SUARA BANDUNG BARAT- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) meminta masyarakat untuk bersama-sama mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD).
Plh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Tedy Sulaksana mengatakan, pencegahan berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti dengan menerapkan 3 M (menguras, menutup tempat penampungan air serta mengubur barang bekas).
"Metode pengasapan atau foging tidak efektif dalam mencegah penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di lingkungan masyarakat," katanya.
Ia menambahkan, pelaksanaan fogging hanya untuk membunuh serangga yang sudah berumur dewasa dan tidak membunuh jentik nyamuk maupun telur.
“Ditekannya melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dulu, lalu melakukan foging, metode pengasapan ini sifatnya pengendalian bukan mencegah," katanya.
"Sehingga, langkah efektif yang harus dilakukan yakni dengan memberantas sarang nyamuk terlebih dahulu. Foging tidak sampai mematikan telur-telur nyamuk yang dihasilkan dari nyamuk dewasa,” katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, memaksimalkan PSN dan 3M hingga saat ini masih menjadi cara yang sangat efektif untuk mencegah DBD agar tidak menyebar luas di kalangan masyarakat.
*Program PSN dan pola 3M dapat menutup celah agar nyamuk tidak berkembang biak menyebarkan penyakit pada masyarakat khususnya anak-anak," katanya.
“Murah dan mudah PSN, tinggal masyarakat melakukam gerakan 3M plus. Itu perlu dilakukan sebagai upaya menekan angka kasus DBD,” katanya.
Baca Juga: Inara Rusli Rindu Pillow Talk dengan Virgoun? Simak Pengakuannya yang Mengejutkan
Sementara itu, salah seorang warga, Danial (30) mengatakan, sejauh ini dirinya berusaha maksimal menjaga kebersihan lingkungan sebagai upaya preventif mencegah DBD.
"Memang hal tersebut mudah dilakukan tapi kita sering abai melakukan hal tersebut," katanya. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Nasib Ratusan Siswa SMA di Sumsel Terancam, Ombudsman Temukan Dugaan Pelanggaran SPMB
-
BI Sumsel Perkuat Pariwisata dan Ekonomi Digital Lewat Gemilang Palembang Raya x DKG 2026
-
AFC Ajax Boyong Marc-Andre ter Stegen, Maarten Paes Dibuang?
-
Duka Mendalam Klub Juara Liga Champions untuk Korban Gempa Venezuela
-
Mengapa Dokumen WDP Jadi WTP Dicari KPK? Fakta Baru dari Penggeledahan BPK Sumsel
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Sore di Pantai, Berburu Produk Lokal hingga Menikmati Musik di WKND Market PIK2
-
Sudah Bayar Rp128 Juta, Rumah Tak Kunjung Dibangun, Konsumen Lapor Polda Sumsel
-
Strategi Keliru Hong Myung-Bo, Korea Selatan Terancam Angkat Koper Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026