Suara.com - Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi nilai tukar rupiah akan mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, Rabu (19/3). Hal ini disebabkan oleh sentimen negatif domestik yang masih membayangi pasar keuangan Indonesia.
“Investor sedang menunggu hasil dan pernyataan dari Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) sore ini. Meskipun BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan, investor lebih fokus pada pernyataan BI terkait sentimen risk off yang memicu aksi jual besar-besaran (sell off) di pasar saham domestik, yang juga berdampak pada pelemahan rupiah,” jelas Lukman, dikutip via ANTARA di Jakarta, pada Rabu (19/3/2025).
Pada Selasa (18/3/2025), Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 11:19:31 WIB melalui sistem Jakarta Automated Trading System (JATS).
Langkah ini diambil setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 5%, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi domestik.
Sebgai informasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan sesi pertama hari ini, Selasa (18/3/2025). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ambrol sebesar 395,87 poin atau 6,12% ke level 6.076,08. Dengan penurunan ini, IHSG telah mengalami pelemahan lebih dari 14,18% dari level penutupan akhir tahun 2024 yang berada di posisi 7.079,9.
Menanggapi penurunan IHSG yang mencapai lebih dari 6%, BEI memutuskan untuk melakukan penghentian perdagangan sementara atau trading halt. Sebelumnya, BEI telah melakukan trading halt pertama kali setelah IHSG turun lebih dari 5%.
Langkah ini diambil sesuai dengan Surat Keputusan Direksi BEI Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020, yang mengatur panduan penanganan kelangsungan perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam kondisi darurat.
Beberapa faktor diduga menjadi penyebab pelemahan IHSG yang signifikan ini. Pertama, sentimen negatif global yang dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi dunia. Kedua, ketidakpastian kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) yang akan mengumumkan keputusan suku bunga dalam waktu dekat. Ketiga, tekanan dari pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar AS yang membuat investor asing melakukan aksi jual besar-besaran (sell off) di pasar saham domestik.
Selain itu, faktor domestik seperti kekhawatiran atas defisit anggaran, penurunan peringkat kredit, dan isu-isu politik juga turut memengaruhi sentimen investor. Hal ini menyebabkan indeks saham domestik terus mengalami tekanan dan mencapai level terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: Isu Sri Mulyani Mundur Bikin IHSG Merosot? Begini Komentar Dasco
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Lukman menjelaskan bahwa beberapa faktor yang menyebabkan penurunan IHSG dan pelemahan rupiah antara lain kekhawatiran investor terhadap pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, penurunan peringkat saham, serta isu pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani. Selain itu, dolar AS juga masih menunjukkan kekuatan yang signifikan didukung oleh data ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan.
Data terbaru menunjukkan bahwa pembangunan perumahan AS naik menjadi 1,5 juta unit dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,38 juta unit. Sementara itu, izin perumahan mencapai 1,456 juta unit, melampaui ekspektasi 1,450 juta unit. Produksi industri AS juga tumbuh 0,7%, lebih tinggi dari prediksi 0,2%, dan sektor manufaktur naik 0,9%, mengalahkan estimasi 0,3%.
“Meskipun indeks dolar AS terpantau turun akibat penguatan euro setelah parlemen Jerman menyetujui kenaikan belanja negara, dolar AS sebenarnya masih kuat. Hal ini didukung oleh data manufaktur dan perumahan AS yang lebih baik dari perkiraan. Sementara itu, sentimen domestik masih lemah akibat aksi sell off di pasar saham,” ujar Lukman.
Proyeksi Kurs Rupiah
Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah hari ini akan bergerak dalam kisaran Rp16.400-Rp16.550 per dolar AS. Pada pembukaan perdagangan pagi ini, rupiah tercatat melemah sebesar 87 poin atau 0,53% menjadi Rp16.515 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.428 per dolar AS.
Berita Terkait
-
IHSG Terjun Payung, Warganet Ngamuk ke Pemerintah: Mau Ngeles Apa Lagi?
-
IHSG Berpotensi Rebound Pasca Pelemahan Ekstrem Selasa Kemarin
-
Tak Ada Arahan Khusus dari Prabowo soal IHSG Anjlok
-
IHSG Anjlok Parah, Ernest Prakasa Yakin Buzzer Kesulitan Bela Pemerintah
-
Isu Sri Mulyani Mundur Bikin IHSG Merosot? Begini Komentar Dasco
Terpopuler
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Paling Murah, Performa Handal Multitasking Lancar
- 5 Shio yang Diprediksi Beruntung dan Sukses pada 27 Maret 2026
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Dari Kampung Halaman ke Jakarta, Pertamina Fasilitasi Arus Balik Lebaran
-
Update Terbaru, Dua Kapal Tanker PIS Usai Iran Berikan Respons Positif
-
Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak, Bandara Soekarno-Hatta Layani 187 Ribu Penumpang dalam Sehari
-
Pertamina Perkuat Budaya Hemat Energi, dari Kantor hingga Program untuk Masyarakat
-
Iran Respons Positif, Dua Kapal Pertamina Bakal Keluar Selat Hormuz?
-
Pasca - Lebaran, Ini Status Stok Pangan Nasional!
-
Bulog Bantah Isu Dirut Ahmad Rizal Ramdhani Rangkap Jabatan KABAIS TNI
-
Arus Balik Lebaran 2026: ASDP Prioritaskan Mobil Pribadi dan Bus di Ketapang Gilimanuk
-
Izin OJK Dicabut, Bank Neo Commerce : Layanan Nasabah Tetap Aman
-
BRI Hadirkan Tarik Tunai GoPay di 19.000 ATM & CRM