/
Selasa, 04 Oktober 2022 | 16:06 WIB
Coretan berisi kekecewaan menghiasi dinding Stadion Kanjuruhan Malang, Tragedi Kanjuruhan. (Suara.com)

Coretan Kekecewaan di Stadion Kanjuruhan, Minta Kasus Asap Maut dari Gas Air Mata Diusut Tuntas

SuaraBandungBarat.id - Stadion Kanjuruhan Kota Malang Jawa Timur menjadi saksi bisu peristiwa yang memilukan, pertandingan Liga 1 Persebaya Vs Arema FC yang memakan korban jiwa. Ucapan turut berduka cita pun membanjiri media sosial dan media masa lainnya. 

Ekspresi kekecewaan terhadap aparat yang sempat melontarkan gas airmata pun terabadikan dalam coretan-coretan liar. Diduga gas air mata menjadi salahsatu penyebab peristiwa kelam tersebut. 

Dalam Tragedi Kanjuruhan, indikasi utama jatuhnya korban jiwa adalah gas air mata yang jelas dalam aturan FIFA dilarang penggunaannya.

Tertuang dalam Pasal 19(b) yang menyebut dilarang membawa atau menggunakan senjata api atau "gas pengendali massa".

Pelarangan tersebut tentu saja ada alasannya. Dalam Tregedi Kanjuruhan penggunaan gas air mata membuat penonton panik sehingga kekacauan tak bisa terhindarkan.

Menyaksikan sepak bola beda dengan menuju palagan  atau kerusuhan. Dari awal masuk stadion, pastinya penonton sudah menjalani pemeriksaan. Ini yang harus disadari.

Yang jelas penggunaan gas air mata dalam pertandingan sepak bola itu tidak dibenarkan, walaupun mungkin di Kanjuruhan, pihak keamanan memiliki alasan lain sehingga perlu dilakukan.

Diketahui, korban meninggal dalam tragedi Kanjuruhan sebanyak 131 orang. Peristiwa maut itu terjadi setelah aparat menembakkan gas air mata karena sejumlah suporter Aremania masuk stadion usai laga Arema FC Vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) malam.

Baca Juga: Survei Capres SSI: Pendukung NasDem Berimbang Pilih Prabowo Subianto dan Anies Baswedan

Jumlah korban meninggal tersebut disampaikan Pemkab Malang berdasarkan posko postmortem crisis center per Selasa (4/10/2022). Data ini mengalami penambahan 6 orang dari sebelumnya 125 orang tewas.

Adapun penanggungjawab Data, Zulham Akhmad Mubarrok mengatakan, sampai Selasa (4/10/2022) siang, data korban meninggal mencapai 131 jiwa.

"131 sampai siang ini. Ganti nama, ganti identitas saja, keluar masuk datanya," ujarnya saat dikonfirmasi SuaraMalang.id.

Sumber : SuaraBandungBarat.id

Load More