Robohnya bagian dari Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada akhir pekan lalu mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka. Kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan bagaimana keamanan dan keselamatan dari JPO yang ada.
Mencegah kejadian serupa terulang, Ditjen Bina Marga mengundang para ahli konstruksi jembatan dan 22 Kepala Dinas Bina Marga membahas penyempurnaan Tata Cara Perencanaan Jembatan Penyeberangan untuk Pejalan Kaki di Perkotaan yang sudah diatur oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Rabu (28/9/2016) di Jakarta.
Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga sendiri telah membentuk tim yang dipimpin langsung Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto. Berdasarkan hasil penelusuran tim tersebut, robohnya JPO Pasar Minggu disebabkan pemasangan papan reklame yang tidak sesuai dengan konstruksi jembatan.
Penilaian tim khusus tersebut menyebutkan, papan reklame tidak dipasang di konstruksi penyangga, melainkan pada plat jembatan. Hal tersebut mengakibatkan ketika angin kencang menerpa, papan reklame tidak mampu menahan terpaan angin sehingga ambruk.
“Papan reklame ini kan suatu potensi ekonomi, namun harus dilihat secara keseluruhan tidak hanya ditempelkan. Kedepan, kita harus tegaskan apakah ada reklame nantinya atau tidak. Kita review aturan yang ada, kalau sudah ada. Juga nanti dilihat stabilitas struktur secara keseluruhan, kemudian harus mengakomodasi intensitas angin, kemungkinan gempa dan lain-lain,” tutur Arie sebelum acara berlangsung.
Arie mengatakan bahwa kewenangan pemasangan JPO berbeda-beda. Bila berlokasi di jalan nasional merupakan kewenangan pemerintah pusat, di jalan provinsi menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan seterusnya. Untuk itu Kementerian PUPR sebagai pembina penyelenggaraan jalan di Indonesia akan membuat standar dan regulasi yang jelas untuk pemasangan dan pemeliharaan JPO.
“Yang bisa kami lakukan membuat standar yang jelas, regulasi yang jelas kemudian bagaimana itu dipasangnya dan pemeliharaannya seperti apa pengecekannya, itu yang akan kami dorong. Apabila pemda tidak ada tenaga ahli, kita akan sediakan tenaga ahlinya,” tambah Arie.
Ditambahkannya dalam perencanaan reklame juga telah memperhitungkan pengaruh beban lain yang bekerja pada sandaran. Disamping itu inspeksi atau pemeriksaan berkala perlu dilakukan terhadap kondisi JPO mengingat kondisi lingkungan berpotensi untuk mempengaruhi elemen struktur JPO.
"Sebagai contoh, pengencangan baut pada JPO apabila elemen baut jembatan telah kendor, pengelasan kembali elemen tertentu dan mengecat atau memproteksi permukaan jembatan yang mulai berkarat" jelasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita
-
Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru
-
Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun
-
PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025
-
CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai
-
BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
-
Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026
-
PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen
-
Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun
-
Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara