Suku Dayak memiliki banyak ritual adat yang masih terus dilestarikan hingga kini di tengah gempuran era modernisasi.
Salah satu ritual adat yang sering dilakukan adalah ritual Ijame atau dikenal sebagai ritual kematian tertinggi bagi Suku Dayak.
Dikutip dari berbagai sumber, ritual Ijame merupaan suatu kepercayaan suku Dayak Maanyan sub Paju Epat yang baragama Kaharingan.
Ritual ini merupakan suatu prosesi penghantaran roh orang yang sudah meninggal menuju Tumpuk Datu Tunyung (Surga).
Menurut kepercayaan mereka, di butuhkan waktu 9 hari agar roh orang yang sudah meninggal benar-benar bisa pulang ke Surga atau Tumpuk Datu Tunyung.
Kemudian, ritual ini dilakukan dengan tulang–tulang orang yang sudah meninggal akan diprosesi dengan pembakaran tulang atau pengkremasian.
Pengkremesian ini menjadi sebuah keunikan sendiri saat berada di Kalimantan Tengah, karena ritual ini sama halnya dengan acara Ngaben di Bali.
Bedanya ada pada istilah yang digunakan, tempat dibakarnya tulang-belulang orang mati disebut Papuyan.
Kemudian ada Tamak yang merupakan tempat penyimpanan abu (Mapui) setelah pembakaran tulang.
Baca Juga: Jadi Runner Up Sepakbola, Mas Dhito Usulkan Porprov 2027 Digelar di Kabupaten Kediri
Ritual kematian ini merupakan ritual yang tidak rutin dilaksamakam setiap tahun karena banyak persyaratan yang harus dipenuhi sebelum melaksanakannya.
Biasanya, sebelum melakukan ritual Ijame, ada berbagai persiapan yang dilakukan.
Di antaranya sudah jauh-jauh hari panitia pelaksana khususnya mantir-mantir adat dari seluruh desa di wilayah Kedamangan Paju Epat yang bertanggung jawab penuh terhadap tahapan pelaksanaan.
Oleh sebab itu para mantir tersebut harus sudah memenuhi syarat khusus sesuai dengan tata aturan hukum adat yang berlaku karena tidak bisa sembarang orang melaksanakan ritual tersebut.
Para mantir adat tersebut harus sudah atau pernah ditahbiskan serta mengisi hukum adat yang berkaitan dengan tata cara pelaksanaan ritual ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan