Suara.com - Harga berbagai mata uang kripto di awal tahun 2024 ini memang sedang melejit, termasuk harga Solana. Mata uang kripto satu ini memang menjadi primadona di tahun 2023, dimana harganya sempat naik di akhir tahun dari 23,88 Dolar AS pada 1 Oktober ke 101,33 Dolar AS pada 31 Desember. Namun, pertanyaannya, apakah di tahun 2024 ini Solana masih memiliki potensi pertumbuhan yang sama dengan tahun lalu?
Artikel ini akan mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ada beberapa alasan mengapa Solana masih menjadi aset yang layak untuk tetap dipegang investor, yakni:
Banyak Penggunaan Praktisnya
Solana memang lebih mirip dengan Ethereum dibandingkan dengan Bitcoin. Serupa dengan Ethereum, Solana dapat difungsikan sebagai platform blockchain smart contract yang bisa digunakan untuk proyek-proyek terdesentralisasi seperti decentralized application (DApps) dan decentralized finance (DeFi). Selain itu, Solana juga sering menjadi platform alternatif untuk membuat NFT sebagaimana Ethereum.
Meskipun begitu, ada beberapa proyek-proyek Solana yang unik dan tidak dimiliki oleh Ethereum, seperti salah satunya Solana Mobile. Smartphone satu ini menggunakan sistem operasi berbasis Android yang dirancang khusus untuk mendukung aplikasi Web3, termasuk DApps yang menggunakan Solana sebagai platform blockchain utamanya.
Biaya Transaksi yang Kompetitif
Solana banyak menjadi pilihan banyak pengembang aplikasi kripto karena dikenal dengan biaya transaksinya yang jauh lebih rendah dibandingkan kompetitornya; apalagi jika disandingkan dengan fitur yang ditawarkan. Di tahun 2023, biaya dan volume transaksi Solana bahkan berbanding terbalik dengan Ethereum; volume transaksi Solana bisa puluhan kali lebih banyak dibandingkan Ethereum dengan biaya transaksi yang puluhan kali lipat lebih rendah.
Mengingat adanya kebutuhan biaya transaksi (yang biasa disebut dengan gas fees di Ethereum) untuk dapat menjalankan aplikasi terdesentralisasi, dan frekuensinya pun tidak sedikit, tak aneh jika perkembangan ekosistem Solana terus pesat dengan penawaran biaya transaksi yang murah. Hal ini pulalah yang membuat Solana unggul dalam scalability dibandingkan banyak mata uang kripto berbasis smart contract lainnya.
Jumlah Pengguna yang Banyak
Keunggulan-keunggulan yang ditawarkan Solana tentunya banyak menarik perhatian para pemegang aset kripto yang juga banyak menggunakan Solana sebagai alat transaksi. Rendahnya biaya transaksi tidak hanya membuat Solana menarik untuk para pengembang, tetapi juga para pengguna yang mengonsumsi jasa atau produk yang dikembangkan dari platform Solana; mulai dari item game berbasis NFT hingga jasa pinjaman P2P DeFi.
Jumlah pengguna aktif Solana, yang dihitung berdasarkan nomor alamat aktif harian (daily active address), memang meningkat pesat di akhir tahun 2023 dan berhasil melampaui Ethereum.
Memiliki Teknologi yang Inovatif
Mengingat umur Solana yang terhitung masih muda dibandingkan kompetitornya, perkembangan teknologinya cenderung pesat, salah satunya berkat bantuan ekosistemnya yang memang lebih luas dan juga bervariasi dibandingkan kompetitornya. Salah satu alasan scalability Solana lebih baik daripada kompetitornya terletak pada inovasi utama Solana yakni mekanisme konsensusnya yang dikenal dengan Proof of History (PoH).
