/
Senin, 10 April 2023 | 16:25 WIB
Pemimpin Perum Bulog Cabang Bandung, Yuliani Alzam saat ditemui beberapa waktu lalu (Hendra H Rusdaya)

SuaraBandungBarat.id- Jelang hari raya idul fitri 1444 hijriyah, harga beras di Kabupaten Bandung Barat hingga saat ini masih stabil. Bahkan harga kebutuhan pokok masyarakat tersebut kian menurun.

Pemimpin Perum Bulog Cabang Bandung, Yuliani Alzam menjelaskan, pihaknya telah mendistribusikan setidaknya empat ribu ton beras bulog ke lima daerah yakni KBB, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Sumedang.

“Beras medium antara lain masuk ke pasar tradisional, ritel modern, agen RPK (rumah pangan kita) Bulog, dan sebagainya. Total sampai April ini mencapai sekitar 4 ribu ton. Dijual Rp 8.800 per kilogram untuk operasi pasar murah dan bagi pedagang yang datang sendiri ke gudang Bulog diberikan harga Rp 8.300 per kilogram,” katanya.

Ia menambahkan, beras bulog yang didistribusikan kepada masyarakat tersebut merupakan beras berkualitas baik. Pasalnya, beras yang didistribusikan merupakan stok baru dan bukan beras stok lama.

“Seperti yang dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional tersebut baru datang ke gudang Bulog pertengahan Februari dan sudah langsung dikeluarkan. Perum Bulog Cabang Bandung sudah menyiapkan sekitar 7.400 ton beras untuk Program Bantuan Pangan 2023 untuk lima kabupaten/kota di Jawa Barat,” jelasnya.

“Untuk KBB sendiri totalnya sekitar 1.600 ton yang akan disebar ke keluarga penerima manfaat (KBB). Sudah kami mulai di Kecamatan Ngamprah, mudah-mudahan sebelum Idulfitri warga penerima manfaat sudah bisa menerima beras tersebut,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, Program Bantuan Pangan tahun 2023 akan disalurkan kepada 21,3 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) seluruh Indonesia yang tercatat dalam dataKementerian Sosial untuk 3 bulan alokasi yaitu Maret, April dan Mei. Adapun masing-masing KPM akan menerima sebanyak 10 kilogram per alokasi.

Sementara itu, terkait video viral soal beras tak layak konsumsi yang dijual di operasi pasar murah (OPM) KBB pihak bulog menampiknya. Ia menyebut, mata rantai OPM di KBB tidak langsung ke masyarakat penerima tapi dari kecamatan kemudian ke desa, dilanjutkan ke RT/RW. Barulah setelah itu diterima warga.

“Didugaan beras yan g disalurkan oleh Bulog itu, sebelum sampai ke tangan warga, beras milik seorang warga itu terkena air hujan. Sehingga jadinya tak layak konsumsi, tapi persoalan itu sudah beres. Tapi sekali lagi saya tekankan, bahwa beras Bulog itu terjamin kualitasnya, selalu kami cek sebelum dikeluarkan,” tegasnya. (*)

Baca Juga: Gandeng Polri, TNI AL Ingin Pelaku Curas Modus Jasa Travel Terhadap Serka Hanif Cepat Ditangkap

Load More