bisa kita gali dan kita kembangkan.

Dan hidup di desa tenang aja kan. Gak ada macet. Kita makan hanya dengan daun ubi [daun singkong], enaknya luar biasa; makan dengan ikan asin, enaknya luar biasa. Jadi, apa sih yang mau kita cari kan. Gitu sih. Jadi artinya meninggalkan zona nyaman itu memang tidak mudah bagi sebagian orang. Tapi saya ya, waktu itu meninggalkan pekerjaan dengan gaji waktu itu kalau dirupiahkan sekitar Rp 18 juta.

Juga ketika mau pulang, menolak pekerjaan dari Uni Eropa. Saya bilang saya mau pulang kampung, saya sudah bikin Yayasan Alusi Tao Toba. “Terus lu digaji berapa di sana?” Gak digaji. “Trus lu makan apa?” Gua numpang ama emak gua. Jadi [pertanyaan] kayak-kayak gitu muncul.

Kadang-kadang kita tidak punya alasan yang sangat kuat saat ingin mendapatkan sebuah ide. Misalnya alasan nyeleneh mimpi saya saat ingin ambil S2 ke luar negeri. Kan hanya ingin melihat salju makanya saya pengen kuliah di Inggris.

Apa dorongan terbesar sehingga Anda yakin atas keputusan untuk meninggalkan Jakarta padahal karir menjanjikan dan bergaji besar? Kenapa memilih pulang ke desa?

Yaa... karena saya pikir [juga] kita sebagai seorang anak sudah saatnya...apa ya, mamak sudah membesarkan saya, saatnya juga... kan dulu itu ada meme-meme bilang seperti ini: seorang ibu bisa merawat, mendidik dan membesarkan 10 anaknya, tapi 10 anak belum tentu bisa merawat ibunya.

Dan saya tidak mau bagian dari itu. Jadi saya memutuskan untuk pulang, nemanin ibu saya. Dan memang [karena] passion-nya ke sosial, yah tetap aja bikin kegiatan-kegiatan sosial. Bertani.

Ya memang secara finansial terjun bebas Kak. Tapi secara happiness-nya luar biasa. Saya merasa lebih tinggi. Justru ada yang lebih lucu lagi menurut saya, gilalah kata orang, yaitu ketika pada saat itu di tahun 2010 saya mendapatkan email dari Oxford diundang jadi pembicara untuk 10 years anniversary primate Conservation host-nya Oxford Brookes University. Saya udah urus visa, sudah urus tiket, dsb., tapi tidak lama kemudian ada SMS [pada waktu itu belum jaman WA] dari Kepala Desa Pardomuan di Kecamatan Simanindo, Samosir, yang mengatakan: ini ada lumbung padi yang bisa kalian pake untuk jadi perpustakaan.

Dan seketika aku buka laptop, kirim email ke Oxford. Aku bilang: sorry saya tidak bisa meninggalkan Indonesia pada saat ini, karena ada hal yang jauh lebih penting. Ya pada saat itu, saya membuang kesempatan untuk melepas rindu kembali ke Oxford kan. Setelah 7 tahun. Karena kan 2003 saya pulang, 2010 saya diundang kembali ke Oxford.

Membuang uang sakunya, uang pesawatnya, terus ya semua kenangan-kenangan waktu masa sekolah di sana. Tapi ya karena sebuah komitmen ingin membangun sesuatu di Danau Toba pada saat itu, jadi ya bagaimana hidup kita bisa fokus ke situ aja.

Jadi kalau dibilang ada penyesalan? Gak ada. Justru saya nyesal kalau tidak pulang. Haha...

Jadi kalau saya lihat, rentetan keputusan penting dalam hidup Anda itu dibambil spontan saja. Tidak banyak pertimbangan yang muluk-muluk. Keputusan diambil dengan begitu cepat.

Aku ini orang spontan, Kak. Ketika aku ada ide, langsung aku eksekusi. Aku tidak memikirkan bagaimana caranya gitu, atau bagaimana nantinya. Kuambil, eksekusi, kujalani aja. Dapat-dapat di situnya Kak [artinya: akan ada jalannya sendiri. Red].

Jadi aku bukan tipe orang yang perfeksionis. Aku lebih kepada, ya [kalau] aku punya ide seperti Beka Manise: ada ide, langsung eksekusi. Jadi... gitu. Berbeda dengan Rumah langit yang saat ini ya. Itu mimpi enam tahun.

Rumah Langit ini untuk orang-orang dengan gangguan jiwa itu ya bang?

Betul.               

Gimana ceritanya sehingga muncul ide ini Bang. Apa peristiwa 6 tahun lalu yang membuat Anda berpikir untuk mendirikan Rumah Langit ini?

Waktu itu, 6 tahun lalu, saya lagi jualan air minum isi ulang, lalu saya melihat seseorang yang mengambil makanan dari tempat sampah. Saat itu saya bilang: Tuhan suatu saat saya ingin punya rumah singgah, rumah tinggal bagi mereka-mereka, yakni orang dengan gangguan jiwa yang hidupnya di jalanan, yang terlantar.

