Suara.com - Belum lama ini pemerintah mengajak masyarakat untuk menabung di bank. Menabung di bank dinilai akan membuat ekonomi Indonesia secara keseluruhan berputar lebih kencang dari saat ini.
Selama ini masyarakat memang memiliki banyak pilihan untuk menabung.
Emas merupakan tempat paling popular bagi masyarakat. Selain emas, membeli tanah juga menjadi tempat paling favorit bagi masyarakat untuk menyimpan dananya dalam jangka panjang. Akibatnya dana masyarakat tidak masuk ke sistem perbankan.
Agar masyarakat mau menabung ke bank, tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan bank. Jika ada keuntungan yang lebih baik dan kemudahan proses yang didapatkan pemilik dana, tentu masyarakat tidak segan-segan menaruh dananya di bank sebagai tabungan. “Untuk keperluan kredit, masyarakat sebaiknya menabung uangnya di bank,” kata Jay Broekman, Managing Director Halomoney.co.id.
Berikut ini data yang menarik yang diungkapkan pemerintah mengapa masyarakat perlu menabung di bank, dikutip Halomoney dari berbagai sumber.
Perilaku konsumtif
Di berbagai media, pemerintah beralasan, perilaku konsumtif masyarakat mempengaruhi minimnya dana masyarakat yang disimpan di bank. Perilaku konsumtif tak lain ialah membelanjakan penghasilan masyarakat untuk kebutuhan konsumtif sehari-hari maupun kebutuhan konsumtif lainnya seperti mengambil cicilan kendaraan bermotor hingga berwisata di dalam dan luar negeri.
Akibat faktor perilaku konsumtif inilah, penghasilan keluarga hanya tersisa sedikit untuk disimpan di bank. Perilaku komsumtif ini juga semakin menjauhkan
Rasio tabungan ke PDB
Alasan lain, rasio tabungan masyarakat Indonesia terhadap perputaran ekonomi atau produk domestic bruto terbilang rendah disbanding Negara tetangga. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio tabungan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih relatif rendah, sebesar 34,8 persen pada 2015. Rasio ini lebih rendah dari Singapura yang mencapai 49%, bahkan lebih rendah dari Filipina yang sebesar 46%. Ini menandakan, simpanan masyarakat di bank hanya sepertiga dari total ekonomi, sedangkan dua pertiga lainnya tidak masuk di sistem bank.
Rasio tabungan di rumah tangga
Dari sisi rasio tabungan setiap rumah tangga, datanya juga menarik. Rata rasio tabungan rumah tangga terhadap total pendapatan di Indonesia hanya sebesar 8,5%. Jika dihitung dari pendapatan per kapita selama 2016 sebesar Rp47 juta per tahun atau mendakati Rp4 juta per bulan, berarti tabungan keluarga hanya sebesar kurang dari Rp400.000 per bulan untuk tabungan. Rasio tabungan rumah tangga penghasilan paling rendah hanya 5,2 % dan rumah tangga penghasilan tertinggi mencapai 12,6 %.
Lantas mengapa kita perlu menabung ke bank? Berikut ini penjelasan Halomoney.co.id, mengutip dari berbagai sumber:
Meningkatkan kredit score
Menabung di bank sebetulnya bisa meningkatkan skor Anda saat mengajukan pinjaman atau mau memiliki kartu kredit demi memudahkan transaksi. Jika dana Anda tercatat di bank, bank akan mengetahui total penghasilan Anda. Berbeda jika Anda tidak menaruh semua penghasilan Anda di bank, bank akan meragukan Anda jika Anda sedang mengajukan kredit ke bank.
Memiliki tanah bukan jaminan kredit mudah
Memiliki tanah bukan jaminan Anda akan mendapatkan kredit dengan mudah dan berbunga rendah. Bank akan menilai posisi tanah tersebut, apakah cukup strategis atau tidak. Memiliki prospek yang besar untuk berkembang atau tidak. Jika tidak memenuhi syarat di mata bank, Anda akan tetap dikenakan bunga cukup besar meski mengajukan sertifikat tanah sebagai jaminan.
Mudah dicairkan
Keuntungan memiliki tabungan di bank adalah mudah mencairkan dana. Apakah tabungan Anda dalam bentuk tabungan berjangka, deposito maupun reksadana, Anda dapat dengan mudah menarik dana Anda dari brankas bank. Berbeda jika Anda menabung dalam bentuk tanah: proses menjual tanah tersebut cukup pelik sehingga Anda membutuhkan waktu lebih lama. Padahal mungkin Anda sedang membutuhkan dana untuk kebutuhan mendadak.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
Terkini
-
Terungkap Penyebab Indonesia Masih Tertinggal dari Malaysia untuk Perbankan Syariah!
-
OJK Perkuat Pengawasan Perbankan Hadapi Kompleksitas dan Digitalisasi
-
Genjot Daya Saing Daerah, Arsitek Lanskap Dorong Infrastruktur Hijau
-
Ekonom PEPS: Kriminalisasi Sengketa Bisnis Hambat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
-
Harga Emas dan Buyback di Pegadaian Naik, Galeri 24 dan UBS Kompak Meroket
-
Harga Emas Melemah Setelah Sempat Kembali ke Level 5.000 Dolar AS
-
Cara Update Data Desil DTKS 2026 Agar Dapat Bansos
-
Apa Itu 'Saham Gorengan'? Ramai Dibahas Imbas Kasus PIPA dan MINA
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
IES 2026 Menjadi Ruang Dialog Ekonomi, Energi, dan Daya Saing Indonesia