Suara.com - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengkaji kembali penyesuaian kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi 3 bulan sampai 6 bulan, dari sebelumnya dua mingguan dan bulanan. Hal ini dilakukan agar pemerintah tidak terlalu sering memberikan gejolak kepada masyarakat.
Oleh sebab itu, sore ini, Kamis (21/5/2015) Meneri ESDM Sudirman Said bertemu dengan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro di Kementerian Keuangan untuk membahas tentang perpanjangan penetapan harga bbm.
"Iya ini tadi membicarakan mengenai pola pengumumannya yang tepat. Prinsipnya gunakan harga keekonomian, kami tidak ingin setiap dua minggu dan dua bulan sekali terjadi lonjakan naik turun. Karena itu kami akan lihat trennya seperti apa,” kata Sudirman saat ditemui dikantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (21/5/2015).
Sudirman mengatakan, dari hasi diskusinya banyak pendapat yang masuk. Ada yang berpendapat 3 bulan sampai 6 bulan. Ia membantah kalau pemerintah dalam hal ini dinilai ragu dalam menentukan perubahan harga bbm. Pasalnya, pemerintah harus hati-hati dalam menentukan ini karena menyangkut kepentingan masyarakat.
“Ini bukan ragu-ragu tapi kita sedang mencari pola terbaik saja. Kita tidak ingin tiap dua minggu atau sebulan ada lonjakan harga. Kasian masyarakat terus bergejolak dan harga-harga menjadi terganggu,” jelasnya.
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) telah membatalkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), termasuk Pertamax series pada hari ini. Sebelumnya, harga Pertamax akan dinaikan sebesar Rp800 per liter menjadi Rp9.600 per liter pada (15/5/2015) yang lalu.
Namun, rencana tersebut dibatalkan atas dasar hasil diskusi pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM dengan PT Pertamina untuk menunda kenaikan. Sudirman menjelaskan, pembatalan ini dikarenakan tidak ingin menimbulkan gejolak di masyarakat. Terlebih, pemerintah dan Pertamina tengah mengkaji pola penyesuaian harga BBM dan pola pengumuman agar tidak terlalu sering menimbulkan gejolak di masyarakat.
"Pemerintah sedang terus memperhatikan harga minyak dan mengkaji pola penyesuaian harga minyak dan harga BBM, yang tidak memberikan gejolak terlalu sering kepada masyarakat," kata Sudirman beberapa waktu lalu.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Trump Ungkap Nego Perang Berjalan Mulus, Iran Bantah: Awas 'Manipulasi' Pasar!
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab
-
Anggaran Dana Pensiun DPR-Pejabat Diusulkan untuk Guru Honorer hingga Nakes
-
Perhatian Pemudik! Rest Area KM 52B Bisa Ditutup Sewaktu-waktu Saat Arus Balik
-
Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi RI 5,7% di Q1 2026 Meski Ada Perang AS vs Iran
-
Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Capai 5,6 Persen Berkat Mudik Lebaran 2026
-
285 Ribu Kendaraan Bakal Padati Jalan Tol Trans Jawa pada 24 Maret
-
LPEI Ungkap Risiko Konflik Timur Tengah ke Kinerja Ekspor Indonesia Masih Terbatas
-
Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 120 Dolar AS per Barel Sepanjang 2026, Naik 2 Kali Lipat