Ya aku juga gak tahu, sudah 6 tahun mimpi itu dipelihara terus dan kenapa Tuhan juga izinkan terwujud di masa pandemi ini. Tanggal 10 Oktober kemarin [Rumah Langit] berdiri bertepatan di hari kesehatan jiwa internasional. Jadi ya aku juga bingung.

Tuhan caranya aneh. Kerja-Nya aneh.

Jadi Rumah Langit adalah rumah singgah bagi orang dengan gangguan jiwa dan homeless, tunawisma. Jadi di sini, seperti hari ini ada 3 penghuninya, itu yang kita ajak rutin berobat, minum obat. 

[Untuk] Itu semua, dana kita galang. Itu semuanya gratis di sini. Makanan, semuanya disiapkan. Mereka tidur dengan kasur, pakai selimut, pakai bantal. Tadinya mereka hidupnya di jalanan. Tapi ini khusus yang di jalanan ya. Mereka tidak punya keluarga atau dibuang keluarga.

Yang masih tinggal bersama keluarga, itu tidak kita terima walapun dibayar. Aku sudah sering dihubungi, mereka bilang: kita bayar berapa pun biayanya. Oh, bukan itu misinya Rumah Langit. Bahwa kita hanya [rumah untuk] orang-orang yang terlantar. Jadi apa  ya Kak... This is not bussiness. This is pure social.

Bagaimana pandangan orang Batak terhadap orang gila ya, Bang? Bagaimana perlakuan keluarga terhadap mereka?

Ya, pertama aku mau koreksi dulu ya, Kak. Mari kita buang stigma orang gila bagi mereka. Mereka bukan orang gila, mereka adalah orang dengan gangguan jiwa. Yang gila itu kita, mau urusin mereka yang bukan keluarganya. Kan itu. Jadi ya gila itu kita. Para relawan-relawan Rumah Langit itu yang gila karena bukan keluarganya kok diurusin.

Ya pada dasarnya bagi orang Batak... saya pikir bukan tentang kesukuan Batak aja tapi bagi banyak keluarga, banyak suku juga yang ketika ada orang dengan gangguan jiwa anggota keluarganya, itu kadang-kadang menjadi kayak sebuah aib. Makanya itu banyak terjadi yang pada hidupnya di jalanan. Karena [mereka] itu dibuang kan.

Jadi ya bukan Batak aja sih sebenarnya. Tapi semua suku kalau menurut saya, mereka itu malu aja kalau ada anggota keluarganya yang dengan gangguan jiwa. Kadang-kadang saya selalu bilang ketika ada orang mau menitipkan ke sini. Saya bilang mereka [orang-orang dengan gangguan jiwa] yang tinggal bersama keluarga, itu 50 persen sembuh. Mereka harus dirangkul, dikasihi. Bukan malah dibuang. Makanya di Rumah Langit sendiri, kita banyak relawannya, banyak orang yang datang supaya apa... karena teman-teman ODGJ ini, sodara-sodara kita ini, mereka membutuhkan banyak cinta, mereka membutuhkan banyak kasih sayang. Dan puji Tuhan dalam 2 bulan ini, progress dari 3 penghuni ODGJ itu luar biasa.

Ada diberi pengobatan juga ya Bang?

Kita bawa berobat ke psikiater. Hari ini kita bawa berobat rutin, minum obat pagi dan malam. Ada kegiatannya. Jadi setiap penghuni itu akan punya program-programnya, tergantung interest mereka masing-masing. Tapi mulai besok sepertinya kita akan mulai buat kue natal, kembang loyang. Jadi nanti jual kembang loyang. Dan itu tabungannya nanti akan buat mereka. Mereka akan punya tabungan. Uangnya untuk mereka. Jadi karena kita ingin menyiapkan mereka menjadi manusia mandiri.

Rumah yang saat ini dihuni, milik siapa siapa, Bang. Atau ada donatur yang menyerahkan rumahnya untuk dipakai?

Itu kita sewa, Kak. Jadi pada saat itu, aku minta waktu sama yang punya rumah, seminggu untuk mengumpulkan uang Rp. 45.000.000 untuk 3 tahun. Terus kita mulai bikin posting di media sosial dan Puji Tuhan dalam waktu 34 jam, terkumpul Rp. 48 juta.

Wah, hebat.

Iya, tidak sampai 2 hari, hahaha. Padahal minta waktunya seminggu. Itu yang aku bilang bahwa  ketika ketulusan dan keikhlasan mendasari gerakan kita, Tuhan itu akan bekerja nya luar biasa.

Jadi selalu ada jalan ya.

Iya. Aku apa yah… Akhir-akhir ini aku jarang ke gereja. Jujur Kak. Aku jarang gereja, ya karena apa... aku jarang baca Alkitab, ya karena menurut aku udah kulakukan baca baca Alkitab mulai dari sekolah Minggu kan begitu. Dari kecil, saatnya sekarang mungkin implementasi. Untuk apa kita baca-baca firman terus tapi tidak dilakukan. Sekarang implementasinya. Sudah cukuplah yang ke gereja itu. Haha...

Nah, orang dengan gangguan jiwa sendiri kalau di sekitar Siantar itu yang berkeliaran banyak nggak sih Bang?

