Bahasa Bali, dipelihara dengan baik serta digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh sebagian besar masyarakat Bali.
Secara Regional, Bahasa Bali ini dibagi menjadi dua dialek. Dialek Bahasa Bali Aga, atau dialek pegunungan dan Dialek Bahasa Bali Dataran, atau dialek umum atau lumrah.
Dialek Bali Aga ini dituturkan oleh penduduk Bali di daerah dataran tinggi, sementara dialek Bali dataran dituturkan oleh penduduk yang pada umumnya berdiam di daerah dataran rendah di Bali.
Dari sudut kesejarahan, bahasa Bali terdiri atas bahasa Bali Kuno dan Bali Modern, yakni sebagai berikut:
1. Bahasa Bali Kuno
Bahasa Bali kuno masih terbagi lagi menjadi Bali Tengahan (Kawi Bali) yang adalah pencampuran leksikal kata-kata bahasa Bali dengan bahasa Jawa (Tengahan) pada masanya. Hal ini karena pengaruh dari Kerajaan Majapahit yang pernah menguasai Pulau Bali.
Bahasa Bali Tengahan ini sendiri hidup dengan subur di Pulau Bali. Banyak digunakan oleh pengarang sastra dan berbagai seni pertunjukan. Ini terlihat dari beragam karya sastra seperti kidung, kalpa sastra, kanda, tatwa dan juga babad.
Sementara itu, dalam seni pertunjukan, bahasa Bali Tengahan digunakan dalam seni pertunjukan topeng, prembon, wayang, arja dan lainnya.
2. Bahasa Bali Modern
Baca Juga: Cocok Disantap saat Hujan, Ini Resep Bubur Mengguh Khas Bali
Bahasa Bali modern disebut juga sebagai Bahasa Bali Kepara adalah bahasa Bali yang digunakan baik dalam bentuk tulisan maupun lisan hingga sekarang.
Istilah “kepara” sendiri berarti “umum” atau “lumrah”. Bahasa Bali modern sendiri mengalami perkembangan berdasarkan kehidupan agama, budaya dan adat-istiadat serta mengalami perkembangan dari zaman kerajaan, masa penjajahan, jaman kemerdekaan dan hingga setelah kemedekaan.
Bahasa Bali pada masa penjajahan Bali digunakan dalam pendidikan formal. Jadi, bahasa Bali tidak hanya secara informal tetapi digunakan dalam proses belajar-mengajar.
Namun, pada masa penjajahan Jepang, bahasa Bali mengalami kesuramannya karena ditiadakan pelajaran bahasa Bali di sekolah serta banyak buku berbahasa Bali dibakar.
Barulah setelah penjajahan Jepang berakhir dan situasi mulai kondusif pada tahun 1968, bahasa Bali kembali dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah di Bali. Hal ini pulalah yang menjadikan bahasa Bali tetap lestari dan diketahui oleh para generasi muda di Bali.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
DPR Desak PLN Lindungi UMKM Terdampak Pemadaman Listrik, Minta Ada Kompensasi Kerugian
-
Biaya dan Minimnya Dorongan Pasar Jadi Kendala UMKM Urus Sertifikasi Halal
-
Desain Kawasan Suburban Dinilai Perparah Emisi, Mengapa?
-
Ketajaman Erling Haaland Menghancurkan Senegal Sekaligus Mengukir Rekor Piala Dunia 2026
-
Harga Steam Machine Lebih Mahal dari PS5, Ini Penyebabnya!
-
POCO X8 Pro Yellow Resmi Meluncur di Indonesia, Desain Ikonik dan Fitur Komunikasi Tanpa Sinyal
-
Lebih Dari Sekadar Rasa, CommuniTaste 2026 Buktikan Makanan Adalah Media Komunikasi Budaya
-
Ada Jung Ryeo Won, Netflix Rilis Jajaran Pemain Utama Drakor First Doctor
-
Kronologi Munas Jelang Muktamar NU Ricuh, Pejabat Organisasi Pecah Pendapat
-
7 Cara Menjaga Kesehatan Kulit Saat Cuaca Panas, Jangan Abaikan Rutinitas Ini