Suara.com - Kebijakan pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat ternyata semakin membuat perekonomian nasional kian melarat.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal bahkan secara gamblang mengatakan, sepanjang tahun ini pertumbuhan ekonomi paling tinggi hanya di kisaran 3 persen.
Target pemerintah yang mematok di angka 4 hingga 5 persen, dipikir oleh Faisal akan sulit tercapai.
"Untuk mencapai 4 persen itu susah. Saya masih percaya pada range lebih mengarah pada 3 persen, tetapi belum sampai lebih rendah dari itu," kata Faisal dalam sebuah webinar bertajuk 'Meneropong Pertumbuhan Ekonomi TW 3 Imbas PPKM Darurat', Jumat (23/7/2021).
Menurut dia, angka ini jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun 2020 yang tumbuh minus 2,07 persen.
Tak maksimalnya pertumbuhan ekonomi yang diimpikan oleh pemerintah pada tahun ini, adalah imbas penerapan sejumlah kebijakan seperti PPKM Darurat yang membuat aktivitas mobilitas masyarakat terbatas.
Situasi ini, kata dia, hampir sama dengan penerapan PSBB pada kuartal II 2020 meski tak seburuk tahun lalu.
"Tahun lalu memang kontraksinya dalam, sehingga dengan basis yang dalam untuk kemudian tumbuh lebih positif itu kemungkinannya menjadi lebih besar di tahun ini. Walaupun masih ada restriksi, kita bandingannya dengan kondisi PSBB yang paling buruk pada kuartal II tahun lalu," ungkapnya.
Untungnya lanjut Faisal, ekonomi Indonesia terselamatkan dengan bagusnya nilai neraca perdagangan Indonesia yang terus mencatatkan nilai surplus.
Baca Juga: Ketua PBNU: Pemerintah Selama Ini Main Sendiri Tangani Pandemi, Ajak Ngomong pun Tidak
Pada Juni 2021, total ekspor Indonesia mencatatkan nilai 18,55 miliar dolar AS naik 9,52 persen dibanding Mei 2021 atau naik 54,46 persen dibanding Juni 2020.
Menurut Faisal, ada dorongan yang luar biasa dari ekspor terhadap berbagai komoditas sehingga membantu pertumbuhan ekonomi tahun ini.
"Pada kuartal II tahun ini memang tumbuh tinggi sekali karena lonjakan harga terjadi hampir pada semua komoditas."
Berita Terkait
-
Ketua PBNU: Pemerintah Selama Ini Main Sendiri Tangani Pandemi, Ajak Ngomong pun Tidak
-
Terjepit Pandemi, Jalan Ikhtiar Ari Pemijat Difabel Banting Tulang Demi Obati Tumor Istri
-
Cak Imin: Vaksinasi Pasti Gagal Kalau Pemerintah One Man Show
-
Masih Darurat Pandemi, Kak Seto Minta Orangtua Jangan Paksa Anak Untuk Naik Kelas
-
Ketum PKB: Kita Memang Tertinggal Jauh, Banyak Negara Sukses Tangani Pandemi Covid-19
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Siap-siap! Purbaya Mau Patuhi Perintah Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai
-
Tugas BUMN Danantara Sumberdaya Indonesia Baru Pencatatan Ekspor
-
BTN Salurkan KPP Hampir Rp3 Triliun
-
Prabowo Minta Purbaya Ganti Pimpinan Bea Cukai, Singgung Kasus Era Orde Baru
-
Pemerintah Beri Insentif Pajak 0 Persen Bagi Eksportir SDA, Ini Syaratnya
-
Sentimen BUMN Makelar Eskpor Bikin IHSG Kacau Balau, Ambruk Lagi 0,82%
-
Devisa Hasil Ekspor SDA Wajib Ditempatkan di Bank Himbara, Ini Skemanya
-
Mulai 1 Juni, BUMN Siap Jadi Makelar Ekspor SDA
-
IHSG Ditutup di Zona Merah, BRI Sekuritas Berikan Peringatan Keras
-
Belanja Negara Melonjak Rp 1.082 T April 2026, Purbaya Bantah Ekonomi Tumbuh karena Dana Pemerintah