Lifestyle / Komunitas
Kamis, 07 Mei 2026 | 12:54 WIB
Petani di Klaten, Jawa Tengah, Lilik Sri Haryanto. (Suara.com/Bimo Aria Fundrika)
Baca 10 detik
  • Petani di Desa Karanglo, Klaten menghadapi masalah penurunan kesuburan tanah dan ketidakpastian iklim akibat pola pertanian konvensional.
  • PT Tirta Investama Klaten membina program pertanian regeneratif untuk memulihkan kesehatan tanah dan meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi.
  • Program ini melibatkan 309 petani di kawasan Sub-DAS Pusur guna memperkuat ketahanan lingkungan serta produktivitas hasil pertanian lokal.

Suara.com - Siang itu, panas matahari menyelimuti hamparan sawah di Desa Karanglo, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dari kejauhan, area persawahan tampak hijau dan tenang.

Air masih mengalir di sela petak-petak sawah, sementara angin sesekali menggoyangkan tanaman padi. Namun, di balik pemandangan yang terlihat subur itu, para petani menyimpan kegelisahan yang tidak sederhana.

Tanah yang dulu dianggap selalu mampu menghasilkan panen perlahan mulai berubah. Kesuburannya menurun, kebutuhan pupuk meningkat, sementara biaya produksi terus naik. Di saat yang sama, musim menjadi semakin sulit diprediksi.

“Kalau lahan tidak mulai kita perbaiki dari sekarang, suatu saat tanah pertanian bisa kehilangan kesuburannya,” ujar Lilik Sri Haryanto.

Pria yang siang itu mengenakan baju lurik dan blangkon tersebut berbicara di bawah sebuah pendopo kayu di tengah persawahan. Di depannya, sejumlah petani dan tamu duduk melingkar sambil mendengarkan penjelasannya.

Ilustrasi sawah. (Pixabay)

Lilik bukan sekadar petani biasa. Ia merupakan salah satu local champion program regenerative agriculture binaan PT Tirta Investama Klaten (AQUA Klaten) di kawasan Sub-DAS Pusur.

Bagi Lilik, masalah pertanian hari ini bukan ancaman yang jauh. Ia dan petani lain sudah mulai merasakannya langsung di lapangan.

Selama bertahun-tahun, pola pertanian konvensional membuat tanah terus dipaksa memproduksi hasil tanpa benar-benar dipulihkan. Sawah terus-menerus digenangi air, penggunaan pupuk dan pestisida kimia tinggi, sementara kandungan organik di dalam tanah semakin menurun.

Akibatnya, struktur tanah berubah menjadi lebih keras dan kemampuan menyimpan air ikut berkurang.

Baca Juga: Cekik Industri Tembakau Sama Saja 'Bunuh' 6 Juta Pekerja, Wamenaker: Negara Belum Siap!

“Kalau musim kemarau datang panjang, tanah lebih cepat retak,” katanya.

Perubahan iklim membuat situasi semakin rumit. Jadwal musim hujan dan kemarau tidak lagi mudah ditebak. Ketika debit air menurun, persoalan irigasi mulai memicu ketegangan antarpetani.

“Kadang petani bisa rebutan air untuk mengairi lahannya,” ujar Lilik.

Menghidupkan Kembali Tanah

Dari kegelisahan itulah, pendekatan regenerative agriculture mulai diperkenalkan di kawasan Sub-DAS Pusur.

Bagi sebagian orang, istilah regenerative agriculture mungkin terdengar rumit. Namun bagi Lilik, konsepnya sederhana, yakni menghidupkan kembali tanah yang mulai “lelah”.

Load More