Suara.com - Bank Sentral Rusia menegaskan niat mereka untuk melarang kripto di negaranya. Bersama dengan tujuan ini, sejumlah bank di Rusia bersiap melakukan uji coba pada rubel digital.
Melansir dari Kantor Berita Rusia, Tass, saat ini sejumlah bank di Rusia bersiap sedang bersiap untuk terjun ke tahap uji coba rubel digital dan beberapa sudah menguji transaksi dengan mata uang tersebut dengan menggunakannya sebagai pembayaran antara konsumen (C2C) dan Bank sentral.
Pada akhir tahun 2021, Bank Sentral Rusia sudah menyelesaikan prototipe platform rubel digital dan mulai melakukan transaksi.
Sekitar 12 bank telah diundang untuk bergabung dalam tahap pertama ujicoba ini. Di antaranya adalah Promsvyazbank (PSB) dan Tinkoff Bank yang belum lama ini mengakuisisi Aximetria, perusahaan yang bergerak di bidang kripto. Bank besar Rusia lainnya, VTB, mengatakan infrastrukturnya siap untuk menguji coba rubel digital.
Bank lain yang ikut serta dalam uji coba tahap pertama adalah Ak Bars, Alfa-Bank, Dom.rf Bank, Gazprombank, Rosbank, Sberbank, Bank Soyuz, dan Transcapitalbank.
“Beberapa aspek uji coba adalah pengintegrasian dengan platform rubel digital (bank sentral) dan pengenalan layanan seperti membuka dompet melalui aplikasi selular dan transfer rubel digital antar individu,” tulis keterangan terkait, mengutip dari Blockchainmedia.
Vitaly Kopysov dari SKB-Bank mengatakan, rubel digital akan membantu pengembangan layanan pembayaran nasional baru bagi warga negara dan perusahaan.
“Rubel digital akan memberikan dorongan tambahan untuk penciptaan layanan pembayaran digital offline, sehingga perusahaan atau toko, misalnya di daerah pelosok yang tidak punya akses Internet, tetap bisa menggunakannya,” sebut Kopysov.
Langkah ini sendiri oleh pakar dianggap sebagai langkah 'melawan' dari pemerintah akibat banjir kripto belakangan ini.
Baca Juga: Bank Indonesia Akui Jadi Korban Ransomware
Dengan teknologi Blockchain, pengiriman mengirimkan fiat money, seperti dolar AS dan euro tak lagi menggunakan layanan perbankan dan tidak perlu adanya bank sentral sehingga, normal rasanya bank sentral merasa terancam.
Keunggulan seperti ini tentu saja meniadakan kendali sistem moneter oleh bank sentral. Bagi pemegang kuasa keuangan negara seperti ini, rubel digital adalah jawaban terhadap blockchain-kripto, berharap warga beralih ke rubel wujud baru ini, yang diklaim sama efisien.
Maka tidaklah heran, beberapa hari yang lalu Bank Sentral Rusia mengusulkan larangan luas dan tegas, terhadap semua entitas yang terkait kripto, termasuk bisnis penambangan Bitcoin yang kian menjamur di wilayah utara bumi itu, pasca Tiongkok “membumihanguskan” layanan terkait kripto dan tambang kripto di dalam negeri.
Bank Sentral Rusia sendiri mulai mempertimbangkan rubel digital sebagai bentuk CBDC pada tahun 2020. Kala itu masih banyak bank di dalam negeri yang menolaknya, karena dianggap justru mengurangi nilai bisnis perbankan, pasalnya rekening bank personal sangat memungkinkan berada di sistem bank sentral, bukan di sistem bank komersial.
Berita Terkait
-
Antisipasi Serangan Militer Rusia, AS Desak Warganya Tinggalkan Ukraina
-
Bank Sentral Rusia Usul Larangan Penambangan dan Aktivitas Bursa Kripto
-
Di Tengah Ketegangan dengan Barat, Rusia Kirim 2 Batalyon Rudal S-400 ke Negara Ini
-
Sehari Setelah Diperingatkan Joe Biden, Rusia Kerahkan Ratusan Kapal Perang
-
Bank Indonesia Akui Jadi Korban Ransomware
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
Masyarakat Indonesia Doyan Gunakan Pinjol, Utangnya Tembus Rp100,69 Triliun
-
Amankan BBM, Bahlil: RI Tak Pilih-Pilih Pasokan
-
Bursa Saham RI Merah pada Sesi I, Betah di Level 6.900
-
Trump Singgung 'Hari Pemusnahan' Iran: Ancam Ekonomi Global, Harga Minyak Terbang!
-
Utang Pinjol Warga RI Tembus Rekor Rp100 Triliun, Mulai Banyak yang Gadai Barang
-
Kekayaan Donald Trump Meningkat jadi Rp107 Triliun di Tengah Konflik Perang
-
Elnusa Perkuat Transformasi Sebagai Low-Cost Operator, Targetkan Efisiensi Operasi Hingga 25%
-
Sah! Menkeu Purbaya Restui Penggunaan Dana Desa Untuk Kopdes Merah Putih
-
IHSG Babak Belur Terkoreksi 14%, Asing 'Kabur' Rp 23,34 Triliun dari Pasar Saham
-
BREN dan DSSA Masuk List HSC, Harga Sahamnya Anjlok di Tengah Ancaman Delisting