Baca Juga: PINTU Konsisten Jadi Mitra Strategis Bappebti untuk Dorong Penguatan Industri Kripto
PoH bertindak sebagai "jam" terdesentralisasi untuk blockchain yang memberikan cara untuk mengatur waktu secara konsisten dan dapat diverifikasi di seluruh jaringan tanpa kebutuhan akan otoritas pusat. PoH menciptakan catatan sejarah yang terstruktur dalam blockchain, yang memungkinkan transaksi-transaksi dan peristiwa-peristiwa lainnya diurutkan dan diverifikasi dengan cepat.
PoH sendiri secara teknis adalah fungsi yang dapat diverifikasi (verifiable delay function) yang menghasilkan serangkaian timestamp terstruktur dengan kecepatan tinggi. Setiap timestamp dalam PoH berfungsi sebagai bukti bahwa suatu peristiwa telah terjadi pada saat tertentu dalam waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian, PoH memungkinkan blockchain Solana untuk mencapai throughput yang tinggi tanpa mengorbankan keamanan atau desentralisasi.
Kecepatan Proses Transaksi
Sejauh ini, Solana memang dikenal dengan kecepatan proses transaksinya, yang penting untuk fungsi kontrak pintar yang ditawarkannya. Sejauh ini, Solana mampu memproses 2.579 transaksi per detik, walau dari segi kapasitas, Solana sebenarnya bisa mengakomodasi hingga lebih dari 700.000 transaksi per detik.
Kapasitas ini jauh lebih tinggi dibandingkan yang ditawarkan oleh kompetitornya seperti Ethereum, Polygon (MATIC), dan Ripple (XRP). Ethereum, menyusul upgrade terbarunya, Dencun mampu mengakomodasi hingga 100.000 transaksi per detik. Kedua mata uang kripto tersebut memang memiliki kapasitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan Polygon (maks. 7.000 transaksi per detik) dan Ripple (maks. 1.500 transaksi per detik).
Kemampuan Solana untuk dapat memproses transaksi dengan jauh lebih cepat dibandingkan mata uang kripto kontrak pintar lainnya terletak salah satunya pada penggunaan mekanisme konsensus PoH, yang memungkinkan Solana untuk memproses transaksi secara paralel, tanpa perlu menunggu transaksi yang lebih dahulu cetak dalam ledger untuk selesai terlebih dahulu.
Kemampuan Interoperabilitas yang Unggul
Solana memungkinkan integrasi yang mulus dengan blockchain lain dan infrastruktur terkait melalui dukungan untuk teknologi jembatan (bridge technology), yang memungkinkan aset dan data untuk bergerak antara Solana dan blockchain lain dengan aman dan cepat. Teknologi jembatan Solana memanfaatkan standar komunikasi terbuka seperti JSON-RPC dan REST API untuk memungkinkan komunikasi antara Solana dan blockchain lain, serta memfasilitasi transfer aset lintas rantai.
Berita Terkait
-
Papan Pemantauan Khusus Tahap II Bikin Resah Investor Saham
-
Prabowo Buat IHSG Sesi 1 Pesta Pora Hari Ini, Saham Bank Jadi Buruan
-
Ada 'Udang' Dibalik Jokowi Jadikan Kawasan PIK dan BSD Proyek Strategis Nasional
-
Jokowi Perintahkan Tanah IKN Dijual ke Investor, Said Didu: Rakyat Diusir, Nasionalismemu Kau Gadaikan Ke mana?
-
Luncurkan Fitur Baru, IPOT Ungkap Kesulitan Investor Investasi Pasar Modal
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Pertamina dan POSCO International Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Rendah Karbon
-
Update Harga BBM SPBU Shell, BP dan Vivo saat Minyak Dunia Lewati USD 100 per Barel
-
Indonesia-Korsel Teken 10 MoU Senilai Rp 173 Triliun, Kerja Sama AI hingga Energi Bersih
-
IHSG Terus-terusan Anjlok, OJK Salahkan Sentimen Negatif Global
-
Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini
-
Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?
-
RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital
-
Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri
-
Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga
-
Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?