Suara.com - Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan 10 negara ASEAN sepakat untuk meningkatkan jaring pengaman keuangan regional mereka. Salah satunya dengan meluncurkan fasilitas pinjaman baru yang ditujukan untuk menanggapi krisis yang disebabkan oleh pandemi dan bencana alam dengan cepat.
Para pemimpin keuangan dari kelompok yang disebut ASEAN Plus Three sepakat pada pertemuan mereka di Milan, Italia, pada hari Minggu untuk mendirikan fasilitas baru di bawah pengaturan pertukaran mata uang mereka yang dikenal sebagai Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM).
CMIM, yang dibuat setelah krisis keuangan Asia 1997-98, dirancang untuk mendukung stabilitas keuangan regional dengan memungkinkan para anggota memanfaatkan jalur pertukaran mata uang. Fasilitas pembiayaan cepat yang baru akan memungkinkan para anggota untuk mengakses pembiayaan darurat tanpa syarat jika terjadi krisis keuangan yang timbul dari guncangan yang tiba-tiba.
"Kami percaya bahwa fasilitas CMIM yang baru ini akan meningkatkan ketahanan regional," kata kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan bersama dilansir dari Japan Today, Selasa (6/5/2025).
Saat ini, dana CMIM berjumlah 240 miliar dollar AS dalam bentuk cadangan devisa, dengan Jepang dan Tiongkok masing-masing menyumbang 76,8 miliar dollar AS, Korea Selatan 38,4 miliar dollar AS, dan 10 negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara menyumbang total 48 miliar dollar AS.
Dua fasilitas CMIM yang ada seperti instrumen resolusi krisis dan jalur pencegahan. Serta tidak pernah dimanfaatkan karena para anggotanya beralih ke sumber daya lain dengan proses pengambilan keputusan yang lebih sederhana seperti jalur pertukaran bilateral.
Sebagai informasi, CMIM, yang merupakan sebuah kontrak swap mata uang multilateral meliputi semua anggota ASEAN+3, dikembangkan dari jaringan swap bilateral CMI yang sekarang ada untuk memfasilitasi transaksi swap mata uang yang tepat dan berkelanjutan melalui pembentukan sebuah mekanisme pengambilan keputusan bersama di bawah satu kontrak.
Tidak hanya itu, Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) adalah pengaturan keuangan multilateral yang dirancang untuk memberikan dukungan finansial kepada negara-negara anggota ASEAN+3 (ASEAN dan Tiongkok, Jepang, Korea Selatan) dalam menghadapi krisis keuangan.
CMIM berfungsi sebagai mekanisme bantuan regional yang memungkinkan negara-negara anggota untuk saling membantu satu sama lain dalam situasi keuangan yang sulit. Kesuksesan peluncuran CMIM, bersama dengan pembentukan unit pengawasan regional yang independen, menunjukkan komitmen kuat dan usaha keras negara-negara anggota ASEAN+3 untuk lebih meningkatkan kapasitas regional dalam menjamin resiko buruk dan tantangan ekonomi global.
Baca Juga: BI Gandeng ASEAN+3 Sepakat Jaga Stabilitas Ketahanan Ekonomi
Sebelumnya, Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN+3 menegaskan komitmen bersama untuk menjaga stabilitas serta meningkatkan integrasi dan ketahanan kawasan melalui sejumlah inisiatif. Deputi Gubernur Filianingsih Hendarta mengatakan inisiatif tersebut meliputi upaya penguatan struktur pendanaan Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM), penguatan kerja sama pembiayaan regional (regional financing arrangement) melalui amendemen perjanjian CMIM untuk operasionalisasi Rapid Financing Facility(RFF).
Serta penguatan kapasitas fiskal melalui ASEAN+3 Fiscal Policy Exchange, pengembangan pasar keuangan melalui Asian Bond Markets Initiatives (ABMI), serta penguatan kapasitas AMRO guna mendukung resiliensi kawasan.
"Hal tersebut sejalan dengan dukungan Bank Indonesia terhadap penguatan kerangka CMIM agar CMIM tetap responsif, fleksibel dan dapat membantu negara anggota mengatasi tantangan ke depan," kata Filianingsih.
Dia juga menyampaikan respons kebijakan Bank Indonesia dalam menghadapi tantangan saat ini melalui penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Pandangan Bank Indonesia tersebut sejalan dengan pandangan Kementerian Keuangan yang menyampaikan bahwa sinergi terus dilakukan antara kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
-
Terpilih dari 600 Pendaftar, 9 Siswa Indonesia Lanjut Kuliah ke Jepang dengan Beasiswa Penuh
-
Stella Christie Dorong Mahasiswa dan Dosen RI Manfaatkan Beasiswa ke China
-
Industri China Lebih Pilih Kasih Beasiswa ke Mahasiswa Vokasi RI daripada Datangkan TKA
-
Analisis Taktik Afrika Selatan vs Korea Selatan, Siapa Melaju ke 32 Besar?
-
Bawa Nostalgia Musim Panas, NCT Wish Rilis Single Jepang 'Boy Meets Girl'
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
BPKH Diminta Tak Jadi 'Kasir' Kementerian, DPR Dorong Dana Haji Dikelola Lebih Mandiri
-
Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan di Puncak Penas XVII 2026
-
Delapan Dekade Bertransformasi, BNI Memperluas Dampak Lewat Inovasi dan Digitalisasi
-
Pasar Aplikasi Rp 2.700 Triliun Diburu TikTok
-
DPR Apresiasi Dian Siswarini karena Dividen PT Telkom Jadi yang Tertinggi
-
Komisi Ojol Turun Jadi 8 Persen, Suara Pengguna: Tarif Jangan Naik!
-
Siap-siap IPO, BEI Anggap RANS Entertainment Lolos dari Free Float
-
PLTU Pelabuhan Ratu Terus Gunakan Co-firing Biomassa dari Sorgum
-
Influencer Tak Bisa Lagi Asal Kasih Saran Saham dan Kripto, Begini Ketentuannya
-
Dian Siswarini Dipuji DPR, Telkom Kantongi Pendapatan Rp146,7 Triliun