Demikian pula, Korea Selatan mencatat pencapaian terbaiknya dengan lonjakan dari posisi ke-20 ke posisi ke-14.
Sebanyak 41 persen investor menyebut sektor teknologinya yang dinamis sebagai pendorong utama meningkatnya kepercayaan.
Investasi besar dari pemerintah di sektor semikonduktor yang juga menjadi faktor potensial di balik perubahan ini.
Sebanyak 82 persen investor yang berbasis di Asia Pasifik berencana untuk meningkatkan investasi FDI dalam tiga tahun ke depan.
Selain itu, 50 persen merasa lebih optimistis dibandingkan tahun lalu terhadap kondisi ekonomi di kawasan Asia Pasifik.
“Perkembangan pesat dalam bidang teknologi dan kinerja ekonomi di kawasan Asia Pasifik tengah membentuk ulang lanskap investasi kami. Lompatan Jepang dan pencapaian bersejarah Korea Selatan menunjukkan kekuatan inovasi serta fundamental pasar yang solid, bahkan di tengah langkah tarif baru dari Amerika Serikat yang menambah kompleksitas dalam dinamika perdagangan global,” ujar Shigeru Sekinada, Regional Chair, Asia Pasifik, Kearney.
“Tren-tren ini semakin menegaskan bahwa investasi di bidang inovasi yang strategis dan visioner akan menjadi penggerak pertumbuhan yang berkelanjutan dan regeneratif di kawasan kita, di tengah dinamika global yang terus berkembang. Meski demikian, pelaku bisnis juga perlu melakukan perencanaan skenario saat menghadapi tarif dan bersiap terhadap risiko-risiko yang muncul. Sektor-sektor seperti otomotif dan manufaktur diperkirakan akan terdampak cukup berat, di samping tantangan biaya dan regulasi yang sudah ada,” ujar Shigeru Sekinada.
Hambatan Regional Membatasi Optimisme
Sentimen investor juga dipengaruhi oleh ketidakpastian yang meningkat. Sekitar 43 persen investor di Asia Pasifik yang disurvei memandang kenaikan harga komoditas sebagai perkembangan paling mungkin terjadi dalam satu tahun ke depan, naik tajam 14 persen dibandingkan tahun lalu.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Aplikasi Saham untuk Pemula, Investasi Jadi Mudah!
Kenaikan ini kemungkinan disebabkan oleh kekhawatiran investor terhadap meningkatnya konflik global dan gangguan rantai pasok yang berpotensi mendorong lonjakan harga komoditas.
Tiongkok turun dari posisi ke-3 ke posisi ke-6, mencerminkan tantangan ekonomi yang sedang berlangsung, termasuk krisis properti yang berkepanjangan dan meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok.
Meskipun demikian, inovasi teknologi di negara tersebut masih menjadi daya tarik, seperti yang tercermin dari peluncuran DeepSeek AI baru-baru ini.
Lebih lanjut, penurunan peringkat Singapura dari posisi ke-12 ke posisi ke-15 dan India dari posisi ke-18 ke posisi ke-24 menyoroti adanya peningkatan kekhawatiran terkait risiko perdagangan dan kompleksitas regulasi.
Shigeru Sekinada menambahkan: “Meskipun kawasan ini terus menunjukkan kekuatan yang signifikan, kami juga menyadari bahwa terdapat tantangan yang juga muncul di tengah lanskap global yang terus berubah. Sebagai contoh, tarif baru dari Amerika Serikat telah berdampak pada negara-negara Asia Tenggara serta penerima manfaat utama dari strategi China +1.
Terlepas dari tantangan tersebut, pasar Asia Pasifik tetaplah menarik berkat fundamentalnya yang kuat—seperti inovasi berbasis teknologi, talenta yang unggul, dan lingkungan bisnis yang mendukung.
Dengan kebijakan yang proaktif dan investasi strategis, kami yakin kawasan ini memiliki kesiapan yang baik untuk membuka nilai jangka panjang di tengah ketidakpastian global.”
ASEAN Bersinar di Antara Negara-Negara Berkembang
Kawasan Asia Tenggara terus menunjukkan performa unggul dalam Emerging Market Index yang diluncurkan oleh FDICI pada tahun 2023 untuk menyoroti pasar negara berkembang yang menarik bagi investasi asing langsung (FDI) dalam tiga tahun ke depan.
Tiga negara anggota ASEAN-6—Thailand, Malaysia, dan Indonesia—berhasil menempati posisi 15 besar. Para investor menyebut kualitas dan keterampilan tenaga kerja sebagai alasan utama berinvestasi di Indonesia (32 persen), Thailand (34 persen), dan Malaysia (30 persen).
Selain kualitas sumber daya manusia, Indonesia juga menonjol berkat kekayaan sumber daya alamnya (28 persen). Indonesia hadir sebagai destinasi utama untuk proyek greenfield, salah satunya ditandai oleh investasi senilai USD 11 miliar dari Xinyi Group, produsen kaca dan produk tenaga surya asal Tiongkok.
Upaya berkelanjutan Indonesia untuk membuka ekonominya terhadap Penanaman Modal Asing atau FDI telah berperan penting dalam mempertahankan posisinya pada urutan ke-12 pada tahun 2023, dan kembali mempertahankannya di peringkat tersebut pada tahun 2024.
Hal ini kontras dengan beberapa negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, Filipina, dan Vietnam yang mengalami penurunan peringkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejumlah reformasi yang ramah investor patut dicatat, mulai dari deregulasi, penegakan hukum yang lebih kuat, peningkatan kepastian berusaha, hingga insentif pajak yang beragam.
Perlu dicatat bahwa optimisme investor terhadap Thailand tetap tinggi, menjadikannya negara ASEAN dengan peringkat tertinggi setelah Singapura.
"Indonesia menawarkan peluang investasi yang sangat menarik, didorong oleh populasi muda, kelas menengah yang terus berkembang, serta lokasi yang strategis," ujar Shirley Santoso, Presiden Direktur Kearney Indonesia.
"Meskipun tantangan global dan kompleksitas regulasi masih menjadi perhatian, komitmen pemerintah Indonesia terhadap pengembangan infrastruktur dan reformasi regulasi telah menciptakan lingkungan investasi yang semakin menarik dan kompetitif." pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
Terkini
-
Tak Cuma AS, Pemerintah RI Siapkan 'Karpet Merah' DHE SDA Eksportir Asing
-
Perkuat GCG dan Efisiensi, Pengamat Apresiasi Tata Kelola BUMN
-
Danantara Sumberdaya Indonesia Beroperasi, Pemerintah Masih "Buta" Soal Target Kinerja
-
DSI Resmi Kelola Ekspor Mulai 1 Juni, Ada Bocoran Peran Dirjen Bea Cukai
-
Belajar dari 'TikTok', Rugi di Pasar Modal: Bahaya Investasi Berbasis Tren Media Sosial
-
Bisnis Gerai Minuman di Tengah Tekanan Ekonomi, Ada yang Tutup dan Berkembang
-
IHSG Ambles Tapi Aset Emiten Melesat Rp94 Triliun, Ini Penyebabnya
-
Harga CPO Anjlok Pertengahan Tahun 2026, Kemendag Ungkap Penyebabnya
-
Rincian Aturan Baru Pajak UMKM: CV, Firma, dan PT Baru Kehilangan Fasilitas PPh
-
Harga Pangan Kian Meroket: Cabai Merah Besar Tembus Rp107 Ribu, Beras Ikut Naik