- Pada awal 2026, Bitcoin menguji korelasi terbaliknya karena Indeks Dolar AS (DXY) mengalami pelemahan signifikan.
- Data menunjukkan korelasi positif BTC dan Dolar AS sejak 2025, menantang pola historis sebelumnya mengenai aset berisiko.
- Harvard Management Company mengurangi kepemilikan ETF Bitcoin, namun menambah investasi besar pada produk ETF Ethereum.
Suara.com - Pasar kripto global tengah menyaksikan pergeseran fundamental yang tidak biasa pada awal tahun 2026. Koin kripto terbesar, Bitcoin (BTC), kini tengah diuji konsistensinya dalam merespons pelemahan nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS).
Secara historis, Bitcoin dikenal memiliki korelasi terbalik terhadap Greenback, namun data terbaru menunjukkan anomali yang menantang pakem tersebut.
Indeks Dolar AS (DXY) terpantau berada dalam jalur penurunan mingguan. Berdasarkan data posisi perdagangan, sentimen investor terhadap dolar saat ini berada pada titik paling bearish (lemah) dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Pada jam perdagangan AS hari Jumat pekan lalu, Indeks DXY berada di kisaran 96,9. Meski naik tipis 0,1% secara harian, indeks ini mencatatkan penurunan mingguan sebesar 0,6%.
Analis dari Bank of America (BofA) Securities mencatat bahwa paparan terhadap dolar telah jatuh di bawah level April 2025, menandakan posisi terlemah sejak pengumpulan data mereka dimulai pada tahun 2012.
Meskipun kekhawatiran atas independensi Federal Reserve mulai mereda pasca pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Fed, BofA melaporkan bahwa perubahan ini belum memicu permintaan baru terhadap aset AS maupun dolar.
Investor justru meningkatkan rasio lindung nilai (hedging) valuta asing dan mulai mendiversifikasi cadangan mereka menjauh dari dolar.
Namun, penguatan data tenaga kerja AS yang lebih baik dari perkiraan berpotensi menahan sentimen negatif tersebut dalam jangka pendek, memberikan napas bagi mata uang Paman Sam.
Hubungan Bitcoin dan Dolar AS
Baca Juga: Tekan Biaya Transaksi Demi Likuiditas, Strategi Jangka Panjang Industri Kripto Nasional
Emmanuel Musa dalam artikelnya di News BTC menyebut, pelemahan dolar biasanya menjadi angin segar bagi Bitcoin.
Dolar yang lebih lemah membuat BTC lebih murah bagi pembeli internasional dan melonggarkan kondisi keuangan global, yang sering kali menguntungkan aset berisiko.
Namun, hubungan tersebut kini berbalik arah. Sejak awal 2025, Bitcoin dan DXY justru menunjukkan korelasi positif. Berikut adalah beberapa fakta performa pasar:
- Tahun lalu, dolar merosot 9% dan tahun ini turun lagi 1%, namun Bitcoin justru ikut terkoreksi 6% pada tahun 2025 dan anjlok 21% secara year-to-date (YTD).
- Korelasi 90 hari antara BTC dan dolar baru-baru ini menyentuh angka 0,60—level tertinggi sejak April 2025.
Artinya, jika tren korelasi positif ini terus berlanjut, penurunan dolar yang lebih dalam tidak lagi secara otomatis akan mendongkrak harga Bitcoin.
Sebaliknya, posisi bearish dolar yang sudah terlalu sesak memunculkan risiko short squeeze, di mana pantulan harga dolar yang tiba-tiba justru berpotensi mengangkat nilai dolar dan BTC secara bersamaan.
Di tengah ketidakpastian korelasi ini, raksasa dana abadi Harvard Management Company dilaporkan melakukan reposisi portofolio pada kuartal keempat.
Harvard memangkas kepemilikan mereka pada ETF Bitcoin spot, namun secara mengejutkan menyuntikkan dana sebesar 86,8 juta dolar AS ke dalam produk ETF Ethereum (Ether) milik BlackRock.
Langkah ini menunjukkan adanya pergeseran minat institusional yang mulai mendiversifikasi aset digital mereka ke ekosistem kontrak pintar (smart contract), di tengah dinamika korelasi Bitcoin dan makroekonomi yang semakin kompleks.
DISCLAIMER: Artikel ini merupakan ringkasan informasi mengenai kondisi pasar keuangan dan kripto per Februari 2026. Investasi pada aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum memiliki risiko volatilitas yang sangat tinggi. Performa masa lalu, termasuk pola korelasi dengan dolar AS, tidak menjamin hasil di masa depan.
Berita Terkait
-
Harvard Borong Ethereum Rp1,4 Triliun, Pasar Kripto Kembali Bergairah
-
Kepercayaan Pengguna Antar CEO Indodax Jadi Sosok Berpengaruh Lini Aset Digital
-
Investor Kripto Indonesia Mencapai 20,19 Juta, Indodax Sukses Bukukan Transaksi Rp201 Triliun
-
Antusiasme Tinggi, Waitlist Beta Bittime Flexible Futures Batch Pertama Gaet Ribuan Partisipan
-
Bitcoin Terjepit di Level USD 67.000, Bearish Mengintai
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Titipan Politik di Kursi Komisaris dan Direksi Makin Kuat di BUMN, Ini Datanya
-
Modal Asing yang Kabur dari Pasar Modal Tembus Rp19,63 Triliun, Apa Penyebabnya?
-
Panen Raya Jadi Bukti! Teknologi Benih Dongkrak Produktivitas Jagung
-
OJK Tutup 36.191 Rekening Judi Online, Perbankan Diminta Perketat Pengawasan
-
Kementerian PU Jelaskan Kunker Menteri Dody dan Keluarga ke New York Jelang Final Piala Dunia
-
Sebanyak 81 BPR Akan Digabung Menjadi 24 hingga Juni 2026
-
Danantara Lebur 4 BUMN Manajer Investasi
-
Ribut-ribut Soal Skema Bagasi Pesawat, Mana yang Lebih Baik?
-
Tiga Perusahaan RI Tersandung Sengketa Bisnis sama Malaysia, Kapal-kapal Ditahan
-
Transaksi Kripto Naik di Mei 2026