Di Indonesia, pemerintah juga terus mencari sumber pendanaan baru dengan mengeluarkan baik Obligasi Retail Indonesia maupun Obligasi Pemerintah Jangka Panjang bersuku bunga 4,9% per tahun. Ini dilakukan untuk mendapatkan dana dengan cost of capital yang lebih rendah, sebelum inflasi meningkat lebih tinggi, sehingga menyebabkan real return dari obligasi tersebut menjadi rendah.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,5%. BI juga berusaha mengendalikan suku bunga perbankan melalui penetapan overnight deposit facility dan lending facility masing-masing sebesar 2,75% dan 4,25%.
Ini dilakukan untuk mengantisipasi inflasi yang menjadi 3,74% per April 2022, dan bisa saja naik signifikan hingga akhir tahun 2022. Jika ini terjadi tentu kurang menguntungkan bagi perekonomian Indonesia.
Ditopang Ekspor
Pada kuartal I-2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,01%. Kinerja ini lebih baik ketimbang China yang tumbuh 4,8% atau AS yang bahkan tumbuh negatif 1,4%.
Membaiknya kinerja perekonomian itu terutama ditopang oleh sektor ekspor, khususnya ekspor CPO dan batubara. Meski begitu ekspor barang mentah seperti ini tidak bisa terus menerus dipertahankan.
Para dosen PresUniv juga mencatat, meski perekonomian Indonesia tumbuh 5,01%, beberapa sektor industri kinerjanya masih kurang menggembirakan. Contohnya di industri hospitality.
Kinerja perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bisnis ini masih belum sepenuhnya pulih. Masih banyak pegawai di industri tersebut yang kehilangan pekerjaan akibat lesunya ekonomi sebagai dampak dari pandemi Covid-19.
Jadi apa yang mesti dilakukan Pemerintah Indonesia untuk mempertahankan perekonomiannya dari dua masalah besar dunia tadi?
Baca Juga: Wahyudi Hidayat: Kratom Berpotensi Tumbuhkan Ekonomi Masyarakat Berbasis Ramah Lingkungan
Enam Langkah Strategis
Dosen-dosen PresUniv, sebagaimana dipaparkan oleh Chairy, mengusulkan enam langkah strategis. Pertama, untuk memperoleh dana, termasuk devisa, guna pembiayaan pembangunan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerintah perlu terus mendorong ekspor.
Hanya yang diekspor bukan lagi barang mentah, tetapi produk olahan atau barang jadi, yang nilai tambahnya lebih tinggi. Dengan cara seperti ini, pemerintah dapat sekaligus mendorong tumbuhnya kegiatan-kegiatan ekonomi yang bersifat inovatif dan kreatif, sehingga membuat perekonomian Indonesia menjadi lebih sustainable.
Dalam konteks ini, perguruan tinggi juga bisa memberikan kontribusi untuk perbaikan ekonomi Indonesia. Melalui kolaborasi dengan kalangan korporasi, perguruan tinggi dapat melakukan berbagai riset dan inovasi untuk mengolah barang mentah menjadi barang olahan atau barang jadi.
Momentum ini sekaligus juga bisa dimanfaatkan pemerintah untuk mendorong lahirnya entrepreneur-entrepeneur baru dari lingkungan perguruan tinggi. Untuk itu, tim dosen PresUniv mengusulkan agar pemerintah menurunkan tarif pajak bagi perusahaan-perusahaan rintisan (startup companies), baik itu berupa PPN atau PPh. Ini agar generasi milenial dan generasi Z tertarik memulai bisnis baru, terutama bisnis-bisnis yang berbasis inovasi dan kreativitas.
Selain itu, tim dosen PresUniv juga mengusulkan agar pemerintah bisa mengalokasikan kredit dengan suku bunga rendah bagi perusahaan-perusahaan rintisan, termasuk yang rintisannya berangkat dari universitas. Ini penting agar perusahaan-perusahaan rintisan tersebut tidak lagi mengandalkan pendanaannya dari berbagai skema pembiayaan yang bersuku bunga tinggi, seperti peer to peer lending atau pinjaman tanpa agunan, dan sebagainya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Hari Buruh Internasional, Serikat Pekerja Pegadaian Makassar Gelar Pekan Olahraga dan Seni
-
Emas Antam Terus Meroket, Hari Ini Harganya Rp 2,84 Juta/Gram
-
Ngeri! Macet Jabodetabek Rugikan RI Rp 100 T, BUMN Ini Punya Solusinya
-
BI dan ASEAN+3 Siaga! Ancaman Krisis Ekonomi Global Kian Nyata
-
Ruijie Luncurkan Cybrey di RI Biar UKM Bisa Pakai Jaringan Kelas Kakap
-
Tekan Beban Klaim BPJS Kesehatan, Produk Tembakau Alternatif Jadi Opsi Realistis?
-
Kredit Tembus Rp8.659 Triliun, OJK Pastikan Kondisi Perbankan Masih Kuat
-
Wall Street Kembali Melambung Tinggi Setelah Perang AS-Iran Akan Usai
-
Beda CNG dan LPG, Benarkah Lebih Murah dari Gas Melon 3 Kg?
-
Harga Minyak Dunia Turun Lagi Usai Iran Tinjau Proposal Damai Amerika Serikat