Suara.com - Direktur Utama PT Rekayasa Industri (Rekind) Triyani Utaminingsih menggelar roadshow ke sejumlah perguruan tinggi. Kehadirannya merupakan bagian dari upaya untuk memberikan gagasan, program, pembekalan sekaligus pengenalan tentang dunia EPC (Engineering, Procurement and Construction) yang melekat dalam keseharian Rekind.
Untuk kali pertama, wanita yang akrab disapa Yani tersebut memulai roadshow ke Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI). Yani yang hadir bersama Mohamad Agung, SVP Power, Fertilizer & Overseas Commercial Rekind itu, didaulat menggelar Kuliah Kapita Selekta Satu Sesi bertajuk “Peran Insinyur Teknik Kimia dalam Proyek EPC Industri,” di Fakultas Teknik, Kampus UI, Depok.
“Selain memperkenalkan dunia EPC, Rekind hadir untuk memotivasi para calon insinyur muda agar dapat berkarya dan membangun negerinya secara mandiri. Di samping itu para mahasiswa ini juga harus dibuka wawasan akademisnya mengenai berbagai jenis proyek dan bagaimana perusahaan EPC ini bekerja,” terang Yani ditulis Kamis (1/6/2023).
Sehingga, melalui gambaran ini akan semakin menumbuhkan rasa percaya diri dan kemampuan para insinyur Indonesia terutama dalam membangun bangsanya di bidang energi, petrokimia dan migas.
“Rekind selalu membangun sinergi yang kokoh dengan kampus. Kami bekerja sama mulai dari recruitment, research, internship dan tidak jarang kami berkolaborasi untuk mengerjakan proyek, FEED, atau troubleshooting permasalahan proyek. Tidak salah kalau ada yang menilai Rekind merupakan partner universitas, sekaligus tempat belajar dan rumah para insinyur untuk berkarya yang muaranya demi satu tujuan, maju bersama untuk Indonesia,” kata Yani menegaskan.
Menurutnya, Rekind dikenal sebagai pelopor dan pemimpin dalam sektor EPC. Awal mula Rekind didirikan oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1981 sebagai BUMN yang fokus pada pembangunan pabrik petrokimia. Pengakuan dan prestasi ini bisa diraih juga berkat dukungan maksimal insinyur-insinyur muda Rekind yang pantang menyerah dan haus akan pengetahuan EPC, karena sebelumya pengetahuan ini hanya didominasi perusahaan asing.
Seiring berjalannya waktu, perusahaan yang menginjak usianya ke 42 tahun ini mampu mengembangkan kompetensinya agar lebih maju di berbagai sektor industri.
“Kompetensi kami terus meluas, mulai dari petrokimia, oil & gas, mineral, geothermal, lingkungan hingga infrastruktur energi. Sampai detik ini kami terus mengerjakan proyek energi untuk perusahaan nasional dan multinasional. Ini semua juga berkat dukungan kuat dari para engineer muda Rekind,” sergah Mohamad Agung.
Petrochemicals juga merupakan bisnis kompetensi Rekind yang utama, dengan track record lebih dari 30 tahun. Semenjak itu, lanjut Agung, Rekind didaulat menjadi leader di regional Asia Tenggara untuk perusahaan rancang bangun fasilitas petrokimia dan kilang minyak.
Baca Juga: Rekind Mulai Garap Empat Proyek Services Baru
Dari banyak proyek yang diselesaikannya, Rekind merupakan perusahaan Indonesia pertama kali yang sukses menyelesaikan pembangunan pabrik pupuk di luar negeri, sehingga di tahun 2005 oleh The Federation of Engineering Institutions of Southeast Asia and Pacific (FEISAP) Rekind dianugerahi ASEAN Engineering Award.
Bidang operasi refinery, oil and gas, juga dikenal sebagai operasi yang menuntut keahlian teknis yang maju dan sama sekali tidak mengenal ruang kesalahan (error).
Untuk hal ini, Rekind lebih dari 1 dekade berpengalaman mengelola proyek kilang (refinery) dan migas untuk Perusahaan domestik dan internasional dengan pencapaian keselamatan kerja (safety) yang terbaik, berkualitas (quality) dan tepat waktu.
Diakui Yani, selain dukungan engineer muda, keberhasilan Rekind dalam pengerjaan proyek EPCC juga sangat bergantung dengan Manajemen Proyek EPC yang juga merupakan salah satu keunggulan atau diferesiansi Rekind. Manajemen Proyek EPC ini, menurut Yani layaknya kepala pada tubuh.
Di sini proyek direncanakan eksekusinya, disusun dan dikendalikan waktu dari setiap item pekerjaan. Selain itu juga dikontrol dan dicermati setiap biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan semua stakeholder.
“Kesuksesan Project berawal dari perencanaan yang tepat, cermat, dan optimum,” tegas Yani.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Parfum Wanita Tahan Lama di Alfamart untuk Silaturahmi Anti Bau
- 5 Mobil Murah 3 Baris Under 1500cc tapi Jagoan Tanjakan: Irit Bensin dan Pajak Ramah Rakyat Jelata
- Promo Superindo 17 Maret 2026, Diskon sampai 50 Persen Buah, Minyak hingga Kue Lebaran
- Timur Tengah Memanas, Rencana Terbangkan Ribuan TNI ke Gaza Resmi Ditangguhkan
- 5 Kejanggalan Video Benjamin Netanyahu Terbaru, PM Israel Beneran Tewas?
Pilihan
-
Trump Ditinggal Tangan Kanan, Direktur Kontraterorisme AS Joe Kent Mundur
-
Waspada Puncak Arus Mudik Besok! 187 Ribu Orang Bakal Padati Bandara Soekarno-Hatta
-
Rudal Iran Hantam Jantung Israel Malam Ini, Saksi Mata: Bumi Bergetar seperti Gempa
-
Ledakan Besar di Baghdad! Kedutaan AS Diserang Drone dan Roket
-
Timur Tengah Memanas, Rencana Terbangkan Ribuan TNI ke Gaza Resmi Ditangguhkan
Terkini
-
Minyak Dunia Tembus USD 100, Bahlil Bakal Hitung Harga BBM Setelah Maret
-
Bulog Gelar Mudik Gratis 2026, Berangkatkan 750 Pemudik ke 15 Kota
-
Menaker Soal Urbanisasi: Boleh Datang, Tapi Harus Siap Bersaing
-
Kemenhub Tegaskan Penerbangan Internasional Masih Tetap Beroperasi
-
Kisah Para Peserta Disabilitas di Mudik Gratis BUMN 2026: Kami Bahagia
-
Jaga Daya Beli Pasca Lebaran, Pemerintah Pastikan Tarif Listrik Tak Naik hingga Juni 2026
-
Sinergi Astra Financial Dukung Peningkatan Akses Kesehatan Belasan Ribu Orang
-
International Women's Day, PLN Perkuat Lingkungan Kerja Inklusif Bagi Perempuan
-
Purbaya Tetap Pede Target IHSG 'To the Moon' 10.000 Tercapai di Akhir Tahun
-
Disindir Ekonomi Lesu di Bawah Kepemimpinannya, Menkeu Purbaya Turun Gunung ke Pasar Tradisional