Suara.com - Menteri Keuangan Chatib Basri menyatakan, pemerintah mempunyai dana untuk menalangi kelebihan biaya yang dikeluarkan akibat meningkatnya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
"Uang negara masih ada, jangan khawatir. Bukan masalah uang untuk sekarang ini," kata Chatib di Jakarta, Kamis (4/9/2014).
Chatib menambahkan, anggaran tersebut bisa diambil dari pembiayaan utang. Tercatat defisit anggaran sampai Juli hanya sekitar Rp66 triliun. Sementara batas defisit sampai akhir tahun adalah Rp257 triliun.
"Kita bisa ambil dari pembiayaan utang. Bulan Juli saja masih Rp66 triliun, padahal target Rp257 triliun. Jadi masih banyak uangnya," ungkapnya.
Dia menjelaskan, untuk mekanisme pembayarannya, harus menunggu hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Biasanya akan dibayarkan pada tahun selanjutnya atau carry over .
"Pasti akan dibayar oleh pemerintah, tapi tidak tahun ini, tetapi tahun depan akan dibayarkannya, setelah mendapat laporan dari BPK," jelasnya.
Akan tetapi, menurutnya, sebelum kuota BBM bersubsidi ditambah, pemerintahan yang baru harus melewati proses dengan DPR. Ada berbagai pilihan, di antaranya penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) untuk merevisi UU APBN-Perubahan 2014.
"Harus dilakukan setelah mencapai 46 juta KL. Banyak mekanismenya mulai dari BPK sampai DPR untuk bisa memproyeksikan, untuk itu bisanya tahun depan bukan sekarang," tuturnya.
Seperti diberitakan, subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) tahun ini, diperkirakan akan melampaui dana yang sudah disediakan yaitu sebesar Rp 246,5 triliun. Hal itu dikarenakan kuota BBM bersubsidi yang bakal lebih dari perkiraan 46 juta kilo liter.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
ESDM Akui Tahan Ekspor Batu Bara Demi PLN, Masalah Pasokan PLTU Terungkap di Tengah Pemadaman
-
Wujud Nyata Komitmen ESG, Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026 Bagi 500 Anak
-
Marak Transaksi Palsu di Tokopedia, Pemerintah Gregetan!
-
Soal Laporan ke KPK, ITDC Klaim Tak Punya Wewenang Atur Dana Relokasi Mandalika
-
Menkeu Purbaya Legalkan Pencucian Uang Lewat Patriot Bond?
-
Investor Asing Masih Asik Jual Saham di RI, BMRI dan DSSA Jadi Incaran
-
Lahan Meikarta Bakal jadi Aset Negara? Maruarar Segera Urus Legalitas
-
Terungkap! Dua PLTU Raksasa di Cilacap Sempat Bermasalah, Jadi Pemicu Pemadaman Bergilir di Jawa
-
Listrik Pulau Jawa Gelap Gulita, Siapa yang Bertanggung Jawab?
-
Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026