Bisnis / Makro
Senin, 08 Agustus 2022 | 16:46 WIB
Ilustrasi Menteri Luhut Binsar Pandjaitan (Suara.com/Ema Rohima)

Suara.com - Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut ketahanan pangan Indonesia melemah pada tahun 2021 akibat perubahan iklim yang ekstrem.

Dia memaparkan skor indeks ketahanan pangan Indonesia pada tahun 2021 sebesar 59,2. Hal ini sangat jauh dibandingkan skor indeks pada tahun 2020 yang sebesar 161,2.

"Perubahan iklim memberikan dampak yang cukup signifikan terjadinya pengurangan produksi pertanian. Akibat kejadian iklim ekstrem yang dapat mempengaruhi pertanian," ujarnya dalam rakornas BMKG, Senin (8/8/2022).

Itu sebabnya, kata Luhut, kondisi itu harus menjadi perhatian semua pihak. Menurutnya, berdasarkan hasil COP26 di Glasgow pada 2021 lalu, untuk mengatasi perubahan iklim yang ekstrem melalui pengurangan emisi gas rumah kaca.

Saat ini, kata Luhut, tengah disusun peta jalan pengurangan emisi gas rumah kaca, termasuk untuk sektor pertanian.

"Kebijakan pangan sebagai kebijakan publik yang secara khusus lingkup produksi pemrosesan, pendistribusian, dan pemasaran dan juga faktor kewaspadaan atas iklim ekstrem perlu dilakukan untuk mendukung jaminan ketersediaan pangan secara lebih baik," kata dia.

Dari dalam negeri, Luhut mengungkapkan pemerintah juga mendorong pengurangan gas emisi rumah kaca dengan program ekonomi biru yang membuat laut lebih sehat sehingga produksi perikanan meningkat.

Selain, kata dia, Presiden Joko Widodo juga meminta para menterinya untuk melakukan upaya yang serius secara terintegrasi, agar indeks ketahanan tangan Indonesia pada tahun 2022 dapat meningkat kembali.

"Kewujudan ketahanan pangan nasiona ini dapat dicapai melalui ketersediaan bahan dan cadangan pangan, keanekaragaman konsumsi dan keamanan pangan serta pencegahan rawan pangan," kata Luhut.

Baca Juga: Utang Indonesia Tembus 7 Ribu Triliun, Luhut Binsar: Paling Kecil di Dunia!

Load More