Bisnis / Makro
Selasa, 04 April 2023 | 15:07 WIB
Kilang Pertamina Balikpapan meledak. (Antara)

Suara.com - PT Pertamina (Persero) mengklaim telah melakukan pengeluaran sebanyak USD600 juta untuk membuat ketahanan kilang mereka dua lapis lebih aman.

Pernyataan itu timbul setelah sejumlah rentetan kasus terbakarnya kilang milik Pertamina beberapa waktu terakhir, teranyar adalah insiden terbakarnya kilang Pertamina di Dumai, Riau pada Sabtu (1/4/2023) pukul 22.42 WIB atau pekan kemarin, satu bulan sebelumnya bahkan kilang Pertamina Plumpang, Jakarta juga ikut terbakar.

"Itu effort yang kita lakukan. Kita sudah spending sekitar US$600 juta untuk bangun ketahanan dua lapis itu," kata Nicke saat rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi VII DPR RI, Selasa (4/4/2023).

Nicke menjelaskan berdasarkan hasil audit terhadap sejumlah kilang yang pernah terbakar, ditemukan 4 faktor utama penyebabnya.

Pertama, Nicke menyebut karena faktor lightening atau petir. Oleh karena itu, Pertamina melengkapi kilang-kilangnya dengan lightening protection systems sebanyak dua lapis.

Kedua, penyebabnya adalah overflow (meluber), itu salah satu penyebab kebakaran.

Sedangkan faktor pemicu ketiga adalah kebocoran hidrogen. Pemetaan ini diambil dari kasus kebakaran kilang Balikpapan pada 4 Maret 2022. Dugaan yang sama terjadi di kilang Dumai.

"Kita ambil dari case Balikpapan, yaitu high temperature hidrogen attack, ini juga masuk di program kita. Dengan sudah dijalankannya high temperature hidrogen attack ini, kebocoran hidrogen di Dumai, case kemarin itu bisa kita padamkan dalam waktu 9 menit. Ini salah satu bukti bahwa program kita jalankan bisa meminimalkan risiko," ujar Nicke.

Faktor keempat adalah sulfidasi atau endapan sulfur. Ini diatasi dengan merevitalisasi kilang-kilang minyak agar bisa memproses sulfur tinggi.

Baca Juga: Pipa yang Terbakar di Kilang Minyak Dumai Telah Berumur 41 Tahun

"Kita sama-sama tahu kilang-kilang kita dengan teknologi lama hanya bisa proses yang sulfurnya rendah," katanya.

Load More