Suara.com - Pemerintah, beberapa waktu lalu, berencana menggabungkan (holding) dua perusahaan BUMN migas yaitu PT Pertamina dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Hal tersebut dilakukan sebagai upaya efesiensi industri minyak dan gas di Indonesia.
Menanggapi wacana tersebut, Pengamat ekonomi dan politik, Ichsanuddin Noorsy menyambut baik rencana pemerintah tersebut. Penggabungan dua perusahaan tersebut berdampak positif pada infrastruktur migas nasional. Juga menjadi solusi dalam pengambilan kebijakan yang selama ini masih sering tumpang tindih.
"Sebaiknya sistem permigasan kita harus lebih simple dan jelas. Jangan kelewat banyak BUMN entah itu namanya agregator. Cukup pemerintah yang memegang kebijakan dan regulator, enggak bentuk baru. Ditjen Migas harus diperkuat, bukan bentuk lembaga baru," ujarnya di Jakarta, Jumat (5/6/2015).
Menurut Ichsan, hal ini dinilai lebih efisien ketimbang menjadikan dua perusahaan pelat merah tersebut menjadi agregator gas nasional. Agregator gas justru akan menimbulkan inefisiensi baru di sektor migas nasional. Investor justru akan menjauh karena sistemnya berbelit.
Noorsy memaparkan, saat ini infrastruktur gas di Indonesia masih sangat minim, terlebih untuk kebutuhan rumah tangga. Ketergantungan rumah tangga terhadap elpiji harus dihentikan, sebab untuk mendapatkan elpiji harus diimpor.
"Harusnya ketergantungan rumah tangga terhadap elpiji harus dihentikan, sebab untuk mendapatkan elpiji harus diimpor. Padahal, di perut bumi Nusantara ini, cadangan gasnya besar," jelasnya.
Kendati demikian, menurut Noorsy saat ini Indonesia masih dihadapkan minimnya pipa gas untuk menyalurkan gas ke rumah tangga yang nantinya menjadi tugas PGN untuk menyediakannya.
"Tapi, kenyataannya pipa gas tak tertangani oleh BUMN (Badan Usaha Milik Negara) gas tersebut, karena telah diswastakan sekitar 43 persen. Ya, solusinya gabungkan PGN dan Pertamina harus holding. Bila perlu, saham swasta harus di-buyback pemerintah sehingga bisa meminta PGN bangun infrastruktur gas," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
-
Resmi, Pemerintah Izinkan BLU Impor Minyak dan LPG
-
Tak Hanya Pertamina, Pemerintah Justru Bolehkan Lemigas Impor Minyak Mentah
-
Pertamina Drilling dan Halliburton Indonesia Sepakat Jalin Kerja Sama Strategis
-
Pertamina Salurkan Lebih dari 4.400 Hewan Kurban untuk Masyarakat pada hari raya Iduladha 2026
-
Iduladha 2026, Pertamina Trans Kontinental Jaga Operasional & Berbagi Berkah Kurban pada Masyarakat
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
5 Trik Jitu Naikin Limit Aplikasi Buy Now PayLater ke 50 Juta
-
Harga Emas Hari Ini Naik, Antam Sentuh Rp2,88 Juta per Gram
-
Link Download PP 20 Tahun 2026 PDF, Aturan Pajak Baru yang Soroti Suap hingga UMKM
-
Rogoh Rp750 Juta, Mitratel Tebar 242 Hewan Kurban Premium
-
Konsumsi Daging Orang RI Ternyata Masih Rendah
-
Peruri Tebar Hewan Kurban ke 4 Daerah
-
Petani Diproyeksi Untung, Bulog Pastikan Harga Ekspor Beras ke Malaysia Lebih Mahal dari HET
-
Belajar dari Blackout Sumatra, Cuaca Kini Jadi Faktor Krusial Sistem Listrik
-
ESDM Kantongi 24 Ribu Hektare Lahan untuk Proyek PLTS
-
Rohis Pegadaian Wujudkan Satu Ketulusan Sejuta Kebermanfaatan: Distribusi 4.500 Paket Daging Kurban