Suara.com - PT PGN Tbk sebagai Subholding Gas Pertamina mengusulkan harga beli gas bumi dari hulu tertinggi sebesar USD 4,72 per MMBTU. Hal ini untuk mendukung pembangunan infrastruktur jaringan gas lebih masif.
Direktur Utama PGN Direktur Utama PGN M. Haryo Yunianto mengatakan, total pembangunan jargas rumah tangga hingga 2022 mencapai 982 ribu sambungan rumah (SR), terdiri dari 597.708 SR didanai APBN dan 382.652 SR berasal dari investasi PGN sebagai Subholding Gas Pertamina.
"Pada saat ini jargas yang sudah dikelola dan dibangun jargas yang sudah dibangun sebanyak 982 ribu SR," ujarnya di Jakarta yang dikutip, Kamis (2/2/2023).
Haryo menuturkan, pada 2022 pemerintah memutuskan untuk tidak menganggarkan pembangunan jargas dalam APBN, sehingga pembangunan infrastruktur tersebut dibebankan seluruhnya ke PGN.
"Pada 2022 APBN tidak menganggarkan kembali jargas sehingga kami diminta untuk melanjutkan program jargas," imbuhnya.
Dalam satu tahun pemerintah mencanangkan pembangunan jargas sebanyak 1 juta SR, namun karena kemampuan investasi PGN terbatas maka pembangunan jargas hanya mampu sebanyak 400 ribu SR.
Sebab itu pembangunan jargas tersebut perlu dilakukan dengan beberapa skema, yaitu Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) dan keterlibatan swasta.
"Kemampuan PGN karena investasi PGN sendiri di 400 ribu SR, harapannya sisa 600 ribu itu bisa dilakukan oleh pemerintah melalui KPBU dan swasta lain," tuturnya.
Haryo mengungkapkan, dalam berinvestasi PGN bertanggung jawab untuk juga mengembalikan investasi, walau tetap memberikan layanan ke masyarakat dengan harga yang murah. Dengan demikian perusahaan harus cari cara untuk tetap memiliki kemampuan membangun jaringan gas sesuai yang dicanangkan pemerintah.
Baca Juga: Ada Lagi Nih Bahan Bakar Pengganti BBM, Namanya CNG
Subholding Gas Pertamina pun mengajukan permohonan untuk mendapat dukungan penurunan harga gas dari sisi hulu, yaitu maksimal sebesar US$D4,72 per mmbtu. Sedangkan harga rata-rata saat ini sebesar USD 6,5 sampai 7 per mmbtu. Pasalnya harga gas tersebut PGN sulit melakukan investasi.
"Ini yang kami mohonkan kiranya kalau kami bisa suport untuk mendapatkan harga gas hulu itu maksimal di USD 4,72 per mmbtu, karena kami saat ini masih membeli gas hulunya dengan harga B to B ada yang 6,5 -7 hingga ini memberatkan memberatkan keekonomian investasi kami namun kami tetap menjalankan investasi itu, kami juga sudah menulis surat permohonan tersebut," pungkas Haryo.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
Terkini
-
Marak Transaksi Palsu di Tokopedia, Pemerintah Gregetan!
-
Soal Laporan ke KPK, ITDC Klaim Tak Punya Wewenang Atur Dana Relokasi Mandalika
-
Menkeu Purbaya Legalkan Pencucian Uang Lewat Patriot Bond?
-
Investor Asing Masih Asik Jual Saham di RI, BMRI dan DSSA Jadi Incaran
-
Lahan Meikarta Bakal jadi Aset Negara? Maruarar Segera Urus Legalitas
-
Terungkap! Dua PLTU Raksasa di Cilacap Sempat Bermasalah, Jadi Pemicu Pemadaman Bergilir di Jawa
-
Listrik Pulau Jawa Gelap Gulita, Siapa yang Bertanggung Jawab?
-
Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026
-
Rupiah Meriang Lagi! Ditutup ke Level Rp17.859 per Dolar AS
-
KOSPI dan IHSG Kompak Anjlok Parah, Pasar Saham Merana