Bisnis / Keuangan
Selasa, 17 Februari 2026 | 17:14 WIB
Seorang pengunjung mengambil gambar pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (30/12/2024). [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.]
Baca 10 detik
  • IHSG diproyeksikan konsolidasi pada 18-20 Februari 2026, dipengaruhi laporan keuangan 2025 dan kebijakan suku bunga.
  • Investor perlu mencermati inflasi domestik, neraca perdagangan, dan reformasi Bursa Efek Indonesia sebagai penentu arah.
  • Secara teknikal, IHSG berpotensi bergerak konsolidasi antara resistance 8.300 dan support 8.120.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masuk fase konsoslidasi untuk perdagangan 18-20 Februari 2026 pasca libur Imlek.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, mengatakan pergerakan IHSG akan dipengaruhi sentimen fundamental dari rilis laporan keuangan tahunan 2025 yang secara umum memberikan katalis positif.

Terutama, bagi emiten dengan pertumbuhan laba solid dan margin yang terjaga.

Sentimen kebijakan suku bunga juga menjadi faktor penting karena berpotensi menggerakkan sektor perbankan dan properti, seiring ekspektasi stabilitas likuiditas dan permintaan kredit.

OJK menyambut rencana Danantara untuk menjadi salah satu pemegang saham PT BEI. IHSG anjlok parah pada 28 dan 29 Januari setelah MSCI mengumumkan menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar modal Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks. [Antara]

"Investor juga perlu memerhatikan rilis data inflasi domestik, update neraca perdagangan, serta sentimen korporasi dari laporan keuangan emiten kuartal IV/2025 yang dapat memberikan arahan lanjutan terhadap arah IHSG," ujarnya Hari dalam risetnya yang dikutip, Selasa (17/2/2026).

Di sisi lain, investor tetap perlu mencermati perkembangan reformasi Bursa Efek Indonesia yang progresnya cukup konstruktif dan dapat memperkuat kepercayaan pasar dalam jangka menengah.

Secara teknikal, IHSG saat ini berpotensi bergerak konsolidasi setelah belum berhasil menembus area resistance 8.300, dengan level support berada di kisaran 8.120.

Selama resistance tersebut belum terlewati, pergerakan cenderung sideways dengan volatilitas terbatas.

"Dalam kondisi ini investor disarankan lebih selektif dengan fokus pada saham berfundamental kuat dan memiliki dukungan kinerja yang jelas, khususnya di sektor komoditas seperti batu bara, nikel, dan emas yang masih ditopang permintaan global serta harga komoditas yang relatif stabil," imbuhnya.

Ia menambahkan strategi akumulasi bertahap di area support serta disiplin manajemen risiko menjadi kunci untuk menjaga portofolio tetap optimal di tengah fase konsolidasi pasar.

Baca Juga: Laju Bursa Asia Terpangkas Libur Imlek, Nikkei Terpeleset Isu Wait and See

Berikut beberapa saham yang menjadi rekomendasi pada pekan ini, BBTN, BMRI, LPPF, HRUM.

Load More