Banyak, banyak. Justru kan yang sering terjadi adalah pembuangan antar daerah. Bawa dari kabupaten kota yang lain lalu dibuang ke Siantar. Dari Siantar dibuang ke tempat yang lain. Ya itulah pekerjaan pemerintah kita.

Maksudnya mereka dibuang di jalan begitu?

Iya, jadi pindah kabupaten dan kota, Kak. Itu sudah rahasia umum.

Artinya mereka dibawa dari satu kota ke Kota Pematangsiantar lalu dilepas begitu saja?

Bukan dibuang di kotanya, Kak. Itu di perkebunan nanti. Jadi dari perkebunan ini, mencar semua ke mana-mana orang.

Jadi mereka dipindahkan bukan untuk ditampung di satu tempat tapi dilepas begitu aja? Kasihan sekali.

Iya, [dilepas] di perkebunan. Itu tengah malam. Mereka-mereka ini penjahat-penjahat kemanusiaan sebenarnya. Itu perlu ditembak mati. Kalau kedapatan itu perlu ditembak mati aja orang-orang yang membuang-buang ODGJ.

Jadi mereka akan kebingungan mencari jalan pulang karena sudah berada di daerah yang asing bagi mereka.

Iya, sudah [berada] di daerah yang berbeda.

Nah bagaimana caranya mengajak mereka untuk pulang ke Rumah Langit?

Kok kecil suaranya, Kak? Aku pake handsfree deh... Nah baru kedengaran lagi. Ok, Kak.

Saya ulang pertanyaannya ya: gimana mengajak mereka untuk pulang ke Rumah Langit yang tentunya asing juga buat mereka?

Jadi, ketika kita berbagi nasi setiap hari kepada mereka, kita selalu tawarkan bahwa kita ada rumah, kamu bisa tinggal di situ. Kamu bisa makan, makan yang enak, hidup yang bersih, kamu bisa tidur yang nyenyak, kamu bisa mandi. Itu kita tawarin. Jadi cara kita, kita tidak memaksa mereka. Kita lebih menawarkan, ini ada tempat. Makanya Rumah Langit itu, kita tidak bicara tentang kuantitasnya, berapa banyak penghuninya, tapi bagaimana kualitas hidup dia. Karena misinya kan adalah bagaimana memanusiakan mereka.

Yang saat ini tinggal di Rumah Langit, bukan dari daerah Siantar ya Bang?

Bukan, itu dari luar kota. Sekarang penghuninya ada lima, tiga yang ODGJ, dua yang homeless.

Togu Simorangkir dan gerobak jualan sayurnya. [Akun Instagram togusimorangkir]

Apa mimpi Anda dengan mendirikan Rumah Langit ini?

Ya, mimpiku sebenarnya Rumah Langit cepat tutup Kak. Itu artinya pemerintah udah kerja. Saat ini kan pemerintah tidak bekerja, makanya masih banyak orang-orang yang hidupnya di jalanan. Padahal kan undang-undang mengatakan bahwa orang-orang terlantar dipelihara oleh negara.

Kan ada departemen sosial yang seharusnya bertanggung jawab Bang.

Betul. Jadi mimpinya bukan semakin banyak penghuninya. No!  Kalau bisa tutup! Begitu. Kalau bisa tahun depan tutup. Itu artinya pemerintah udah kerja. Tapi selama pemerintah belum kerja, Rumah Langit akan terus bergerak.

Karena mereka juga punya hak yang sama dengan orang-orang yang seperti kita. Mereka punya hak untuk tidur nyaman, mereka punya hak untuk makanan yang bersih. Mereka juga punya hak untuk bisa mandi. Itu, Tapi selema ini mereka tidak mendapatkannya. Karena pemerintahnya gak kerja.

Jadi, apa yang harus dilakukan pemerintah Bang?

Ya sebenarnya kerja aja. Jangan di kedai kopi aja kerjanya. Kerja yang benar gitu. Kemarin itu kita juga ditawarkan untuk dana APBD. Kita tolak. Karena apa? Bukan itu solusinya. Saya tidak butuh dananya, saya butuh mereka punya KTP. Supaya mereka miliki BPJS; supaya mereka bisa minum obat seumur hidup mereka. Mereka gak mau kerja karena kalo mereka kerja bisa aja kan dibikinin KTP-nya, dibikin BPJS-nya. Itu kerja, gito loh.

Apakah ini ada kaitannya dengan mindset yang menganggap orang-orang dengan gangguan jiwa sebagai warga kelas dua? Jadi ada diskriminasi terhadap mereka.

Kalau menurut aku begini ya, mindset mereka sebagai pelayan masyarakat yang harus diubah. Tidak ada diibaratkan warga kelas satu, kelas dua; semua warga negara sama kok. Karena mentalnya apa, mentalnya itu mental budak. Selalu menjadi penyembah orang-orang yang hebat.

Ketika ada orang-orang ini di jalanan, mereka abaikan itu.

Terus ketika masuk menjadi ASN itu, [caranya] nyogok atau bagaimana. Atau panggilan hati. Ya kalau nyogoknya masuk ASN, ya begitu kualitas ASN-nya. Gak peduli mereka dengan programnya. Sekarang Mensos aja korupsi! Kita pontang-panting di sini. Walaupun dana kita banyak tetap kita bagaimana bisa tawar-tawar produk-produk yang mau kita bagikan dengan kualitas yang bagus. Eeeh, dia korupsi.

