Bisnis / Makro
Selasa, 02 Februari 2016 | 04:36 WIB
Seorang petani menebar pupuk di areal sawah Kelurahan Karang Malang, Jawa Barat. (Antara/Dedhez Anggara)

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) nasional Januari 2016 sebesar 102,55 atau turun 0,27 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,35 persen lebih kecil dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,63 persen.

NTP sendiri merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang harus dibayar petani. "NTP adalah salah satu indikator untuk melihat daya beli petani yang hidup di pedesaan," kata Kepala BPS Suryamin dalam pernyataan resmi, Senin (1/2/2016).

Penurunan NTP pada Januari 2016 dipengaruhi turunnya NTP pada 3 subsektor. Antara lain subsektor hortikultura sebesar 0,44 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,80 persen, dan subsektor peternakan sebesar 0,12 persen.

Pada Januari 2016, NTP Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan terbesar (1,22 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Maluku mengalami kenaikan tertinggi (0,92 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya.

Pada Januari 2016 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,83 persen disebabkan oleh naiknya indeks dihampirseluruh kelompok konsumsi rumah tangga kecuali kelompok transportasi dan komunikasi.

"Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Januari 2016 sebesar 110,13 atau naik 0,18 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya," tutup Suryamin. 

Load More