Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menutup rekening yang terhubung dengan judi online (judol). Hal ini agar penggunaan transaksi ilegal bisa dicegah.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengatakan penutupan rekening judol terus meningkat. Data penutupan rekening berasal dari laporan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
"Terkait pemberantasan judi online, kita meminta perbankan melakukan pemblokiran kurang lebih 8618 sebelumnya 8500 rekening itu data Kementerian Komunikasi dan Digital," kata Dian dalam video conferece Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, Selasa (4/3/2025).
Dia mengatakan penutupan rekening akan disesuaikan dengan data nomor identitas kependudukan. Hal ini agar bisa mengurangi transaksi ilegal dalam perjudian.
"Pengembangan laporan tersebut meminta perbankan menutup rekening dari nomer identitas kependudukan dan due illegence," jelasnya.
Sementara itu, Ketua DK OJK Mahendra Siregar mengatakan bahwa ekonomi Global masih stagnan. Hal itu terlihat dari tekanan harga di luar energi dan pangan masih cukup tinggi.
Kemudian, dari sisi geopolitik, upaya penyelesaian konflik Ukraina belum menemukan titik terang sekalipun telah dilakukan berbagai pertemaun tingkat internasional. Bahkan pertemuan terakhir antara Presiden AS dan Presiden Ukraina terlihat jelas tidak mencapai kesepakatan.
"Rencana penerapan tarif baru AS terhadap mitra dagang utamanya semakin pasti akan diterapkan dan hal itu tentu akan meningkatkan ketidakpastian di perekonomian, utamanya perdagangan global," jelasnya.
Lebih lanjut, Mahendra mengungkapkan perekonomian China cenderung stagnan dengan tingkat inflasi rendah di level 0,5% dan indeks harga produsen mengalami kontraksi. Sementara itu, PMI Manufaktur masih berada di zona ekspansi, meski turun ke level 50,1 pada Januari 2025.
Baca Juga: OJK Tekankan Transparansi, Keamanan dan Edukasi di Industri Kripto
"Sementara itu, bank sentral Tiongkok pertahankan suku bunga acuan menunjukkan pendekatan hati-hati dalam pelonggaran kebijakan moneter Tiongkok memperketat regulasi ekspor yang dapat berdampak pada perkembangan industri global," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
Terkini
-
Dasco: DPR Malam Ini Lembur Kerjakan UU P2SK, Akan Difinalisasi Besok
-
Dadan Hindayana Berencana MBG Dibagikan di Arab Saudi Sebelum Dicopot
-
Neraca Perdagangan RI Surplus 72 Bulan Beruntun di April 2026, Tapi Terendah dalam 5 Tahun
-
Impor RI Melonjak 25,21 Miliar USD April 2026, Sektor Migas Naik Tajam 82%
-
Premi Bisnis Baru Asuransi Jiwa Tumbuh 5 Persen
-
Demi Stok Tak Langka, ESDM Bisa Setiap Saat Stop Ekspor Perusahaan Migas
-
Asurasi Inhealth Ubah Identitas, Jamin Tak Kurangi Layanan ke Nasabah
-
Perusahaan Logistik Gali Cuan Bisnis Jastip di Ajang PRJ
-
Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Web3 Bakal Mengubah Karier dan Bisnis Masa Depan
-
Dana Asing Hengkang Rp 1,37 T Meski IHSG Menguat, Saham Prajogo Pangestu Jadi Sasaran