Di Kota Siantar sendiri banyak lembaga yang mengurusi orang-orang dengan gangguan jiwa?

Banyak Kak, banyak. Tapi kan mereka bentukannya yayasan karena mereka kan pusat rehabilitasi. Jadi berbayar. Ada. Tapi kalau kita kan memang misinya sosial. Yang [bentuknya] yayasan-yayasan gitu banyak kok. Ya itu difokuskan kepada anggota keluarganya yang kena gangguan jiwa, ya dimasukkan ke yayasan. Kalau kita meng-cover orang-orang yang dilupakan, yang di pinggir jalan itu.

Bang Togu bisa cerita sedikit tentang keluarga? Anda kan cucunya Sisingamangaraja. Itu dari garis ibu atau bapak ya?

Dari garis bapak, Ompung Bapak. Yang melahirkan bapak saya, itu putrinya Sisingamaraja XII. Jadi, bapak saya itu cucunya Sisingamangaraja XII. (Togu adalah cicit dari Raja Sisingamangaraja XII. Opung (nenek) Togu bernama Purnama Rea Sinambela adalah putri dari Raja Sisingamangaraja XII. Red)

Tapi kita kan orang batak. Orang batak itu yang membawa silsilah itu kan dari pihak laki-laki. Kalau kita perempuan kan hanya boru kan ya enggak.  Jadi sering gak dianggaplah. Gak apa-apa sih. Gak perlu juga dianggap. Hahaha...

Ada beban gak sebagai keturunan langsung Sisingamangaraja XII?

Kalau beban, enggak sih Kak. Jadi, apa ya... Kalau aku sih pada prinsipnya apa yang bisa kulakukan ya aku lakukan. Tapi kalau dibilang semangat Sisingamangaraja, ya aku melihatnya ada di dalam diriku. Tapi bukan jadi beban. Karena memang zamannya sudah berbeda. Ketika itu Sisingamangaraja melawan Belanda, saat ini ya kita kan... ya aku sendiri melawan pemerintah sendiri, yang tidak bekerja. Kan begitu...

Ada gak prinsip hidup atau filosofi yang diturunkan dari Sisingamangaraja XII yang Anda terapkan hingga saat ini?

Gak ada. Karena, pertama aku juga waktu itu dengan Ompung tidak terlalu dekat karena memang merantau terus. Apa ya... Kalau menurut aku sebenarnya pesan-pesannya itu sebenarnya ya hiduplah berdampak buat orang lain. Apa pun itu, apa pun bidangmu. Hiduplah berdampak untuk orang lain.

Selain membuat Rumah Langit untuk orang orang dengan gangguan jiwa, Bang Togu juga aktif membantu orang-orang yang terdampak pandemi COVID-19?

Ya, itu juga sudah berjalan.

Nampaknya akan berlanjut terus ya Bang, karena meskipun ada vaksin tidak serta merta pandemi hilang.

Ya, akan terus bergeraklah Kak. Jadi begini, kita kan civil society, masyarakat sipil Kak. Masyarakat sipil itu bekerja karena apa? Karena pemerintahnya kan tidak kerja. Tapi bukan berarti kita... Aku bukan tipe begini loh: tipe yang selalu mengkritik, mengkritik, mengkritik, tapi nggak bekerja.

Aku kritik, [tapi] aku kasih solusi. Dan aku kerjakan ya misalnya memang itu [area] yang harusnya dikerjakan pemerintah. Jadi kadang-kadang ada yang bilang: kau gak mau ya dibantu pemerintah? Bukan aku gak mau. Aku yang bantu pemerintah. Karena ini kerjaan mereka, tapi mereka gak kerja.

Tapi, ya... aku kerjakan. Tapi aku gak minta dana dari mereka. Jadi, kadang-kadang pemerintah itu diam aja gak ngerecokin kerjaanku, itu sudah membantu. Ini kadang-kadan kan mau taking kredit lah. Minta ini lah, izinlah apa segala macam. Ya kan begitu Kak... Bagaimana misalnya, ya udah diam aja elu di situ. Ini kerjaan elu yang gua kerjain. Elu diam aja. Diem aja elu udah membantu. Kok ngerecokin.

Kadang-kadang seperti itu sebenarnya. Bersinergi, mari kita bersinergi. Awak gak minta dana kelian, tapi kalian ngerecokin. Mana ininya, mana ininya...

Artinya kalo apa... mari kita bersinergi. Aku gak minta duit pemerintah. Enggak. Karena banyak orang-orang baik di luar sana yang mau, apa ya... mau bersama-sama dengan aku mewujudkan mimpi itu.

Ya, awal-awalnya kayak Alusi Tao Toba, Beka Manise, Rumah Langit, itu hanya mimpi seorang Togu Simorangkir. Saat ini, itu jadi mimpi ribuan orang. Berat. Akhirnya mereka tersesat di jalan yang benar. Mereka masuk ke dalam mimpiku. Mereka bersama-sama dengan ini, ya udah mari kita lakukan daripada sekadar nyinyir, daripada sekadar mengkritik.

