Suara.com - Perkembangan zaman yang semakin modern menuntut para pelaku usaha untuk mengembangkan produk-produknya terutama dibidang fesyen agar bisa bersaing di pasar nasional, khususnya produk-produk yang menggunakan kain-kain nusantara.
Seperti yang dilakukan Mirzani, pengusaha kain songket asal Palembang ini, terinspirasi dari para pedagang batik yang menyulap kain dengan model yang lebih modern, ia pun menyulap kain songket Palembang menjadi model pakaian lebih terlihat fashionable dengan berbagai macam gaya. Tak hanya orang tua, remaja bahkan anak-anak pun kini senang menggunakan kain songket baik untuk dipakai sehari-hari maupun pada acara tertentu.
“Awalnya coba-coba saja. Tapi kan saya pikir lagi kalau modelnya gitu aja, hanya untuk acara adat pasarnya sedikit sekarang. Karena orang sudah jarang juga kalau menikah menggunakan ritual adat, sudah bernuansa modern. Nah untuk memperluas pangsa pasar, kita coba cari model buat kain songket, biar bisa dipakai kapan saja. Misalnya dibikin rok yang bisa dipakai segala usia,” kata Mirzani saat berbincang dengan suara.com.
Mirzani bercerita, untuk membesarkan usaha kain songket yang lebih fashionable tidak mudah. Pasalnya membutuhkan modal yang tidak sedikit. Mirzani harus merekrut beberapa karyawan yang bisa membuat model-model modern agar bisa diterima dimasyarakat.
“Kan saya yang buat kain songketnya. Terus untuk urusan jahit menjahit hingga menjadi pakaian jadi saya butuh karyawan juga. Sempat kekurangan modal, sempet putus asa juga. Akhirnya coba pinjam sana sini ternyata alhamdulilah sekarang sudah jalan,” ungkapnya.
Ia mengatakan, untuk memulai usaha kain songket ini dia hanya memiliki modal usaha Rp3 juta rupiah. Dengan modal tersebut, Mirzani memberanikan diri untuk menyewa sebuah kontrakan untuk memulai bisnisnya tersebut.
“Saya dulu hanya modal Rp 3 juta. Saya buat bayar kontrakan, terus beli bahan dan benang. Saya tenun sendiri semuanya. Terus saya juga beli peralatan segala macam untuk memulai usaha ini. kira-kira tahun 2009 yang lalu saya mulainya. Tapi modalnya ya masih kain gitu belum dimodelin,” katanya.
Setelah jadi satu kain songket, ia mulai memasarkan dan menjualnya. Namun, karena Mirzani belum memiliki konsumen, ia mulai menjualnya kepada warga sekitar yang tinggal di dekat kontrakannya tersebut. Dari situlah ia mulai ditolak, tapi ia berpantang surut.
Setahun kemudian, ternyata kerja kerasnya membuahkan hasil. Dimana, masyarakat mulai mengenal kain songket buatannya. Pembelinya kala itu tidak hanya masyarakat yang tinggal di Palembang, beberapa wisatawan asal Jawa dan Jakarta mulai berdatangan untuk membeli kain songket buatannya.
“Perlahan-lahan memang. Awalnya orang Palembang, terus mereka promosikan dari mulut ke mulut akhirnya banyak juga yang datang dari Jakarta, Yogyakarta datang,” katanya.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ia berpikir untuk memperluas pangsa pasarnya yakni dengan mengubah kain songket menjadi pakaian yang modern. Ternyata, usahanya tak sia-sia, berkat idenya tersebut kini kain songket dengan gaya modern mampu membawa karyanya menembus pasar internasional.
“Alhamdululilah sekarang sudah bisa ekspor. Itu berkat ada wisatawan asing asal Malaysia dulu datang, terus dibawa ke sana ternyata teman-temannya pada suka. Akhirnya permintaan dari Malaysia semakin banyak. saya bisa ekspor kesana. Terus ke Vietman juga sama Jepang. Modelnya banyak, ada rok ada dress banyak bentuknya,” ujarnya.
Untuk harga kain songket yang dijual Mirzani, dibanderol mulai dari Rp200 ribu-Rp25 juta. “Kalau baju kisarannya Rp300 ribuan sampai Rp500 ribu. Kalau ekspor ada itung-itungannya, kan harus dimasukan anggaran cargonya,” ungkap Mirzani.
Kini, usahanya yang dirintis sejak 2009 silam, sudah mampu mengantongi omzet Rp50 juta per bulan. Dan ia sudah mampu mempekerjaan karyawan sebanyak 15 orang. Ia pun berharap, kain songket ini bisa memperkenalkan kepada dunia bahwa Indonesia kaya akan kebudayaan.
“Selain bisnis, saya juga berniat memperkenalkan kain songket dan Palembang ini kepada dunia kalau Indonesia ini sangat kaya sekali akan kebudayaannya, jadi bisa menarik wisatawan asing. Jadi menguntungkan semua pihak,” kata Mirzani.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Rupiah Ambruk Karena Kondisi Fiskal, Panda Bond dan Swap Currency Tak Selesaikan Masalah
-
Fundamental Terjaga, Tugu Insurance Bukukan Laba Rp265,62 Miliar di Kuartal I-2026
-
Investor Masih Kabur saat IHSG Menguat? Rupiah Kuncinya
-
Bahlil Mau Terapkan Skema Bagi Hasil Migas di Sektor Pertambangan
-
Ada Pejabat Baru di Lingkungan Kementerian ESDM, Ini Daftarnya
-
Pengamat Ingatkan Efek Pelemahan Rupiah Bikin APBN Berdarah-darah
-
Bahlil Fokus Ganti LPG 3 Kg ke CNG, Berapa Harga Jualnya?
-
Dirikan Learning Center di Fakultas Pertanian UGM, Wujud Kepedulian BRI terhadap Pendidikan
-
Rupiah Turun Terus, Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Obligasi
-
Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok