SuaraBandung.id - Gus Baha mengatakan bahwa muhasabah itu maknanya mengoreksi diri sendiri, menghitung diri sendiri.
Bagi para orang tua dan para guru di Indonesia, muhasabah itu sudah menjadi perilaku.
"Karena dulu orang tua saya, guru-guru saya kalau kandani itu bayangkan kalau kamu itu jadi dia, jadi kalau kita atasan otoriter sama bawahan, bayangkan kalau kamu yang jasdi bawahan itu kaya apa," Kata Gus Baha.
Gus Baha juga mengatakan bahwa kita harus membayangkan posisi orang yang berhadapan dengan kita.
"Kalau orang arab bilang, bayangkan kalau kamu di posisi dia. Makanya guyonannya orang-orang indonesia itu kan orang haramkan judi itu kan (kepada) orang dikasih tau, tapi (kalau) yang menang anak jenengan (malah) alhamdulillah. Ternyata mengharamkan itu karena nggak ada anaknya, kalau anaknya yang menang ya seneng," Gus Baha melanjutkan
Gus Baha mengungkapkan kekhawatiran tentang hukum sosial yang masih memandang kedudukan orang yang berbuat salah.
"Karena kadang kita keras itu ya kebetulan itu ndak anak kita, ndak keluarga. Jangan-jangan kita didikte hukum sosial, gitu. Jadi orang yang salah kebetulan itu orang yang menservis kita, atau keluarga kita, atau orang dekat kita, jangan-jangan semangat kita mintakan ampun, tapi kalau sama orang lain kebetulan musuh kita, kita semangatnya minta itu kena adzab," Kata Gus Baha.
Gus Baha pun mengatakan bahwa hal itu tidak boleh dalam Islam. Islam mengajarkan agar kita meniru Rasulullah SAW, bahwa nabi itu rahmatan lil alamin.
Bahkan menurut Gus Baha, di kalangan habaib yang ia temui masih mendahulukan rahmatan lil alamin. Bahwa nabi ketika disakiti oleh kaumnya itu dalam keadaan mereka masih kafir, mereka mendapatkan doa nabi.
Baca Juga: Ini Kata Marc Klok Saat Dipanggil Shin Tae Young
"kaya apa baiknya nabi. Orang yang menyakiti, yang melukai, ini nabi masih berdoa. Sayidina umar ketika masih kafir, didoakan. Itu pelajaran bagi kita bahwa yang sedang tidak cocok itu berhak dapat doa kita. Karena agama ini berkali-kali bilang liman kaana yarjul laaha wal yawmal Aakhira wa azkaral laaha kasiiraa. Ini diperuntukkan bagi yang selalu punya harapan pada Allah SWT," Gus Baha melanjutkan ceramah.
Gus Baha mengatakan harapan itu membawa berkah dalam hubungan manusia dengan Allah. Bisa jadi orang yang saat ini tidak salat itu suatu saat melaksanakan salat.
Orang yang saat ini belum dermawan, suatu saat menjadi dermawan. Barokah dari harapan itu bahwa kefasikan dianggap sementara. Bahwa orang itu sedang fasik, sedang tidak benar.
Para kiai, guru, dan habaib tetap juga mendoakan husnul khotimah. Itu menjadi pola sosial sehingga orang tidak mengambil sikap ekstrim karena selalu punya harapan.
Gus Baha nyampaikan agar kita membayangkan jika orang yang sedang dalam keadaan kurang baik itu adalah anak ataupun keluarga kita sendiri. Gus Baha menjelaskan makna muhasabah itu dalam ceramahnya, dilansir dari video dalam kanal YouTube Ngaji Melu Kyai yang diunggah pada 19 Januari 2022.
Berita Terkait
-
Seorang Jamaah Pernah Mendengar Hadits Tentang Curhat, Buya Yahya: Gak Boleh Diam-diam
-
Mengikuti Sebuah Thoriqot dari Seorang Mursyid Namun Tak Mampu Menjalankan Amalan, Begini Kata Buya Yahya
-
Zakat untuk Paman di Kampung, Buya Yahya: Tidak Berhak Menerima Zakat
-
Pandangan Anak-anak Tentang Keberadaan Allah, Buya Yahya: Orang Tua Harus Pandai
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Hina Kapolda NTB, WNA Asal Prancis Dihukum 3 Bulan Penjara
-
Arab Saudi Ubah Tarif Bea Masuk 51 Komoditas, Kemendag Minta Eksportir RI Tangkap Peluang
-
Prancis Tersingkir, Taktik Individualis Didier Deschamps Resmi Gagal Total?
-
Peneliti ITB Ungkap Potensi Sawit, Ternyata Bisa Diolah Jadi Bensin
-
Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Tito: Biaya Pilkada Tinggi, Akhirnya Cari Jalan Tak Benar
-
Coffee Shop dan Ruang Tenang Bagi Gen Z: Bukan Lagi Sekadar Tempat Ngopi
-
5 Cara Cek Nomor Indosat Pakai Internet dan Tidak, Praktis dan Cepat
-
KPK Geledah Rumah Etik Suryani di Laweyan 1,5 Jam, Angkut 2 Koper
-
Hackathon Digital Cooperatives 2026 Cetak Inovasi AI untuk Percepat Digitalisasi Koperasi Indonesia
-
Tembus Pasar Besar dengan Konservasi, BRI Berikan Dukungan Penuh Suhita Lebah