Aku kritk pemerintah tapi aku kerjakan apa yang kukritik.

Pernyataan Bang Togu ini seperti ungkapan kekecewaan yang besar terhadap pemerintah.

Ya karena sebenarnya apa ya... karena kan banyak hal seperti kita punya Dinas Sosial tapi kenapa sih orang-orang DGJ itu tidak diurus? Kenapa sih misalnya dinas-dinas sosial ini gak bikin panti-panti mereka rawat itu yang benar orang-orang dengan gangguan jiwa ini. Mereka punya resource loh. Iya kan? Kenapa itu sih Dinas Sosial itu tidak menaruh stafnya di Rumah Langit ini untuk belajar bagaimana sebenarnya. Kan begitu. Jangan kerjanya hanya di balik meja. Kerja dong ke lapangan. Turun ke lapangan. Harusnya begitu. 

Apakah keluhan ini pernah disampaikan Bang Togu ke mereka?

Sudah, sudah.

Apa tanggapan mereka?

Ya diam aja, langsung balik badan. Jadi gimana? Capek kan. Akhirnya kan capek, ya udah kita kerjakan ajalah apa yang bisa kita kerjakan. Karena kadang-kadang pun orang pemerintah tidak terima dengan apa yang aku katakan. Artinya apa. Aku kan bukan sekedar mengkritik. Kukerjakan kok. Kecuali aku hanya mengkritik, tidak mengerjakan. Itu baru omongnya besar. Kan begitu... Ini kukerjakan Kak.

Barangkali udah saatnya Bang Togu masuk ke politik untuk running jadi Walikota.

No, no, no, no.

Bukankah dengan masuk ke pemerintahan, misalnya dengan menjadi walikota, Bang Togu akan bisa mengeksekusi kebijakan maupun mimpi-mimpi?

Ada keinginan itu waktu tahun lalu, Kak. Untuk di Tapanuli Utara. Tapi setelah itu memikirkan gitu loh... akhirnya apa. Ya kan kayak Ahok juga nantinya. Udah kerjanya bener tapi nggak disukai. Ngapain! Buang-buang waktu. Mendingan kukerjakan aja sekarang. Karena kenapa? Karena akan banyak orang yang kebakaran jenggotnya kalau aku di pemerintahan itu. Kusikatin semua, Kak. Siap gak itu? Jangan-jangan ASN itu pun kupecatin yang gak beres itu. Siap gak mereka? Akhirnya apa? Lawannya sendiri kan ASN aku nanti. Kan seperti itu, gitu.

Aku anak ASN. Mamakku ASN. Aku pun makan dari ASN, aku bisa sekolah, karena dari gaji ASN. Tapi jaman udah berubah loh. Ketika pemerintahan kita, presiden sekarang, ya siapa pun presidennya kan harus didukung. Ketika Pak Jokowi bilang revolusi mental, ya apa... yang ada di daerah itu revolusi mentel [istilah orang Medan yang artinya belagu. Red].

Nah berarti kan kita membutuhkan pemimpin muda yang visioner dan berani supaya terjadi revolusi mental, bukan ‘mentel’.

Iya betul. Karena kan begini... Kita baru saja melewati Pilkada. Itu kan ngeri politik uangnya, Kak. Ada yang sampai 100 miliar, ada 30 miliar, ada 60 miliar, gitu loh. Nah kalau sudah kayak gitu, ya mau jadi apa.

Aku gak punya duit, aku tidak mau pula nyogok orang. Ya ngapain. Gak terpilih kan. Karena mental masyarakat juga... karena mental masyarakat kita kan seperti ini kak: mereka ingin perubahan, tapi mereka juga menerima serangan fajar. Jadi kan omong kosong.

Repot ya?

Iya. Kita teriak-teriak: berubah, berubah! Pemimpin harus berubah! Bla, bla, bla. Tapi begitu serangan fajar, 50 ribu diambil. Repot. Jadi ya gak akan... Kita gak akan bisa maju Kak kalau kayak gini. Demokrasinya gak akan bisa maju. Makanya kadang-kadang aku berpikir kayak gini ya sebenarnya: udahlah kembalikan aja ke DPRD itu pemilihan, ke DPR. Artinya apa? Yang berantem kan cuma 30 orang, 50 orang kan? Dibandingkan dengan... ini satu keluarga pun berantem karena beda pilihan. Kita belum siap berdemokrasi.

Tapi Bang Togu enggak pesimis kan bahwa perubahan akan tetap terjadi, cuma makan waktu ya barangkali.

Ya, perubahan akan terjadi ketika kita memang benar-benar kita membuka pikiran kita.

Kita maju. Ayo kita sama-sama maju. Mari kita bersama-sama bergandengan tangan. Kan begitu loh. Sekarang kan begini, kalau ada yang salah dari gerakan Togu Simorangkir Initiative jangan diikutin. Tapi kalau ada yang benar, mari dikembangkan. Ayo kita bersinergi, kan begitu. Tidak semua juga apa yang dilakukan oleh Togu Simorangkir itu benar.

Terkadang kita berbuat baik pun belum tentu benar bagi sebagian orang. Malah dicurigain. Ketika kita memulai ini, dibilang saya mau jadi Walikota Siantar kemarin. Yang bagi-bagi makanan. Kan masih seperti itu pola pikirnya.

