Suara.com - Kementerian ESDM menambah alokasi bahan bakar minyak jenis biodiesel sebesar 213.033 kiloliter menjadi total 9.413.033 kiloliter untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sampai akhir 2021.
Hingga akhir November 2021, dari alokasi awal biodiesel sebesar 9,2 juta kiloliter tercatat sudah terealisasi 8,08 juta kiloliter atau 87,9 persen dari total alokasi.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, aktivitas masyarakat yang terus meningkat menuju kembali pada kondisi normal berdampak pada peningkatan kebutuhan BBM.
"Keberhasilan program pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) oleh pemerintah telah membuat aktivitas masyarakat berangsur pulih menuju kembali pada kondisi normal. Hal ini juga berdampak pada peningkatan kebutuhan atau demand BBM, termasuk solar yang mulai menunjukkan tren meningkat sejak September 2021," ujarnya.
Hal ini sesuai dengan tahapan pelaksanaan mandatori biodiesel yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri ESDM No 12 tahun 2015 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 32/2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain, pemerintah resmi mengimplementasikan program mandatori pencampuran 70 persen solar dengan 30 persen biodiesel (program B30) pada 1 Januari 2020.
Langkah ini jadi salah satu program prioritas nasional untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mencapai transisi energi bersih, khususnya di sektor transportasi.
Ketetapan penambahan alokasi biodiesel ini tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM No 149.K/EK.05/DJE/2021 tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Menteri ESDM No 252.K/10/MEM/2021 tentang Penetapan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel serta Alokasi Besaran Volume untuk Pencampuran Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar Periode Januari-Desember 2021 tertanggal 30 November 2021.
Pada tahun 2022, menurut Dadan, berdasarkan realisasi impor minyak solar dan realisasi penyaluran biodiesel pada 2021, serta asumsi pertumbuhan demand sebesar 5,5 persen, estimasi demand solar sebesar 33,84 juta kiloliter, sehingga kebutuhan alokasi biodiesel di 2022 diestimasikan sebesar 10,1 juta kiloliter.
Untuk itu, Kementerian ESDM menetapkan alokasi biodiesel untuk 2022 sebesar 10.151.018 kiloliter melalui Keputusan Menteri ESDM No 150.K/EK.05/DJE/2021 tentang Penetapan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel serta Alokasi Besaran Volume untuk Pencampuran Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar Periode Januari-Desember 2022 tertanggal 30 November 2021.
Baca Juga: Masih Ada Wilayah yang Gelap, Rasio Elektrifikasi Belum Capai 100 Persen
Adapun untuk penyaluran program biodiesel pada 2022 ini akan didukung oleh 22 badan usaha BBN dengan kapasitas terpasang sebesar 15.493.187 kiloliter dan kemampuan produksi tahunan sebesar 13.527.527 kiloliter.
Pemerintah berharap penyaluran biodiesel pada 2022 dapat dilakukan dengan lebih efisien dan meminimalkan terjadinya keterlambatan atau gagal suplai (B0).
Untuk itu, Dadan menambahkan telah dilakukan beberapa perbaikan antara lain melalui pembagian alokasi dengan memperhitungkan kinerja badan usaha BBN dalam melakukan penyaluran biodiesel periode 1 November 2020 hingga 31 Oktober tahun 2021.
Selanjutnya, mengupayakan agar setiap tiap titik serah minimal ada dua badan usaha (BU) BBN yang mensuplai, menyiapkan formula penentuan ongkos angkut, pemilihan BU BBN dan BU BBM berdasarkan optimalisasi rute sehingga ongkos angkut menjadi efisien, dan membuat aplikasi pengawasan distribusi BBN secara online untuk mempermudah mitigasi jika terjadi potensi B0 di suatu titik serah.
Berita Terkait
-
Gandeng Kementerian ESDM, PGN Pastikan Keselamatan Industri Migas
-
Raih IPEA 2021, Kinerja Unggul Pupuk Kaltim Jadi Role Model Industri Tanah Air
-
Hulu Migas Tetap Perlu Perhatian, Insentif Dinantikan untuk Genjot Produksi
-
Karena IKN, Balikpapan Mulai Beralih ke Energi Baru Terbarukan, Apa Tuh?
-
Masih Ada Wilayah yang Gelap, Rasio Elektrifikasi Belum Capai 100 Persen
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
Pilihan
-
Mencekam! SPBE di Cimuning Bekasi Terbakar Hebat, Langit Malam Berubah Merah
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
Terkini
-
Sambangi Korsel, Bahlil Hasilkan 3 Kerja Sama Strategis di Sektor Energi
-
Tak Asal Tanam, Petani Sawit Mulai 'Melek' Gunakan Metode Ilmiah
-
Sumbang Rp 4,96 T, ITDC Beberkan Efek MotoGP ke Ekonomi RI
-
Menaker: WFH Tidak Boleh Kurangi Gaji dan Tunjangan Karyawan
-
Ekonom Beberkan Solusi Agar APBN Tak Terbebani Subsidi Energi
-
WFH Seminggu Sekali untuk Swasta Tak Harus Setiap Jumat
-
Dorong WFH 1 Hari dalam Sepekan, Menaker Pastikan Hak Pekerja Tak Dipangkas
-
Dana SAL Rp 420 Triliun, Purbaya Buka Opsi Pakai Kas Pemerintah demi Amankan APBN
-
Imbauan WFH 1 Hari Seminggu di Sektor Swasta Dapat Dukungan Pengusaha dan Pekerja
-
Purbaya Proyeksi Defisit APBN 2026 Tembus 2,9% Meski Harga Minyak Terus Naik