Suara.com - Sebagai negara dengan populasi lanjut usia terbesar ke-5 di dunia, Indonesia memiliki potensi pasar yang besar untuk produk dan pelayanan kesehatan bagi lansia. Untuk itu, inovasi dan riset di bidang geriatri terutama oleh peneliti dalam negeri perlu didorong guna meningkatkan kualitas hidup lansia di Indonesia.
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dante Saksono Harbuwono dalam Webinar Kolaborasi Riset Penuaan Sel di acara Peresmian Labotorium Gerontologi FKUI, menjelaskan saat ini jumlah populasi lansia di Indonesia mencapai 29,3 juta (10,8% dari total populasi). Angka Harapan Hidup (AHH) di Indonesia pun telah meningkat signifikan dalam 60 tahun terakhir dari 46,66 tahun menjadi 71,72 tahun.
Meski begitu, masih ada isu besar yang dialami lansia di Indonesia terutama 52% lansia memilih untuk berobat sendiri jika ada keluhan.
"Inilah masalah yang kita hadapi. Di satu sisi AHH meningkat, tetapi lansia cukup memiliki potensi masalah kesehatan yang besar," ungkap Dante ditulis Rabu (30/3/2022).
Pemerintah telah menerbitkan Perpres No. 88 tahun 2021 untuk menjamin peningkatan derajat kesehatan dan kualitas hidup lansia. Indikatornya adalah meningkatnya status gizi dan pola hidup sehat, memperluas pelayanan kesehatan bagi lansia, menurunkan angka kesakitan lansia, dan memperluas cakupan perawatan jangka panjang bagi lansia.
Hal senada juga disampaikan Dr Raymond Tjandrawinata dari Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences, sekaligus Anggota Scientific Board IMERI, bahwa Indonesia memerlukan peneliti profesional untuk mengupayakan riset dan inovasi.
"Kita perlu peneliti profesional, sehingga mendapatkan obat, prosedur hingga alat kesehatan baru buatan Indonesia. Hari ini Bapak Presiden Jokowi sudah mengatakan mengapa kita banyak impor. Kita impor untuk alat kesehatan dan lainnya, sehingga riset dan inovasi perlu terus kita upayakan," kata Dr. Raymond.
Dr. Raymond juga menjelaskan penyebab utama kematian pada kelompok usia secara global, di antaranya penyakit jantung (9,4%), stroke (5,7%), COPD (3%), kanker (1,7%), dan diabetes (1,5%). Menurutnya, peneliti dalam negeri perlu berdedikasi pada penelitian dan pengembangan obat-obatan untuk masalah kesehatan tersebut. Adapun area penelitian Area research yang bisa dilakukan untuk lansia, seperti onkologi, imunologi, antidiabetik, neurologi, dan kardiovaskular.
"Sebagai contoh di Amerika Serikat, rasio kesembuhan kanker meningkat, seperti kanker prostat dari 67% menjadi 98%, tiroid dari 92% menjadi 98%. Ini yang kita harapkan untuk menciptakan riset-riset baru untuk membawa Indonesia menjadi lebih sehat, terutama karena penderita kanker kebanyakan eldery patients. Ini tentunya membutuhkan banyak penelitian dan dedikasi para peneliti," ujar Dr Raymond.
Baca Juga: Agar Tetap Bugar, Ini Tips Puasa Ramadhan Bagi Lansia Dari Dokter Senior
Lebih lanjut Dr. Raymond menekankan perlunya meningkatkan pelayanan kesehatan primer dan sekunder terutama untuk perawatan lansia jangka panjang, termasuk manajemenen penyakit degeneratif dan kronik.
"Kita perlu infrastuktur dan investasi di perawatan geriatri. Kemudian biaya perawatan lansia yang relatif masih tinggi, kalau produk-produk dibuat di Indonesia mungkin dapat lebih murah. Digital teknologi juga akan membantu pemerintah dan fasilitas kesehatan untuk penanganan lansia," kata Dr. Raymond.
Beliau mengungkapkan bahwa Indonesia mempunyai generasi usia menengah dengan pendapatan tinggi yang berpotensi untuk kemajuan geriatri di masa mendatang.
"Produk yang perlu diprioritaskan meliputi fasilitas kesehatan, nursing home, alat kesehatan, geriatric care. Produk lainnya untuk penelitian di Indonesia yaitu nursing care, fasilitas pengamanan kamar mandi, popok lansia, hingga produk anti-aging," jelasnya.
Meski begitu, Indonesia mengalami masalah untuk penanganan lansia karena healthcare spending per kapita masih rendah di angka 2,9% dibandingkan Singapura sebesar 4,1% dan Kamboja sebesar 7%. Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan belanja kesehatan untuk meningkatkan kualitas kesehatan di Indonesia.
"Pasien geriatri akan meningkat, dan kita membutuhkan cara yang holistik untuk memastikan mereka memiliki kualitas hidup yang baik. Tidak hanya angka geriatri meningkat, tapi angka harapan hidup juga meningkat. Penggunaan obat juga masih rendah termasuk pasien geriatri. Indonesia pelru tingkatkan healthcare spending pada investasi dan riset terkait geriatri agar kualitas hidup semakin baik di masa depan," pungkas Dr. Raymond.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Dukung Industri Kreatif, JNE Jadi Official Logistics Partner Dalam Gelaran Let Them Eat Art
-
Kebijakan DMO Jaga Harga Minyak Goreng Tetap Stabil
-
14 Cara Mendapatkan Uang dari HP untuk Penghasilan Tambahan
-
Gandeng OpenAI, Novo Nordisk Percepat Revolusi AI di Sektor Kesehatan
-
Danantara Kantongi Dividen Rp16,67 Triliun dari BBRI, Sinyal Positif Bagi Pasar
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Jambi Tembus 2.775 TEUs di Maret 2026
-
5 Langkah Praktis Top Up Token Listrik di Blibli
-
Impor Minyak Rusia Mulai Dieksekusi Bulan Ini
-
Mengapa Prabowo Membeli Minyak Rusia?
-
Kerja Sama Energi RIRusia Makin Kuat, Pasokan Minyak dan Investasi Kilang Segera Masuk