Oh karena mau pilkada tiba-tiba baik, katanya. Pola pikir di masyarakat masih seperti itu. Jadi repot. Kalo aku sekarang Kak, prinsipku: kukerjakan apa yang bisa kukerjakan. Ikut ayo, ga ikut gak ada masalah sama aku. Kukerjakan semampuku. Ya bisa kubagi 5 bungkus nasi, 5 bungkus nasi kubagi gitu. Gak harus aku bisa membagi 100 nasi, kan gitu.

Kalau cita-cita Bang Togu sendiri untuk membangun Siantar apa nih, selain tentu aktivitas yang sudah ada saat ini yaitu memberi dampak positif, dampak sosial bagi yang membutuhkan?

Saat ini mimpiku ya Rumah Langit sudah ini... Mimpi tahun depan itu membuka tokonya petani. Jadi bagaimana kita... ya saat ini sudah sudah berjalan itu Tomato Farmart, itu bagaimana kita membeli hasil-hasil pertanian dari petani dengan harga yang lebih tinggi dari dari tengkulak. Itu dapat dukungan dari bank Indonesia, Pematang Siangar.

Hasil pertanian apa saja yang dibeli?

Semua jenis pertanian aja. Saat ini ya ada sayur-mayur, ada cabe, ya semuanyalah, apapun itu.

Sistemnya, Bang Togu yang akan membeli hasil pertanian ke petani lalu dikumpulkan untuk kemudian dijual ke pasar-pasar?

Jadi, kita sudah buang 2 sampai 3 orang tengkulak.

Berarti memotong beberapa jalur distribusi?

Iya, potong jalur supaya apa? Supaya harga beli dari petani lebih tinggi.

Gini Kak. Aku sudah menjalani ini, aku bangun setiap pagi [pukul] setengah empat, aku jualan sayur, aku berangkat dari rumah jam 5 pagi; aku mulai jualan sayur dari setengah 7 pagi sampai jam 10. Dan mimpi itu didukung oleh Bank Indonesia. Dari hasil pertanian yang aku beli itu, ada kelebihan sekitar Rp 15.000 setiap hari belanjaku. Artinya, satu bulan 450 ribu kan Kak. Udah ngebul itu dapurnya petani. Tapi apa. Musuhku sekarang tambah lagi kak. Haters ku tambah. Tengkulak!

Oh ya, udah pasti.

Ya sebenarnya apa ya, bukannya kita benci sama... gini loh. Bantu, saling-saling menguntungkan, kenapa sih. Masak sih harga produk petani-petani yang nunggu... misalnya kita bicara tentang kangkung, 21 hari dirawat, dsb. Tiba-tiba dibelinya hanya 1.000 rupiah. Padahal di pasaran 6.000-7.000. Aku beli 3.000. Ya kan. Kujual berapa? 6.000. Artinya tetap lebih murah dari pasaran, tapi dari petaninya udah naik 2.000.

Apalagi dengan internet sekarang, petani bisa jualan online juga ya. Mengakses pasar lewat platform media sosial.

Ya tapi kan tidak semua petani memiliki akses seperti itu Kak. Kemampuan mereka terbatas. Juga ada keterbatasan seperti tidak punya smartphone. Ya kadang-kadang mereka juga gaptek, seperti aku.

Target kita memang saat ini, ada nanti dengan Bank Indonesia Pematangsiantar, kita akan punya aplikasi. Aplikasi bagaimana [agar] harga-harga dari petani ini bisa langsung diakses dengan mudah oleh konsumen. Jadi itu mimpiku yang selanjutnya: bagaimana membantu petani, karena memang aku petani.

Kan tadi aku bilang Bos Lebay: beras organik, sapi, lele, bebek, ayam. Itu aku pelihara, itu aku rawat. Aku jualan beras organik, aku jualan beras merah organik. Aku pelihara ayam, pelihara bebek, pelihara lele. Jadi ya aku tahu rasanya, misalnya aku beternak lele, gitu itu kan. Dibeli leleku setelah kupelihara 3-4 bulan, dibeli 11 ribu atau 12 ribu sekilo. Sementara di pasaran 24 ribu. Kan jahat Kak.

Sakit ya.

Sakit. Petani itu sakit, gitu. Harusnya... harusnya, dan ini juga harusnya pemerintah pun hadir di situ. Bagaimana bisa mengontrol harga. Bagaimana bisa membuat harga yang standar. Jadi tidak tergantung tengkulak-tengkulak itu, kan begitu.

Kalo tadi Bang Togu bilang membeli hasil pertanian langsung dari petani, lalu pemasarannya bagaimana? Apakah dijual sendiri?

Jadi, sorenya [hasil pertanian itu] diantar ke rumah Kak. Pagi udah kubawa. Itu kita pake gerobak sayur. Ada di [depan] kedai kopi Sutomo di Siantar. Kita mangkal di situ dari jam setengah 7 sampai jam setengah 11 lah paling lama. Jadi aku jualan sayuran, habis itu jualan air minum. Lalu tidur siang, istirahatlah sebentar, setengah jam, karena aku ingat ada zoom kita ini, ya udah besok seperti itu lagi. Tapi Hari Minggu, aku off.

