Suara.com - Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut ketahanan pangan Indonesia melemah pada tahun 2021 akibat perubahan iklim yang ekstrem.
Dia memaparkan skor indeks ketahanan pangan Indonesia pada tahun 2021 sebesar 59,2. Hal ini sangat jauh dibandingkan skor indeks pada tahun 2020 yang sebesar 161,2.
"Perubahan iklim memberikan dampak yang cukup signifikan terjadinya pengurangan produksi pertanian. Akibat kejadian iklim ekstrem yang dapat mempengaruhi pertanian," ujarnya dalam rakornas BMKG, Senin (8/8/2022).
Itu sebabnya, kata Luhut, kondisi itu harus menjadi perhatian semua pihak. Menurutnya, berdasarkan hasil COP26 di Glasgow pada 2021 lalu, untuk mengatasi perubahan iklim yang ekstrem melalui pengurangan emisi gas rumah kaca.
Saat ini, kata Luhut, tengah disusun peta jalan pengurangan emisi gas rumah kaca, termasuk untuk sektor pertanian.
"Kebijakan pangan sebagai kebijakan publik yang secara khusus lingkup produksi pemrosesan, pendistribusian, dan pemasaran dan juga faktor kewaspadaan atas iklim ekstrem perlu dilakukan untuk mendukung jaminan ketersediaan pangan secara lebih baik," kata dia.
Dari dalam negeri, Luhut mengungkapkan pemerintah juga mendorong pengurangan gas emisi rumah kaca dengan program ekonomi biru yang membuat laut lebih sehat sehingga produksi perikanan meningkat.
Selain, kata dia, Presiden Joko Widodo juga meminta para menterinya untuk melakukan upaya yang serius secara terintegrasi, agar indeks ketahanan tangan Indonesia pada tahun 2022 dapat meningkat kembali.
"Kewujudan ketahanan pangan nasiona ini dapat dicapai melalui ketersediaan bahan dan cadangan pangan, keanekaragaman konsumsi dan keamanan pangan serta pencegahan rawan pangan," kata Luhut.
Baca Juga: Utang Indonesia Tembus 7 Ribu Triliun, Luhut Binsar: Paling Kecil di Dunia!
Berita Terkait
-
Ubah Sampah Makanan Jadi Aksi Iklim: Jejak Food Cycle Indonesia Tekan Emisi dari Limbah Pangan
-
Harga Pangan Nasional 7 Mei 2026: Bawang Merah Meroket, Cabai dan Minyak Goreng Ikut Naik
-
Wamendagri Bima: Tantangan Perubahan Iklim Bukan Lagi Regulasi, Tetapi Eksekusi di Daerah
-
Harga Pangan Hari Ini: Bawang hingga Cabai Kompak Naik, Beras dan Minyak Goreng Ikut Terkerek
-
Anak Alami Dampak Iklim, Bagaimana Gim Interaktif Ini Jadi Solusi Kesenjangan Edukasi?
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Krisis Global? Tabungan Orang Kaya Semakin Gemuk
-
Lebih Rentan Meledak, Distribusi CNG Lebih Baik Lewat Jargas
-
Pertamina Jajaki SLB sebagai Mitra Teknologi, Perkuat Ketahanan Energi Nasional
-
Harga MinyaKita Mahal, Pedagang: Mending Beli Minyak Goreng yang Lain!
-
Laba Bank Jago Melonjak 42 Persen di Kuartal I 2026, Tiga Arahan Jadi Kunci
-
Dorong Reintegrasi Sosial, Kemnaker Siapkan Akses Kerja bagi Eks Warga Binaan
-
Integrasi Holding Ultra Mikro Jangkau 33,7 Juta Pelaku Usaha, Bukti BRI Berpihak pada Rakyat
-
Purbaya Bebaskan Pajak untuk Merger BUMN, Kasih Waktu 3 Tahun
-
Direktur Pegadaian Raih Penghargaan Women in Business Leadership 2026
-
Ukuran Tabung CNG 3 Kg Diprediksi Lebih Besar dan Berat dari LPG 12 Kg