Suara.com - Pemerintah memastikan akan tetap melanjutkan program pengendalian pemakaian BBM subsidi jenis premium dan solar, agar konsumsi sampai akhir 2014 sesuai kuota dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2014 tentang APBN Perubahan Tahun Anggaran 2014 sebesar 46 juta kiloliter.
Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, pemerintah tidak berencana menambah kuota BBM subsidi yang ditetapkan sebesar 46 juta kiloliter itu. "Kalau kuota BBM dinaikkan, maka subsidi akan naik lagi. Subsidi BBM ini sudah terlalu tinggi, harus dikurangi," kata Jero Wacik, seperri dilansir dari laman Setkab.go.id, Selasa (26/8/2014).
Namun Jero membantah anggapan, jika upaya menjaga konsumsi BBM bersubsidi tidak melebihi kuota itu mengakibatkan kelangkaan BBM, sebagaimana terlihat dari banyaknya antrean pembelian BBM subsidi di sejumlah SPBU di daerah.
"BBM nonsubsidi tersedia dengan melimpah. Untuk subsidi memang dikurangi. Jadi, tidak ada kelangkaan BBM," kata Jero.
Ia meminta kesadaran pengguna BBM khususnya kelas menengah ke atas untuk membantu negara dengan mengurangi pemakaian BBM bersubsidi. "Kalangan menengah atas tidak akan miskin kalau beli BBM nonsubsidi. Jadi, bantulah negara untuk mengurangi BBM subsidi," ujarnya.
Menurut dia, kesepakatan kuota BBM subsidi sebesar 46 juta kiloliter sebagaimana tertuang dalam UU APBN-P 2014 memberikan konsekuensi perlunya pengendalian BBM subsidi. Kalau tidak dikendalikan, lanjutnya, maka kuota BBM subsidi akan habis sebelum akhir tahun ini.
Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) Hanung Budya mengakui, sejak 18 Agustus 2014, Pertamina mengurangi jatah BBM bersubsidi harian SPBU secara prorata. Ia menyebutkan, jatah premium di SPBU-SPBU dikurangi lima persen dan solar antara 10-15 persen.
Pengurangan itu terpaksa dilakukukan, karena kuota BBM subsidi yang semula 48 juta kiloliter telah dikurangi menjadi 46 juta kiloliter dalam APBN-P 2014. “Dengan pengurangan itu, maka diharapkan kuota solar dan premium cukup hingga akhir 2014,” jelas Hanung.
Namun Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina itu menduga, antrean panjang pembeli BBM subsidi di sejumlah SPBU di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa juga dikarenakan panic buying karena ada isu premium kosong. “Isu ini tidak benar," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Ini 8 Rest Area Tol Cipali yang Bisa Dipakai Saat Arus Balik Lebaran 2026
-
Penumpang Kereta Api Membludak, Okupansi Tembus 150,7%
-
Penjualan Turun, IKEA Pangkas 800 Karyawan
-
Daftar Harga BBM di Tengah Konflik Global, Stabil saat Arus Balik Lebaran 2026
-
Emas Antam Masih Murah Meriah, Harganya Cuma Rp 2,8 Juta/Gram
-
Banyak Pemudik saat Lebaran Bikin Kinerja Industri Asuransi Perjalanan Melonjak
-
Naik Whoosh Saat Lebaran, Bisa Dapat Diskon Hotel hingga Wisata Gratis
-
Arus Balik Lebaran 2026 Diprediksi Membludak, Menhub Sarankan Mudik Balik Lebih Awal
-
Perhatian Pemudik! Jangan Pulang dari Kampung Tanggal 24-28-29 Jika Tak Mau Macet
-
Harga Minyak Dunia Makin Terbang Imbas Iran Mau Tutup Selat Hormuz Tanpa Batas Waktu