Nampaknya sibuk terus ya Bang. Banyak pekerjaan yang gak henti-henti dikerjakan di sini ya?

Ya intinya kayak gini, Kak: bagaimana hidupku bisa berdampak buat orang lain. Saat ini ya ada dengan sodara-sodara yang orang dengan gangguan jiwa. Kemudian mulai tahun depan kita akan gas, mulai untuk petani. Karena memang saya sendiri petani. Saya sudah merasakan bagaimana produk saya [dihasilkan} dengan keluar dana yang besar, keluar keringat, kadang-kadang keluar air mata. Terus dihargainnya sangat kecil. Itu akan kulawan. Tunggu, tunggu waktunya.

Sudah pas itu, Bang. Perlu ada orang seperti Bang Togu yang membeli nasib petani. Tentu para petani ini senang ya.

Ya Puji Tuhan, memang saat ini kan Kak, dengan keterbatasan modalku, baru ada 3 sampai 4 petani Kak yang kita tampung produknya. Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih banyak lagi.

Karena mulai bulan depan kan rencanaku bikin toko, toko pertanian, farm mart gitu lah. Toko petani lah, jadi kau petani masoknya apa, sawi atau tomat ini sudutmu ya, cabe ini sudutmu. Jadi orang mereka yang mengantar sendiri. Jadi ini sebenarnya tokonya mereka juga. Ya aku tetap akan ada profitnya di situ kan, nyewa tempat, mengurusinya... fair kan. Jadi harus fair trade.

Rencananya farm mart ini akan ada di kota Siantar?

Iya, di Siantar Kak. Jadi itu sebenarnya mimpiku 10 tahun yang lalu sejak pulang dari Kalimantan. Jadi aku memang seorang pemimpi.

Ada yang mau disampaikan Bang, selain kritik pedas ke pemerintah?

Ya, sebenarnya bukan kritik pedas Kak, karena sebenarnya mereka tahu bahwa itu harus dikerjakan tapi tidak dikerjakan.

Ini kan persoalan mental kan.

Iya mentalnya. Saat ini bagaimana misalnya pilkada: kita tahulah bukan rahasia lagi, begitu banyaknya uang yang beredar di pilkada. Kan begitu. Ya kita mau dapat pemimpin seperti apa. Tapi intinya ya, hiduplah selagi...

Jadi kadang-kadang begini Kak. Banyak orang yang bilang sama aku, oh pelayanan kau ya... Bukan, ini bukan pelayanan kupikir. Sama aku ini bukan pelayanan. Bagiku ini hanya menjalankan hobi. Karena kalo aku pelayanan nanti aku akan minta uang minyaknya. Aku akan hitung-hitungan kalo pelayanan. Tapi ketika ini hobi, kita tidak peduli berapa banyak energi yang kita keluarkan ke situ, berapa banyak modal yang kita keluarkan ke situ. Karena itu kan hobi kita. Tapi kalo pelayanan: loh nanti mana uang minyakku aku jalan ke sana.

Berarti lebih karena passion ya Bang?

Benar. Ya aku sudah melakukan ini 25 tahun, Kak. Aku di civil society, gerakan kemanusiaan, gerakan sosial ini sudah 25 tahun. Jadi bukan anak kemarin sore.

Itu sudah teruji juga. Kalau passion-nya tidak di situ barangkali sudah berhenti karena lelah misalnya. Karena kan banyak hal yang harus dikorbankan kalau mau berjuang ke civil society yah?

Betul. Jadi ya sebenarnya ketika... kadang-kadang kalo ada relawan yang datang, ya udahlah seleksi alam. Kau mau banyak ngomong ya udahlah, buktikan aja lah. Akhirnya kenapa? Mental-mental sendiri.

Tidak mudah menjadi aktivis. Dan selalu banyak orang yang bilang: aku ingin e... seperti Bang Togu, katanya. Jangan ingin seperti aku! Jadilah dirimu sendiri. Karena begini Kak, Tuhan memakai kita bukan karena kita sempurna. Tuhan memakai kita karena Tuhan tahu. Eh Togu kau cocoknya di gerakan sosial. Eh Rin, kau cocoknya di dunia jurnalis. Eh Hasudungan, kau cocoknya tukang cuap-cuap di sana kan begitu. Kan ada passion-nya orang masing-masing. Kenapa sih kita ingin... Aku gak setuju ada orang yang ingin seperti aku. Harus melebihi aku. Tapi jadi diri sendiri. Karena juga aku pendosa.

Tapi sosok Togu Simorangkir sudah banyak menginspirasi anak-anak di Pulau Samosir untuk bersekolah lebih tinggi.

Ya kalau menurut aku sih, ketika kita bisa... Jadi gini Kak: orang batak, itu kan punya filosi: Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon. Hamoraon itu kekayaan, Hasangapon itu kita punya status sosial yang luar biasa, Hagabeon itu kita memiliki keturunan atau beranak cucu.

Aku tetap memegang hamoraon, hagabeon, dan hasangapon tapi dengan terminolgi yang berbeda. Hamoraon di aku adalah banyak teman. Hasangapon di aku, ya hidup kita berdampak buat orang lain. Hagabeon di aku ya kita jadi inspirasi buat banyak orang.

