Suara.com - Luas lahan sawah padi yang panen di Sulawesi Selatan (Sulsel) tahun lalu diperkirakan mencapai 970 ribu hektare lebih dengan produksi padi sebesar 4,88 juta ton gabah kering giling (GKG).
"Untuk produksi padi 4,88 juta ton gabah kering giling itu jika dikonversikan menjadi beras sekitar 2,80 juta ton," kata Kepala BPS Sulsel Aryanto di Makassar, Sabtu (2/3/2024).
Menurut Aryanto, puncak panen padi pada tahun 2023 terjadi pada bulan April, yang sama dengan tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2022. Pada bulan April 2023, luas panen padi mencapai 157,03 ribu hektare.
Pada bulan April 2022, luas panen padi mencapai 199,36 ribu hektare.
Sementara itu, luas panen padi pada bulan Januari 2024 mencapai 6,66 ribu hektare, dan potensi panen dari bulan Februari hingga April 2024 diperkirakan mencapai 238,67 ribu hektare.
"Dengan demikian, total luas panen padi pada Subround Januari−April 2024 diperkirakan mencapai 245,33 ribu hektare, atau mengalami penurunan sekitar 81,44 ribu hektare (24,92 persen) dibandingkan luas panen padi pada Subround Januari−April 2023 yang sebesar 326,77 ribu hektar," kata dia, dikutip dari Antara.
Untuk produksi padi di Provinsi Sulawesi Selatan sepanjang Januari hingga Desember 2023 mencapai sekitar 4,88 juta ton GKG, atau mengalami penurunan sebanyak 483,78 ribu ton GKG (9,03 persen) dibandingkan 2022 yang sebesar 5,36 juta ton GKG.
Produksi padi tertinggi pada 2023 terjadi pada bulan April, yaitu sebesar 803,56 ribu ton GKG sementara produksi terendah terjadi pada bulan Januari, yaitu sekitar 108,88 ribu ton GKG
Sementara itu, peningkatan produksi padi yang cukup besar pada 2023 terjadi di beberapa wilayah potensi penghasil padi seperti Kabupaten Bone yang memproduksi 486.323 ton, Wajo (366.576 ton), Sidrap (277.661 ton) dan Pinrang 260.586 ton.
Baca Juga: Harga Beras Sengat Inflasi, Februari 2024 Tembus 2,75 Persen
Ia menyebut tiga kabupaten/kota dengan produksi padi terendah yaitu Kota Parepare hanya produksi 2.213 ton, Kabupaten Kepulauan Selayar (3.687 ton) dan Kota Makassar 7.407 ton.
Selain itu, Aryanto menjelaskan sejak 2018 BPS telah bekerja sama dengan beberapa lembaga dalam penyempurnaan penghitungan luas panen dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA).
Lembaga tersebut yakni Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang kini bergabung dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kemudian Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Kementerian ATR/BPN), serta Badan Informasi dan Geospasial (BIG).
Dia mengatakan KSA memanfaatkan teknologi citra satelit yang berasal dari LAPAN dan digunakan BIG untuk mendelineasi peta lahan baku sawah yang divalidasi dan ditetapkan oleh Kementerian ATR/BPN untuk mengestimasi luas panen padi.
Penyempurnaan dalam berbagai tahapan penghitungan produksi beras telah dilakukan secara komprehensif tidak hanya luas lahan baku sawah saja, tetapi juga perbaikan penghitungan konversi gabah kering menjadi beras.
Berita Terkait
-
Harga Beras Februari Tertinggi dalam 3 Tahun Terakhir di DKI Jakarta, Apa Penyebabnya?
-
Ketika Lembaga Negara Soroti Kenaikan Harga Makanan di Warteg
-
Pratama Arhan Dikerubungi Wanita Korea Selatan, Pakai Sepatu Branded Setara Puluhan Meter Sawah di Blora
-
Dedi Mulyadi Panen Hujatan, Ambu Anne Lagi Bahagia: Nunduk ke Bawah Itu Perlu
-
Harga Beras Sengat Inflasi, Februari 2024 Tembus 2,75 Persen
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
Terkini
-
Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita
-
Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru
-
Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun
-
PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025
-
CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai
-
BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
-
Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026
-
PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen
-
Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun
-
Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara