Suara.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono menilai ada Ketidakberesan di tubuh PT Pertamina (Persero). Penilaian Arief muncul saat melihat perolehan laba bersih Pertamina pada tahun 2017 anjlok sebesar 23 persen dibanding akhir tahun 2016.
"Padahal perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi di negara-negara lain masih berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih seiring naiknya harga minyak dunia," kata Arief saat dihubungi Suara.com, Selasa (6/2/2018).
Arief mencontohkan perusahaan migas asal Belanda, Shell yang berhasil mengantongi laba bersih sebesar 4,1 miliar dolar Amerika Serikat di kuartal III-2017. Angka itu naik dari catatan di kuartal yang sama di tahun sebelumnya sebesar 2,7 miliar dolar AS.
Selain itu, perusahaan pemilik SPBU Petronas, Petroliam Nasional Bhd juga berhasil mengantongi laba setelah pajak sebesar 10 miliar ringgit di kuartal III-2017. Capaian ini naik 64 persen dari kuartal yang sama di 2016 sebesar 6,1 miliar ringgit. Sedangkan pendapatan naik 14 persen menjadi 53,7 miliar ringgit.
"Ini merupakan catatan kinerja Pertamina yang buruk selama dipiloti oleh Elya Massamanik. Karena itu Presiden Joko Widodo harus meminta Menteri BUMN untuk mengevaluasi kinerja Direksi Pertamina yang tidak mampu menaikan laba bersih Pertamina pada tahun 2017," ujarnya.
Menurut Arief, salah satu ketidakberesan yang terlihat adalah penempatan jajaran pejabat manajemen yang lebih berbasis primodialisme berdasarakan suku dibandingkan berdasarkan kompetensi dalam penempatannya
.
Sebab sangat aneh disaat NOC negara lain menikmati kenaikan laba bersih justru Pertamina terus melorot laba bersihnya.
Kondisi terbalik justru dialami Pertamina yang meski sepanjang 2017 berhasil mengantongi pendapatan sebesar 42,86 miliar dolar AS atau naik 17 persen dari 2016. Namun perolehan laba bersih perseroan turun dari 3,15 miliar dolar AS di 2016 menjadi 2,4 miliar dolar AS di 2017 atau Rp36,4 triliun (kurs Rp 13.500).
Manajemen Pertamina berdalih penurunan sebesar 23 persen itu tersebut lantaran belum adanya penyesuaian harga untuk BBM bersubsidi seperti Premium dan Solar
.
Alasan tentang belum adanya harga untuk BBM bersubsidi seperti Premium dan Solar tidak bisa jadi sebuah alasan.
"Sebab BBM premium dan Solar hkn hasil dari impor ebanyakan dan saat ini saja dijual dengan harga yang jauh lebih mahal dari luar negeri. Jadi ini pasti ada ketidakberesan dalam hal trading Pertamina untuk impor Premium dan Solar. Patut diduga ada kelompok Mafia Migas yang masih terus mengerogoti Pertamina. Direksi Pertamina harus berani melawan dan menolak para mafia impor dan mafia broker impor minyak," tuturnya.
Baca Juga: Kejagung Tetapkan Tersangka Korupsi Investasi Blok BMG Pertamina
Menurutnya, sebuah keanehan ketika dulu beli minyak dari Petral justru laba Pertamina naik. Saat ini justru ketika Pertamina membeli langsung, malah terjadi penurunan laba.
"Karena itu segera saja rombak Direksi Pertamina dengan orang orang yang mumpuni agar kinerja Pertamina meningkat.
Dulu sudah saya perkirakan pasti Elia Massamanik tidak akan mampu menahkodai Pertamina. Wong di PTPN saja PTPN rugi,apalagi di Pertamina," tutup pria yang juga Ketua Federasi Pekerja BUMN tersebut.
Tag
Berita Terkait
-
Presiden Prabowo: Hilirisasi Harus Berbasis Teknologi Terbaik, Utamakan Manfaat untuk Rakyat
-
Presiden Prabowo Tegaskan SDA Indonesia Harus Dinikmati Sepenuhnya oleh Rakyat
-
Presiden Prabowo: Hilirisasi Kunci Kebangkitan dan Kemakmuran Bangsa
-
Harga BBM Pertamina Hari Ini 1 Mei 2026: Harga Pertamax Belum Berubah
-
Presiden Prabowo Lakukan Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II Senilai Rp116 Triliun
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Meledak! ! Ahmad Dhani Serang Maia Estianty Sampai Ungkit Dugaan Perselingkuhan dengan Petinggi TV
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Pasokan Terancam, Harga Minyak Dunia Naik Tajam di Awal Mei 2026
-
Harga Pangan 1 Mei 2026 Cabai Rawit Merah Tembus Rp84.000/Kg, Bawang Merah dan Beras Ikut Meroket
-
CIMB Niaga Cetak Laba Rp2,3 Triliun di Kuartal I 2026
-
Bank Indonesia Luncurkan PIDI dan QRIS Antarnegara RI-China, Dorong Ekonomi Digital 2026
-
Update Harga Emas 1 Mei 2026 di Tengah Ketidakpastian Global
-
Riset Oxford: Produk Tembakau Alternatif Lebih Ampuh Bantu Perokok 'Hijrah'
-
Cashlez (CASH) Siap Rights Issue Rp237 Miliar untuk Kurangi Beban Kerugian
-
Kisah Owner Jejamuran, Buka Usaha di Usia 62 Tahun hingga Dua Kali Dipanggil ke Istana
-
IHSG Merosot Sepekan, Nilai Kapitalisasi Pasar Menyusut 2,78 Persen
-
Harga BBM Pertamina Hari Ini 1 Mei 2026: Harga Pertamax Belum Berubah