Suara.com - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Sunarso, menyatakan bahwa tujuan dari pembentukan Holding Ultra Mikro (UMi) adalah untuk memperluas akses pendanaan dan layanan keuangan kepada lebih banyak masyarakat dengan biaya yang seefisien mungkin.
"Spirit dari pembentukan Holding Ultra Mikro adalah agar seluruh institusi, termasuk institusi bisnis di bawah BUMN, dalam melayani masyarakat mikro dapat lebih efisien dan memiliki jangkauan yang lebih luas," kata Sunarso dalam diskusi "How Ultra Micro Holding Connects Finance to Millions in Indonesia" di Jakarta, Jumat.
Sejak dibentuk pada September 2021, Holding UMi telah memperluas akses layanan keuangan kepada masyarakat mikro dan ultra mikro di Indonesia, serta menjadi sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan bagi BRI Group.
Hingga saat ini, Holding UMi telah memberikan akses pendanaan kepada lebih dari 29 juta pelaku usaha ultra mikro dan terus fokus untuk memperluas akses bagi nasabah yang belum terlayani dengan produk dan layanan yang komprehensif.
Selanjutnya, Holding Ultra Mikro menargetkan dapat melayani 45 juta pelaku usaha sebagai nasabah pada tahun 2024. Holding UMi, yang merupakan kerjasama antara BRI, PT Pegadaian (Persero), dan Permodalan Nasional Madani (PNM), mencatat memiliki total 36,6 juta nasabah per September 2023, dari total jumlah masyarakat yang belum memiliki akses ke layanan keuangan formal (unbankable). Artinya, masih terdapat 8,4 juta orang yang harus dijangkau hingga tahun 2024.
Sunarso menyatakan bahwa potensi pembiayaan di segmen bisnis ultra mikro masih sangat besar, sehingga terdapat sumber pertumbuhan yang potensial dan melimpah di segmen tersebut.
Meskipun demikian, terdapat tantangan berupa biaya operasional dan risiko operasional yang tinggi karena melibatkan banyak orang dan lokasi. Oleh karena itu, digitalisasi dianggap sebagai salah satu solusi untuk mencapai efisiensi.
"Dengan digital kita bisa menyelesaikan persoalan operational risk yang tinggi dan operational cost yang tinggi," ujar Sunarso, dikutip dari Antara.
Pada 2018, terdapat 45 juta bisnis ultra mikro yang membutuhkan pembiayaan. Dari total tersebut, hanya 15 juta bisnis ultra mikro yang sudah terlayani oleh layanan keuangan formal, yang terdiri dari tiga juta bisnis UMi dilayani bank, tiga juta ke gadai atau pawn lending, enam juta ke group lending, 1,5 juta ke BPR dan 1,5 juta fintech.
Baca Juga: Datang Langsung ke Bank, Berapa Batas Penarikan Uang di Teller BRI?
Sementara, lima juta ultra mikro memenuhi kebutuhan pendanaan dari rentenir (loan shark) dan tujuh juta ke keluarga dan teman, sementara 18 juta tidak terlayani sama sekali.
"Di rentenir itu bunganya paling murah 100 persen di hitung tahunan dan sampai 500 persen setahun," tuturnya.
Selanjutnya, berdasarkan riset terakhir, Sunarso mengatakan bisnis ultra mikro yang membutuhkan pembiayaan meningkat menjadi 48 juta. Dari total tersebut, yang sudah tersentuh oleh layanan keuangan formal juga naik dari 15 juta menjadi 34 juta bisnis ultra mikro.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- Bukan Sekadar Estetika, Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang Dinilai Keliru Makna
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
International Crypto Exchange (ICEx) Resmi Diluncurkan, Apa Saja Kewenangannya
-
PMSol Mantap Ekspansi Solusi Maritim Lewat Ekosistem Digital Terintegrasi
-
Di Balik Layanan PNM, Ada Kisah Insan yang Tumbuh Bersama Nasabah
-
PEP dan PHE Catatkan Produksi Minyak Naik 6,6% Sepanjang 2025
-
Gelontorkan Rp 335 Triliun, Pemerintah Jamin Program MBG Tak Terkendala Anggaran
-
RI Gandeng China Kembangkan Energi Terbarukan dan Pembangkit Listrik dari Gas
-
Bahlil: Ada Oknum Tekan Lewat Medsos Agar Pemerintah Beri Kuota Impor ke SPBU Swasta
-
Fokus dari Hulu, Kementerian PU Bangun Puluhan Sabo Dam di Aceh
-
Stok BBM Wilayah Timur RI Terjamin Usai RDMP Balikpapan Terintegrasi TBBM Tanjung Batu
-
Produksi Minyak RDMP Balikpapan Tetap Jalan Setelah Dapat Pasokan Gas dari Pipa Senipah