Suara.com - Imbas perang antara Rusia dengan Ukraina berbuah sanksi dari negara barat untuk negara beruang merah. Kondisi tersebut berimbas pada naiknya sejumlah harga komoditas yang merangkak naik tidak karuan, seperti pupuk.
Terkait kenaikan harga pupuk, Rusia selama ini menjadi salah satu pengekspor utama kalium, amonia, urea, dan nutrisi tanah lainnya yang menjadi bahan dasar membuat pupuk. Hal tersebut yang kemudian mendongkrak harga pupuk menjadi lebih mahal.
Kondisi ini pun tak luput dari perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi) seperti pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/4/2022). Dalam sidang tersebut, Jokowi berencana untuk membatasi pemberian subsidi pupuk.
"Bapak Presiden juga meminta perhatian untuk kenaikan harga pupuk karena pupuk juga naik, dan dilihat dari penggunaan dalam negeri, ada yang subsidi dan nonsubsidi. Nah tentu akan ada pembatasan terkait dengan komoditas," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara.
Meski begitu kata pemberian subsidi pupuk untuk komoditas tertentu tetap akan diberikan pemerintah, seperti komoditas padi, jagung, kedelai, bawang merah, cabai, tebu hingga kakao.
Di sisi lain, Airlangga menambahkan pemberian pupuk subsidi juga akan dipersempit hanya pada pupuk jenis Urea dan NPK.
"Kemudian tentu pupuk yang disubsidi juga mulai dibatasi, urea dan MPK," katanya.
Saat ini kata Airlangga kedua harga pupuk tersebut terbilang naik cukup tinggi, untuk Urea saja saat ini harganya mendekati USD 1.000 per ton. Untuk jenis potas dan tassel, Indonesia merupakan importir pupuk, salah satunya dari Ukraina.
"Oleh karena itu bapak presiden mewanti-wanti agar subsidi pupuk nanti tepat sasaran, para petani bisa menerima pupuk sehingga tentunya harga pupuk tidak membuat kelangkaan pupuk dan tentunya pada akhirnya mendorong ketersediaan pangan yang aman," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Ramadan Jadi Momentum Refleksi Finansial, Nanovest Ajak Investor Susun Portofolio Sehat
-
S&P Peringatkan Indonesia soal Tekanan Fiskal, Ada Risiko Penurunan Rating
-
Kementerian ESDM: Perusahaan Amerika Tetap Harus Investasi Jika Mau Akses Mineral Kritis Indonesia
-
Belanja Pakaian Naik Tapi Pabrik Tekstil Boncos, Kemenperin: Impor Terus
-
BRI Cetak Laba Rp57,13 Triliun di 2025, Kredit Tumbuh 12,3% dan NPL 3,07%
-
Indeks Kepercayaan Industri Merosot di Februari ke Level 54,02
-
Tanpa Tim HR, UKM Kini Bisa Rekrut Karyawan Pakai AI
-
Menkop Mau Evaluasi Jarak Alfamart-Indomaret dengan Pasar Tradisional
-
Gandeng Inggris, OJK Pecut Perbankan Percepat Pembiayaan Iklim
-
56,3 Juta Pengguna QRIS, Indonesia Jadi Target Ekspansi AI Perbankan