Jadi tetap memegang itu tapi terminologinya yang berbeda. Sekarang kan bagaimana kita, apa ya... hidup kita harus berdampak buat orang lain. Jadi aku bikin quote yang tahun 2017: “Berbuat baiklah bukan karena ingin masuk surga tapi karena Tuhan sudah baik sama kita.” Artinya seringkali kita manusia yang hidup saat ini, ingin berbuat baik karena apa? Kita selalu memikirkan surga. Kenapa gak kita pikirkan: ketika kau hidup, kau berguna gak buat orang lain.

Kalo aku bilang, aku gak mau masuk surga. Kenapa? Karena di surga ga ada tuak, [di] neraka banyak. Ya udah aku di neraka aja. Tapi selama aku hidup aku ingin hidupku berdampak buat orang lain. Kenapa sih kita memikirkan setelah kita mati. Kenapa kita tidak fokus kepada: ketika kita masih hidup, kita berguna buat orang lain. Kenapa selalu mikirnya setelah mati. Loh kalo kau mati, kita mana tahu mau ngapain.

Itu yang saya mau bilang tadi, Bang Togu ini kan againts the mainstream kebanyakan orang batak yg umumnya memegang teguh tiga filosofi tadi. Ternyata Anda mempunyai interpretasi yang berbeda terhadap tiga hal itu. Dan gak banyak orang batak seperti itu.

Betul.

Kecuali barangkali suami saya Hasudungan Sirait, sama itu.

Hahaha... Itulah Kak. Jadi ya kita fokus ketika kita hidup lah. Mau nanti kau mati mau gimana, ya kalo kau mati, mati aja. Kok mikirin surga gitu loh. Tapi kau mikirkan gak, tetangga kau udah makan atau belum. Kan gitu. Masih seperti itu.

Jadi tantangan kita sebenarnya berat. Tantangan kita untuk menjadi hidup yang berguna... Gini Kak. Karena berbuat baik pun belum tentu benar bagi kebanyakan orang. Karena selalu dipikirkan loh, lu mau jadi apa. Motivasimu apa bikin ini. Kan gitu. Ya selagi kau hidup bergunalah buat orang lain. Udah gitu ajalah. Kok mikirin udah mati.

Mudah-mudahan staminanya tidak turun jadi bisa terus jalan terus ya Bang Togu.

Amin.

Karena apa yang Anda lakukan, berdampak luar biasa. Selain sudah membantu orang yang membutuhkan juga bisa memberi contoh buat yang lain.

Iya. Jadi, dalam berbuat jangan heaven oriented, jangan orientasinya surga. Tapi happiness oriented. Jadi ya, tujuannya apa? Kegembiraan. Jadi bergembira, mari kita bergembiraaaa.. gitu loh. Haha.

Yakin nih nggak mau running untuk jadi Wali Kota Siantar?

Aduh. Kalau boleh, aku jadi Presiden aja Kak.

Terlalu kecil ya, haha.

Terlalu kecil lah. Walikota itu terlalu kecil untuk seorang Togu Simorangkir. Sorry to say... Tapi kan bukan ke situ tujuannya. Tujuannya, ya kita gini aja jadi orang biasa ajalah. Beberapa hari yang lalu aku bikin di media sosial, aku bikin status sperti ini: ketika Bapak Jokowi meminta bantuanku untuk mengurusi negara ini, menurut kalian cocoknya apa. Dan 90 persen mengatakan aku jadi Mensos.

Haha... mumpung posisinya lagi kosong [wawancara dilakukan sebelum Presiden Jokowi menunjuk Tri Rismaharini sebagai Mensos yang baru -Red].

Tapi biasanya ada menteri ad interimnya itu. Haha. Enggaklah. Kita jadi petani aja, bagaimana kita membantu petani agar kehidupannya bisa lebih baik. Anak-anak petani bisa mendapatkan hak-hak pendidikannya sampai yang mereka inginkan. Lebih kayak gitu aja, Kak.

Dan nampaknya Bang Togu masih dibutuhkan di Siantar ini.

Aku banyak hatersnya loh Kak. Karena apa? Karena seperti tadi, aku ngomong apa adanya. Jadi kalau kata orang Batak aku ini Si tulluk mata ni horbo atau straight to the point. Gak bisa belok-belok, gak bisa. Aku gak suka sama kau, gak suka. Jadi hitam hitam, putih putih. Gak ada abu-abu. Seperti kausku ini, hitam dan putih.

Kalo orang batak bilang: na ngerian.

Hahaha. Itulah Kak.

Oke Bang Togu, terima kasih banyak nih waktunya. Salam juga dari Bang Has ya.

Sama-sama Kak. Terima kasih.

Saya akhiri dulu ya Bang. Semoga ada kesempatan kita jumpa di Siantar.

Thank you Kak. Mauliate.

Sama-sama, mauliate godang juga.

Maaf nih kalo agak-agak apa adanya. Haha...

Oke, sukses terus ya Bang. Sampai ketemu. Saya akhiri ya.

Oke, terima kasih Kak. Horas.

Horas.

Kontributor : Rin Hindryati

Komentar